Ramadhan kali ini terasa berbeda. Terlebih semenjak virus covid-19 mewabah, semua aktivitas diluar rumah harus dihentikan. Demi memutus rantai penyebaran Covid-19 yang kian masiv, aktivitas di kantor dialihkan menjadi bekerja dari rumah. Anak-anak sekolah diliburkan dan diganti dengan belajar online melalui media daring. Masjid pun ditutup, aktivitas sholat berjamaah di masjid dihentikan. Terhitung hampir 2 bulan ini semua aktivitas dilaksanakan di rumah saja. Hanya para aparat atau tenaga medis yang masih terlihat mondar mandir di jalanan atau bekerja di instansi terkait. Karena merekalah yang menjadi garda terdepan dalam memberantas penyebaran virus ini.

Rasanya Ramadhan tahun ini semuanya harus berjarak. Masih terbayang kemeriahan Ramadhan tahun lalu, dimana masjid dekat rumah selalu ramai oleh berbagai aktivitas, mulai dari buka bersama dengan takjil yang dikirim warga sekitar secara bergilir, sholat taraweh berjamaah sampai tadarusan hingga larut malam, bahkan I’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan makin melengkapi suasana masjid kala itu.

Bahkan, bagi aku yang notabene adalah warga pendatang, kadang selalu menyempatkan mudik di bulan Ramadhan. Dua tahun lalu kebetulan bulan Ramadhan bersamaan dengan hari raya Galungan dan Kuningan di Bali. Kebiasaan masyarakat Bali pada hari raya tersebut mereka mengisinya dengan sembahyang, sehingga aktivitas kantor dan kegiatan belajar di sekolah diliburkan selama dua minggu. Sementara aku memanfaatkan momen itu untuk menghabiskan bulan Ramadhan di Blitar.

Sungguh meriah Ramadhan kala itu. Terlebih bagi Fawaz yang suka mengikuti kegiatan ronda keliling untuk membangunkan sahur. Dengan mengikuti ronda keliling tentu memberikan kepuasan tersendiri bagi Fawaz. Namun kini, semenjak corona ini mewabah, Ramadhan pun terasa berbeda. Bahkan mudik pun tak dianjurkan. Pemberlakuan PSBB atau PSM di Bali, demi memutus rantai penyebaran virus covid-19. Kitalah yang hendaknya bijak menyikapi aturan pemerintah.

Beberapa sebelum Ramadhan datang, masjid didekat rumah masih memberikan akses bagi warga untuk ibadah berjamaah. Seakan tak peduli dengan himbauan pemerintah atau penyebaran virus covid-19 yang masiv, jamaah pun tetap berdatangan ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Himbauan penanggungjawab masjid pun seolah tak diindahkan. Sampai akhirnya mereka memberikan kebijaksanaan untuk mengunci pintu gerbang demi menghindari datangnya jamaah secara tiba-tiba. Bahkan setelah adzan berkumandang, penanggungjawab masjid masih memberikan pengumuman kepada warga sekitar untuk melaksanakan sholat di rumah masing-masing.

Semenjak dikuncinya pintu gerbang masjid dan himbauan penangggungjawab masjid, kini masjid menjadi sepi. Hanya suara adzan saja yang selalu berkumandang setiap waktu sholat fardlu tiba. Sedih rasanya melihat situasi masjid dari kejauhan. Padahal jauh sebelum corona mewabah, masjid itu selalu penuh jamaah. Anak-anak berdatangan untuk mengaji bersama mulai sore setelah sholat ashar hingga petang menjelang sholat isya’ tiba. Bahkan, ketika di hari Jumat, banyak jamaah berdatangan memenuhi masjid. Tak heran bila jalan di sekitar rumah penuh kendaraan.

Kini, semuanya tinggal kenangan. Bahkan sempat berpikiran, melaksanakan ibadah di rumah rasanya kurang khusyu’ terlebih saat bulan Ramadhan seperti ini. Seolah tidak ada semangat untuk beribadah. Meski ibadah yang kulakukan sesuai ritme, melakukan sholat lima waktu, melakukan sholat taraweh, membaca al-qur’an, atau bahkan melakukan sholat sunnah, rasanya ada yang kurang bila tidak ke masjid atau minimal mendengarkan suara tadarusan dari toa di masjid.

Namun, kembali pada himbauan pemerintah, atau berita di internet yang menyebutkan bahwa pasien terdampak corona terus bertambah, akupun harus berdamai dengan keadaan. Dengan melakukan aktivitas di rumah saja sambil tetap menjaga kebersihan dan menerapkan pola hidup sehat, tentunya akan membuat ibadah di rumah terasa bermakna. Bukankah Islam sendiri menganjurkan untuk ibadah di rumah saja disaat negara dalam kondisi terdampak virus seperti saat ini?

Bagi yang terbiasa melaksanakan sholat jamaah di masjid demi mendapatkan pahala, maka jika mereka meninggalkan sholat berjamaah dan menggantinya dengan sholat di rumah karena alasan terpaparnya wabah yang mematikan, hal ini tak akan menghilangkan pahala dari ibadah tersebut.

Seperti hadist berikut:

حَدَّثَنَا مَطَرُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا الْعَوَّامُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ أَبُو إِسْمَاعِيلَ السَّكْسَكِيُّ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ وَاصْطَحَبَ هُوَ وَيَزِيدُ بْنُ أَبِي كَبْشَةَ فِي سَفَرٍ فَكَانَ يَزِيدُ يَصُومُ فِي السَّفَرِ فَقَالَ لَهُ أَبُو بُرْدَةَ سَمِعْتُ أَبَا مُوسَى مِرَارًا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Telah bercerita kepada kami Mathar bin al-Fadhl telah bercerita kepada kami Yazid bin Harun telah bercerita kepada kami ‘al-‘Awwam telah bercerita kepada kami Ibrahim Abu Isma’il as-Saksakiy berkata; Aku mendengar Abu Burdah pernah bersama dengan Yazid bin Abi Kabsyah dalam suatu perjalanan di mana Yazid tetap berpuasa dalam safar, lalu Abu Burdah berkata; “Aku sering mendengar berkali-kali Abu Musa berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Jika seorang hamba sakit atau bepergian (lalu beramal) ditulis baginya (pahala) seperti ketika dia beramal sebagai muqim dan dalam keadaan sehat.” (HR Bukhari)

Ya berdamai dengan keadaan niscaya akan menetralisir stress dan dapat mengelola emosi, sehingga ibadah pun akan dilaksanakan dengan khusyu’ dan tenang demi mendapat ridhoNya. Inilah yang saat ini tengah kuupayakan bersama suami dan anak semata wayangku. Bersyukurnya meski di rumah saja aku bisa beribadah tepat waktu. Melaksanakan sholat lima waktu tepat waktu. Ditambah dengan ibadah lainnya selama bulan Ramadhan, seperti sholat taraweh berjamaah, membaca al-qur’an bergiliran bahkan melakukan sholat shunnah di pagi dan malam hari.

Ah….jadi teringat almarhum bapak semasa hidupnya. Dulu bapak sering diminta menjadi imam masjid. Beberapa kali menjadi imam membuat beliau kelelahan. Terlebih setelah selesai sholat taraweh, dimana anak-anak sekolah diminta mengumpulkan tanda tangan imamnya. Yang membuat bapak lelah karena anak-anak itu saling berebut dan tidak mau ngantri. Bahkan ada sebagian yang bukunya robek karena diinjak-injak teman. Dari situlah akhirnya bapak memutuskan untuk melakukan sholat berjamaah di rumah. Tentunya dengan mengajak keluarga dan para tetangga.

Sholat di rumah kala itu dilakukan bapak seperti saat sholat di masjid. Setelah sholat isya’ biasanya bapak memberikan kultum bagi jamaah. Baru setelahnya melaksanakan sholat taraweh. Selesai taraweh  barulah bapak menerima permintaan anak-anak untuk menandatangani buku tugasnya dari sekolah. Dan tak sampai sepuluh anak yang mengikuti sholat taraweh di rumah, sehingga bapak pun tak kelelahan setelahnya. Ah…jadi sedih mengenang bapak. Semoga beliau husnul khotimah.

Dan kini, tak ada lagi keriwehan anak-anak yang mengerumuni imam untuk sekedar minta tanda tangan. Aku melakukan sholat di rumah bersama suami dan anak.  Meski sholat di rumah memberikan sensasi berbeda, kadang iman seseorang itu naik turun, namun aku tetap mengusahan untuk memperbanyak ibadah di bulan yang penuh rahmat ini.

Dengan memperbanyak ibadah, insyaallah akan menuntun kita menjadi pribadi yang taat beribadah. Percaya atau tidak, ketika kita khusyu’ beribadah, dengan memperbanyak ibadah ketimbang tidur, banyak hikmah yang kita dapatkan. Rezeki pun mengalir dengan sendirinya. Namun yang harus kita ingat, bulan Ramadhan ini adalah bulan yang tepat untuk menebar kebaikan. Dengan berbagi kepada sesama secara ikhlas, insyaallah rezeki kita akan bertambah dengan sendirinya. Rezeki itu bukan hanya berbentuk harta, namun nikmat hidup, nikmat sehat atau bahkan kenikmatan lain yang kita dapatkan adalah rezeki yang Allah berikan kepada hambaNya yang mampu berbuat kebaikan di bulan Ramadhan ini.

Jadi janganlah ragu untuk menebar kebaikan. Niatkan berbagi sebagai sedekah di jalan Allah, niscaya semuanya akan menjadi berkah. Dan yakinlah janji Allah akan nyata, bahwa Allah akan melipatgandakan rezeki kepada hambaNya yang mampu bersedekah di jalanNya. Rezeki itu tidak datang melalui jalan yang sama, melainkan ia datang melalui banyak jalan. Perbanyaklah beribadah mumpung di bulan Ramadhan ini. Meski di rumah saja, namun jangan sampai mengurangi kekhsyukan untuk beribadah. Insyaallah nikmatlah yang akan kita dapatkan setelahnya.

Iklan
0Shares

1 thought on “Meski Di Rumah Saja, Tidak Mengurangi Kekusyukan Ibadah Selama Bulan Ramadhan

Tinggalkan Balasan