“ Jo…Joana udah tahu belum di jalan Siliwangi yang dekat rumah elo itu ada buka warung mie kocok Bandung” ujar Ririn temanku saat kami sedang istirahat siang di kantin kantor di lantai 3 gedung perusahaan kami.

Seriously? Dimananya Mak? Kok gue gak tau ya” tanyaku penuh antusias ketika mendengar ada warung mie kocong kepada Ririn.

Mak  adalah panggilan akrab aku dan Ririn. Kata Ririn panggilan Mak biar terasa aura emak-emak yang seharusnya sudah melekat diumur kami yang sudah kepala 3. Namun, kami masih saja menjadi betah untuk tidak bergeser dari status single menjadi menikah.

Sebenarnya Ririn sudah pernah disinggung sama pacarnya yang sudah dipacarinya sejak 3 tahun yang lalu. Tapi kata Ririn, dia masih ingin mengumpulkan biaya pernikahan sendiri disamping dia harus membiayai kedua adiknya yang masih sekolah.

Sedangkan aku, baru 1 tahun menjomblo dan putus dari pacarku karena sedikit perbedaan pendapat. Sebenarnya kami tidak putus, karena tidak kata putus yang terucap diantara kami. Namun, sudah satu tahun kami tidak saling komunikasi seperti biasanya pada saat kami masih bersama. Kami hanya saling mendiam antara satu dengan yang lainnya.

“Ya elah nih bocah, Namanya juga baru buka, ya iya elo gak tahu. Tadi malam pacar gue cerita. Kata pacar gue,  doski diajak teman sekantornya makan disana. Ternyata tuh warung baru buka seminggu yang lalu” Ririn menjelaskan sambil meminum es jeruk kesukaannya.

“Kesana nyok Mak” rayuku kepada Ririn sambil memegang tangan Ririn yang berada di atas meja.

“Idih, najis lo. Ngapain lo pegang-pegang tangan gue” Ririn mengibaskan tangannya.

“Kan gue lagi ngerayu elo, supaya kita ke warung mie kocok itu” ujarku nyengir melihat tingkah Ririn yang mengibaskan tangannya dari tanganku.

“Kan gue gak tau tempatnya kale Mak. Yang tahu kan pacar gue. Lagipula gue nanti balik ma pacar gue” balas Ririn dan menghabiskan es Jeruknya yang tinggal sedikit.

“Ya elah Mak. Elo nanti minta jemput di mie kocok aja sama pacar elo. Atau janjian disana. Nanti gue yang bayar deh Mie kocoknya. Ya..ya..ya ..mau ya? Demi teman elo yang jomblo ini yang sangat menyukai mie kocok “ rayuku kembali kepada Ririn.

“ Ya..ya..ya..nanti gue tanya sama pacar gue. Dimana alamat tuh warung mie kocok itu dan kami ketemuan disana” akhirnya Ririn luluh dengan rayuanku.

Itulah hebatnya Ririn. Dia selalu mengalah dengan aku yang sangat egois dan manja ini. Mugkin karena Ririn anak pertama dan aku adalah anak bungsu. Jadi kami sangat  klop. Sejak hamper 3 tahun menjadi rekan sekantor dan bersahabat. Ririn selalu bersifat ngemong dan dewasa. Dan karena itu, pacarnya Ririn betah dengannya.

Ririn termasuk orang yang irit cerita. Sampai saat ini, aku tidak pernah diceritakan dan dikenalkan dengan pacarnya serta menjelaskan dimana kerjanya. Dan inilah saatnya, aku bisa berkenalan dengan pacarnya Ririn sambil makan Mie Kocok Bandung kesukaanku.

Entah sejak kapan aku menyukai Mie kocok Bandung dan selalu saja tergila-gila bila ada tempat baru yang menyajikan menu Mie Kocok Bandung. Pokoknya didalam memori otakku, aku harus makan mie kocok bila ada di daftar menu atau mengunjungi tempat baru yang menyediakan mie kocok.

***

Akhirnya kami sampai juga di Mie kocok Bandung yang diceritakan oleh pacarnya Ririn. Ririnpun sudah sekuat tenaga merayu sang kekasih agar memberikan alamat Mie Kocok dan menjemputnya disana.

Semula sang kekasih menolak untuk menjemput disana, akan tetapi Ririn menjelaskan bahwa kasihan terhadapku yang tidak punya teman selain Ririn di kota metropolitan ini,  karena aku adalah seorang perantauan dari Sumatera. Disamping itu juga, aku juga jomblo yang tidak mempunyai pacar untuk menemani aku pergi.

Kenapa aku bisa tahu Ririn mengatakan hal itu kepada pacarnya. Karena Ririn menelepon dan menjelaskan kepada pacarnya didepanku saat kami masih istirahat siang di Kantin. Walaupun akhirnya si pacar Ririn menyetujui dengan syarat akan mengajak teman kantornya untuk makan disana juga. Ririn menyetujui dan mengatakan itu ide bagus, siapa tahu teman kantor si pacar masih jomblo dan dapat dikenalkan kepadaku. Si pacar mengatakan bahwa temannya masih jomblo.

Aku hanya nyengir saja mendengarnya. Aku tidak peduli sih, kalau teman kantor si pacar Ririn jomblo atau tidak. Saat ini, yang kupedulikan adalah mie kocok bandung yang masuk ketenggorokanku dengan cita rasanya yang khas. Dan itu membuat air liurku menetes bila membayangkannya.

Warung mie kocok Bandung itu ternyata sangat ramai. Pengunjungnya mulai dari anak-anak ABG, pekerja kantor yang baru pulang bekerja sampai ibu-ibu sosialita yang sedang nongkrong. Sehingga tempat yang tidak begitu besar itu serasa sangat penuh.

Ririn melambaikan tangannya kepada pria yang melambaikan terlebih dahulu dan telah duduk dimeja yang sudah disiapkan di warung tersebut. Kamipun menghampiri meja pacarnya Ririn. Disamping pacarnya Ririn, ada teman kantornya juga.

Saat kami sampai dimejanya. Akupun diperkenalkan oleh Ririn, pacarnya yang tidak pernah ku ketahui.

“Hallo, Aku Febri, pacar Ririn. Ririn banyak cerita kok soal mbak” sapanya

“Ih, curang ah si Ririn. Aku gak pernah diceritakan tentang masnya. Sedangkan aku sudah diceritakan kepada masnya” ujarku, yang membuat kami tertawa bersama.

“oh iya, kenalkan ini kawan saya” Febri memperkenalkan temannya yang  masih focus dengan Tab-nya dan telepon genggamnya. Sepertinya dia sedang ditelepon oleh seseorang tentang pekerjaan karena yang dibuka di Tabnya adalah adalah sebuah matrix.

Setelah teman febri disenggol oleh Febri. Lalu dia menutup teleponnya. Dia pun mengangkat wajahnya dan menatapku. Betapa terkejutnya aku, begitupun dengan temannya Febri. Teman Febri adalah Jefri, mantanku yang sudah 1 tahun tidak berkomunikasi. Kami bertemu kembali secara tidak sengaja, di warung Mie Kocok Bandung.

Aku sekarang ingat, kenapa aku sangat menyukai Mie Kocok Bandung?. Karena Jefri adalah orang Bandung dan sangat menggemari mie Kocok. Saat kami masih bersama, setiap kami kencan. Kami selalu mencari tempat makan yang menyediakan mie kocok. Karena itulah, lidahku selalu terbiasa dengan mie Kocok dan menjadi kecanduan dengan makanan khas Bandung itu.

0Shares
Categories WCR

Tinggalkan Balasan