Monologku: Belajar Bareng NuBar Pro (4)

Materi Sastra – Puisi Lama: Mantra

Masih ingatkan, materi tentang puisi lama: mantra? Nah, kali ini bakal ngelanjutin lagi materinya, tentu saja, dengan materi dari chanel NuBar Pro. Sudah mulai masuk materi inti yaa. So, enjoy reading!
*
Klik play on video!

Jika pada tahun 1970-an, mulai populer dengan puisi modern, yang merupakan penggabungan dari puisi-puisi baru. Maka, pada tahun 2000-an pun demikian.

Pada tahun tersebut, puisi dikenal dengan sebutan lipatdus, patidusa dan lain sebagainya. Itu merupakan singkatan dari jumlah bait, yang terdapat pada puisi. Patidusa misalnya, yaitu satu puisi yang terdiri atas dua baris, pada bait kedua. Tiga baris pada bait ketiga, empat baris pada bait keempat. Atau, bisa juga sebaliknya.

Dalam penulisannya pun, puisi baru lebih banyak menggunakan majas. Dan penggunaan majas yang paling sering adalah, majas personifikasi.

“Baik sobat, demikian tadi adalah gambaran tentang puisi lama dan puisi baru,” ujar Kang Aan, selaku pembawa acara. “Nah Kang, langsung saja kita mulai masuk ke materi. Mantra itu apa sih?”

Pengertian mantra di Indonesia, merupakan hal-hal yang negatif atau yang mengandung mistis. Mantra sendiri masih dipakai oleh kalangan orang-orang jaman dulu. Misalnya, seperti mantra untuk memetik padi, itu dikenal dengan mitit. Raksa bumi, mantra untuk mendatangkan hujan. Atau ruwatan, agar sang anak sehat.

Kenapa dipandangnya negatif, itu karena masih dipengaruhi hal-hal mistis atau jin, yang akan berkolaborasi, kerja sama antara manusia dengan si pencipta mantra.

Identiknya, mantra diciptakan oleh dukun atau canang, atau oleh orang-orang yang dianggap mempunyai kekuatan ruh/spiritual untuk berkomunikasi dengan dunia gaib. Dan cara untuk mendapatkan mantra itu sendiri, adalan dengan bersekongkol. Bisa dengan puasa mutih, ngasrep dan lain sebagainya.

Ciri-ciri mantra yaitu:

1. Terdiri atas beberapa rangkaian kata yang memiliki irama.

Bukan rima atau lagu. Karena akan berbeda cara pengucapannya di setiap daerah. Biasanya saat pembacaan mantra, ada yang naik atau turun intonasinya. Ada yang seperti marah atau membentak, seolah-olah sedang kerasukan sesuatu.

Ada juga yang menggunakan gerakan. Contohnya, semar mesem.

Ups! Udah jam segini. Lanjut di kantor aja deh, belajar bareng NuBar Pronya.
*
Dan pada akhirnya, belum sempet lanjut lagi nontonnya. Karena lagi kejar berkas untuk diproses, sebelum akhir tahun.

“Keburu si pajak naik tahun depan,” kata Bapak Bos.

InshaaAllah, lanjut tanggal 18 Desember yaa, belajar barengnya.

Oh ya, jangan lupa mampir ke chanel NuBar Pro di youtube – Materi Sastra-Puisi Lama: Mantra. Klik tautan ini, biar langsung cus ke materinya 👉 https://youtu.be/DwoH5QK6BYQ

Jangan lupa klik jempol dan subscribe yaa, biar nggak ketinggian materi lainnya.

See you again. Muaach!

Jombang, 16 Desember 2020
Salam Literasi, Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan