Tahun-tahun sebelumnya, momen mudik ke rumah Nekno (nenek ino) di Lubuklinggau adalah hal yang paling dinanti oleh semua anggota keluarga 7R. Semua berusaha keras menyelesaikan kewajiban masing-masing agar tidak memperlambat waktu mudik. Karena biasanya, si Umi dan si Ayah akan membuat anak-anak mencapai suatu target tertentu untuk bisa segera mudik. Tahun kemarin misalnya, mudik akan terlaksana bila target khataman Al Quran selesai. Semua anggota bertanggung jawab menyelesaikan bacaannya.

Seru! Anak-anak jadi antusias dan saling support satu sama lain. Misalnya, sehabis subuh ada yang mengantuk dan malas-malasan mengaji, yang lain menyemangati “ayoo! Ngaji. Biar cepat khatam dan cepat mudik.”. Dan yang tadinya malas pun semangat lagi dan tidak mau jadi penghambat bagi yang lain. Dengan segala perjuangan akhirnya mudik bisa dilaksanakan H-3.

Perjalanan mudik kami tak kalah seru dari perjuangan untuk mudik itu sendiri. Di perjalanan, si Ayah tak segan-segan berhenti jika melewati tempat yang bagus dan banyak spot foto, karena tau si Umi suka jepret sana jepret sini, jadi sekalian difasilitasi biar hasil jepretannya bagus. Hihihi.

Baca juga yuk:

Sepanjang perjalanan pun seru. Bergantian kami membuat tebak-tebakan yang harus dipecahkan anggota lain. Atau bercerita tentang pengalaman lucu. Hingga bermain sambung ayat sesuai yang sudah anak-anak hapal.

Kami berangkat mudik setelah salat tarawih atau setelah salat subuh. Jika berangkat setelah tarawih, otomatis kami sahur di jalan. Si umi sudah menyiapkan bekal, tentunya. Karena jarang ada warung yang buka 24 jam sepanjang lintasan perjalanan mudik kami. Paling banter stop di mini market berinisial A atau I yang biasanya buka 24 jam di tempat-tempat tertentu. Memarkir mobil di depannya, beli kopi atau minuman buat bocah lalu kami menikmati sahur di dalam mobil sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

Lain halnya jika berangkat setelah subuh, Si Ayah akan jarang berhenti. Paling berhentinya ketika ada anggota keluarga yang ingin buang air kecil. Selebihnya, langsung bablasss biar lekas sampai tujuan.

Oiya, jangan tanya berapa banyak tas bawaan kami yaaa. Hitung saja jumlah anggotanya, biasanya diusahakan sesuai jumlah anggota plus satu koper besar berisi baju-baju dan mukenah yang akan dipakai anggota 7R ketika hari raya. Kami sengaja memisahkan bawaan masing-masing anak, agar mereka belajar bertanggung jawab dengan dirinya sendiri. Namun, tetap saja si Umi kontrol bawaan mereka, karena pernah kejadian si Abang Fino lupa bawa underware. Ckckck.

Sebetulnya, bisa saja si Umi handle packing barang bawaan seperti yang sudah-sudah ketika anak masih kecil-kecil. Selain lebih praktis, tentunya si Umi sudah tau apa-apa yang harus dibawa. Namun, rasanya sayang sekali melewatkan satu pelajaran bertanggung jawab untuk anak-anak. Jadi sejak beberapa tahun belakangan, mereka sudah handle barang bawaan sendiri-sendiri. Biasanya, sebelum packing, si Umi akan memberi ketentuan baju yang wajib dibawa, misal yang warnanya ungu, atau biru, jadi matching seluruh anggota ketika memakainya.

Ribet? Hahaha, pasti! Sebentar si Mbak Naya nanya “Umi, jilbab ini perlu dibawa nggak ya?” Lalu si Kakak Aisa laporan “Umi, tas Aisa sudah nggak cukup, padahal underware belum masuk.” belum lagi ditambah keriuwehan si Dedek Fiya yang ngeyel mau bawa tas princes sedangkan si umi menyarankan bawa tas frozen karena muatannya lebih banyak dan cukup untuk baju si Dedek. Lama proses membujuknya sebelum akhirnya si Dedek menyerah mau memakai tas frozen. 😅

Tapi di tengah keriuwehan awal, nanti di rumah neneknya, anak-anak bisa mandiri, habis mandi bisa segera mencari bajunya di tas masing-masing. Nggak harus sibuk mencari si Umi jika butuh baju. Si Umi tinggal memberi instruksi baju warna apa yang akan dipakai hari itu.

Jadi, jangan heran jika bawaan kami segambreng, karena yaa anggotanya juga segambreng kan, hihihi. Walau kerap diprotes si Ayah, tetap saja barang bawaan tak pernah berkurang, bahkan cenderung bertambah ketika pulang lagi. Karena biasanya dibawaain berbagai macam oleh-oleh sama Nekno dan keluarga lain.

Alasan lain mengapa mudik membuat kami begitu bersemangat, karena seluruh anggota keluarga si Ayah tinggal di Lubuklinggau. Kami adalah satu-satunya keluarga (dari si Ayah) yang kerap merantau. Kami pernah merantau ke Pekanbaru, ke Ujungbatu dan paling dekat ke Prabumulih. Jadi, momen mudik merupakan momen penting untuk menjalin silahturahmi dan temu kangen dengan Nekno dan keluarga besar.

Anak-anak pun senang karena hanya di momen mudik mereka bisa bertemu sepupu-sepupunya. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana serunya mereka bermain bersama, saling ribut, ngambek, terus baikan lagi, main lagi, ribut lagi. Begitu aja terus. Hahaha.

Puncak keseruan mudik bermula dari malam takbiran. Dimana anak-anak akan dibawa takbiran keliling kota, momen yang tidak pernah dirasakan jika lebaran di Palembang. Lalu, keseruan makin bertambah ketika keesokan harinya berjalan bersama-sama ke Masjid Agung untuk melaksanakan salat Ied. Selesai salat, lanjut berjalan menuju rumah Nek Uyut, berkumpul sebentar di sana sebelum akhirnya kembali ke rumah Nekno.

Tak ada tradisi sungkeman di keluarga si Ayah. Momen salam-salaman bermaafan biasanya terjadi di masjid seusai salat atau di rumah Nek Uyut. Walau tak ada acara sungkeman, tidaklah membuat momen lebaran menjadi hambar. Berkumpul keluarga besar, menikmati sajian lebaran khas buatan Nekno bersama-sama, sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kami saling ridho atas semua yang terjadi sebelumnya dan ikhlas memaafkan dan meminta maaf juga.

Begitulah keseruan momen mudik keluarga 7R. Qodarullah, tahun ini kami tidak bisa mudik seperti biasanya tersebab bencana virus yang tengah menyelimuti negeri. Bukan tidak ingin, keinginan itu begitu membuncah, tapi bayangan bila kami ternyata carrier dan bisa membahayakan keluarga di kampung halaman membuat kami menahan diri. Biarlah, untuk saat ini silahrurahmi melalui ponsel, video call-an.

Pada akhirnya, kami memaknai hari raya tahun ini sebagai sarana merenung, betapa kebersamaan dengan keluarga itu adalah momen berharga. Jika ada kesempatan mudik lagi, janganlah lupa untuk selalu meninggalkan kesan dan kenangan yang baik serta indah. Menjaga hati dan lidah. Jangan sampai pertemuan terakhir keluarga dengan kita menyisakan luka yang walau tak terucap namun terasa. Tahan diri untuk tidak mencela, tidak menyinggung atau mengatakan hal-hal yang buruk. Jangan kotori momen silahturahmi dengan hal-hal yang merusak makna silahturahmi itu sendiri. Yaitu, menyambung hubungan baik dengan kerabat.

Wallahu’alam bishowab

Sumber foto: dokumen pribadi (halaman depan rumah Nekno di Lubuklinggau)

Iklan
0Shares

2 thoughts on “Mudiknya Keluarga 7R

Tinggalkan Balasan