TEMA CHALLENGE IDE SEGAR WCR

Nastar, Spidol, dan Aku.

Nastar.

Setiap mahasiswa yang baru saja wisuda, pasti berkeinginan untuk lekas mendapatkan pekerjaan. Entah yang sesuai dengan jurusan, atau dengan passionnya.

Suatu keberuntungan bagi mahasiswa, jika sebelum lulus sudah ada perusahaan yang menantinya. Juga bagi mereka, yang tak butuh waktu lama untuk mendapatkannya.

Lantas, bagaimana dengan mereka yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan? Mungkin setahun dua tahun, baru bersambut. Tapi, apa ada yang mau menerima fresh graduate yang sudah tak lagi fresh?

Mau buka usaha? Butuh modal yang nggak sedikit. Lagipula, darimana sumber modal kalau nggak memiliki sumber penghasilan?

Usaha kecil-kecilan? Apa kata tetangga, katanya. “Masak sekolah tinggi-tinggi, mana jauh lagi, eh ujung-ujungnya jualan atau buka usaha alakadarnya.”

Bikin tepok jidat dah, jadinya.

Duh … jangan minder yaa. Karena nggak ada yang tahu, dari mana saja rejeki kita datang.

Minder lah, kalau kalian masih menodong orang tua.

Cih, gaya. Sok-sokan nasehatin segala.

Eh, kutu kupret, simak baik-baik deh ceritaku. Jangan skip-skip mulu. Main asal komentar aja lu.

Dulu, setelah wisuda, gelar pengangguran cukup awet melekat. Tapi, bukan karena nggak ada usaha buat ngelamar kerja ya. Ada ratusan kali, ngirim lamaran kerja. Cuma belum rejeki aja.

So, waktu itu, mulai iseng untuk jualan brownis. Karena peralatan ada semua, belinya pakai uang sendiri ya. Kenapa nggak coba jualan aja?

Resep? Banyak bertebaran di internet. Tinggal nyari dan menyesuaikan resep dengan tangan kita aja. Meski jualnya Rp. 1.000,- per potong, hasilnya alhamdulillah, lumayan ada pemasukan.

Lambat laun, jelang bulan puasa. Ada yang tanya, jual kue kering buat lebaran juga?

Berhubung waktu itu, belum pernah bikin dan tahu bagaimana rasanya. Kujawab saja, tunggu hasil trial error. Karena kupikir, brownis aja bisa, kenapa kue kering nggak bisa? Tul nggak?

Setelah mencari resep yang cocok, dan coba membuatnya. Hasilnya enak, sudah pas rasanya. Terutama nastarnya.

Dan, dimulailah perjalanan si nastar selama dua kali ramadhan datang. Iya, daku jualan kue kering hanya bertahan selama itu. Bukan karena nggak laku, banyak yang nyariin malah.

Nastar Buatanku.

Hanya saja, saat tahun ketiga bulan ramadhan, sudah mulai bekerja. Ikut orang. Jadi, belum bisa melanjutkan perjalanan bareng si nastar.

Sesekali aku masih merindukan saat harus ke pasar. Berbelanja bahan-bahan kue, ngebulet-buletin adonan. Dan yang paling utama adalah, saat semerbak aroma nastar yang baru keluar dari pemanggang.

Alamaak! Aromanya bikin siapa saja pengen nyomotin nastar. Bikin perut yang tadinya anteng, jadi bergemuruh. Untung lagi puasa, kalau nggak, pasti sudah habis duluan sebelum nastar masuk toples.

Sekarang, rasanya nastar adalah suguhan wajib saat ada acara di rumah. Sampai suatu ketika, ada tetangga yang meminta resep nastar buatanku. Karena rasanya pas, enak, renyah, lumer di mulut.

Kasih nggak resepnya?

Yaa … kasih dong. Kenapa enggak? Rejeki sudah ada yang mengatur, tak perlulah risau. Toh, resep awalnya pun, aku dapat secara gratis di internet.

Dan kalian tahu? Saat menulis ini, perutku mulai bergemuruh. Tangan rasanya rindu mencampur bahan-bahan untuk membuat nastar.

Sementara imaji, ia membayangkan nastar yang melumer, saat bersentuhan dengan lidah. Merasakan manis asam selai nanas.

Amboiii … enak nian dirimu, nastar!

Ah! Gegara ngebayangin si nastar, lupa kasih tahu kan jadinya. Kalau saat jualan nastar, semua modal pribadi. Meski minim sekali.

Emang sih, nggak ada tetangga atau siapapun, yang bilang kalau, “Ih, sarjana kok malah jualan nastar. Sarjana kok nggak kerja kantoran.”

Nggak, nggak ada yang bilang. Atau mungkin lebih tepatnya, aku tak tahu. Kalaupun ada, nyok sini. Tak sumpel mulutnya pakai nastar, yang udah berjamur!

Jombang, 01 Desember 2020
Salam Unyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *