TEMA CHALLENGE IDE SEGAR WCR

Ngidam

Ngidam.

Kebiasaan ibu hamil, saat sedang memasuki awal trimester kedua, adalah meminta makanan atau hal-hal aneh. Seperti meminta mengelus-elus kepala yang botak, atau naik mobil patroli polisi.

Mintanya si jabang bayi, kalau tak dituruti nanti dia ngeces. Dalih sang ibu sambil mengelus perutnya yang mulai buncit.

Yah, mungkin itu juga yang sedang dialami istriku. Ngidam.

Awalnya sih minta yang biasa-biasa aja. Seperti rujak manis tapi minta pedes, plus banyakin mangga mudanya. Untung saja, si Abang tukang rujaknya paham kebiasaan ibu hamil.

Pernah juga, kesayangan minta dibeliin bakso langganannya. Tengah malem lewat 13 menit. Sebenernya nggak masalah sih, jam berapa aja pasti kuusahakan untuk menuruti permintaan ngidamnya. Tapi masak iya, tengah malem gini harus berangkat ke kota sebelah?

Malah yang ada, tukang baksonya masih molor. Kalau sudah begini, mau nggak mau harus mengeluarkan jurus bohong. Mana kalau makanan yang doi ngidamin, baru incip sedikit udah eneg.

Jadinya, aku lah yang harus menghabiskan. Dan mau nggak mau, selama nurutin ngidamnya doi, perutku ikutan buncit.

Yah, tak apalah demi kesayangannya dan si calon jabang bayi.

Tapi, sejak doi bilang tentang keluhan ngidamnya, dua hari yang lalu. Aku jadi bingung, apa yang harus kubeli.

Gimana nurutin maunya coba? Kalau apa yang kubelikan, bukan yang doi maksud?
*
Dua hari yang lalu, pukul 14.13 sepulang dari pasar.

“Kang … Akang … ” panggil doi manja.

“Kenapa Eneng sayang?” Aku suka saat ia bergelayut manja seperti ini. Meski pada akhirnya, aku yang puyeng sendiri.

“Kang … ” doi masih bergelayut manja.

Enak aja, doi bukan monyet ya! Doi suka banget bergelayut gini, bukan berarti monyet. Emang gaya manjanya aja gitu.

“Apa Eneng sayang … ” kuusap pucuk kepalanya.

“Eneng pengen makan daging, tapi nggak mau daging sapi, kambing atau ayam. Bosen … “

“Terus daging apa dong, Neng?”

“Nggak tahu, Kang … ” Doi menyenderkan kepalanya di pundakku.

“Ikan mujair mau?”

“Enggak …. “

“Lele?”

“No.”

“Patin?”

Doi menggeleng.

“Ikan arwana?”

“Hmm … enggak deh, Kang.”

“Ya udah, besok Akang cariin daging yang nggak biasa deh. Sekarang, beli es krim aja yuk?”

“Mau!”

Tepok jidat deh! Segala ikan nggak mau, terus apalagi dong permisa? Mudah-mudahan anak kedua nanti, ngidamnya nggak kayak gini. Ampuun deh.
*
Dan begitulah, dua hari ini aku pusing nyari daging yang doi maksud.

“WOI! Ngapain bengong? Nggak pulang nih?” tanya Bang Jamal, penjual ikan depan kiosku.

“Eh, Bang. Ngagetin aja lu.”

“Ya elunya bengong sih. Tumben nggak buru-buru pulang? Udah jam segini lho.”

Kulirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kiriku. “Waduh! Kalau gitu, gue pulang dulu ya Bang.”

Sepanjang perjalanan pulang, mataku tak terlalu awas di jalan. Ia lebih suka memikirkan, beli daging apa kira-kira.

Kupacu motor ke arah pinggir hutan C.

Motorku terparkir sempurna diantara semak-semak rimbun, tepi hutan. Kulangkahkan kaki masuk lebih dalam ke hutan, siapa tahu dapat hewan buruan.
*
“Eneng sayaang … Akang pulaang …. “

“Tumben kok sore banget pulangnya, Kang?”

“Iya, lihat apa yang Akang bawa nih!” Kuserahkan kantung kresek hitam.

“Wah, daging!” Serunya senang. “Daging apaan nih, Kang?”

“Yang jelas bukan daging Akang dong …. “

“Iih … yaudah deh, aku masak dulu ya dagingnya. Akang mandi langsung, bau kecut!”

Selesai mandi, kubantu doi menyiapkan makan malam. Kutata rapi piring dan gelas, ala-ala candle light dinner lah.

Tak lupa kunyalakan televisi, saluran 8 kesukaan kesayanganku.

Breaking News! Pemirsa, di temukan potongan tubuh bagian tangan, kaki dan kepala di tengah hutan C, oleh petugas hutan. Bagian tubuh yang belum ditemukan adalah badan. Sementara identitas korban, sampai saat ini masih diselidiki. Demikian, breaking news kali ini. Selamat menyaksikan acara selanjutnya.”

“Haduh, denger berita gini, jadi ngeri deh. Mending matiin aja deh, Kang. Hii,” doi bergidik ngeri. “Oh Kang, daging yang kamu beliin tadi, enak banget lho. Empuknya cepet, pas diincip juga lumer dimulut … daging apaan sih, Kang? Pasti mahal yaa?” Selorohnya.

“Daging … cintahku padamu Neng!” godaku.

Kami berdua tertawa, menikmati makan malam mesra kesekian kalinya. Kubiarkan doi menghabiskan masakannya, karena melihatnya makan saja rasanya perutku sudah kenyang.

Saat sedang memandangi doi makan, aku teringat kejadian sore tadi. Ugh! Perutku terasa mual.

—-

Sumber gambar: freepik.com

Jombang, 13 Desember 2020
Salam Unyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *