DUNIA MENULIS TEMA CHALLENGE IDE SEGAR WCR

NuBar, Titip Satu Yaa

NuBar, Titip Satu Yaa

Memori teatrikal saat kelulusan kakak kelas, begitu membekas. Meski hanya melihat dari samping panggung. Itu pun dari kejauhan. Karena, yah nasib adik kelas. Cuma bisa nonton acara megah itu.

Kenapa acara kelulusan itu begitu megah?

Bagi orang lain, mungkin itu biasa saja. Hal yang wajar. Tapi bagiku, ini baru pertama kalinya, melihat perayaan yang gegap gempita. Pada masa itu.

Aksi teatrikal berpadukan musikalisasi puisi itu begitu memukau. Dan hal tersebut, adalah sesuatu baru yang kutemui. Benar-benar menghipnotis penonton, termasuk aku.

Membuat tangan bertepuk dan bersorak lebih keras, tanpa kusadari. Membuat siapa saja yang menyaksikannya, mengenang dan membicarakannya pada keesokan dan hari-hari selanjutnya.

Aku jadi bertanya-tanya, bisakah aku yang pemalu ini melakukan pentas seperti itu? Mendapat sorak yang lebih riuh? Gempita tepuk tangan? Jadi bahan bicara orang-orang, karena aksi teatrikal?

Oh, membayangkannya saja membuat hatiku berdebar!

Dan karena itulah, aku berdiri di sini sekarang, di ruang ekskul drama sekolah tingkat menengah pertama. Menempa dan berlatih.

Tapi rasanya, kenapa hanya aku yang selalu melihat mereka di atas panggung? Menyaksikan semuanya berjalan dari balik tirai, saat teman-teman menjadi orang lain, menghayati peran yang mereka perankan. Bahkan ketika dituntut memerankan peran berkebalikan.

Memukau!

….

Memori-memori saat sedang pemilihan peran, rasanya seperti terputar. Meski saat ini aku tengah menyaksikan drama mereka. Ah … pantas saja. Mereka memang benar-benar pantas memerankannya.

Aku yang terkadang masih tergagap mengucapkan dialog.

Aku yang kesulitan menghafal bagian-bagian dialog.

Aku yang tak mudah mengekspresikan peran.

Aku yang masih perlu banyak, banyak belajar.

Aah … rasanya tamak sekali aku, jika ingin mendapatkan sebuah peran. Saat baru enam bulan belajar, tentang sebuah drama dalam drama kehidupan.

Jika aku menyerah sekarang, tak apa kan?

Jika aku mencoba sesuatu yang baru sekarang, boleh kan? Toh, masih bergulat seputar drama.

Kali ini aku yakin! Aku bisa memiliki panggung megahku sendiri. Suatu saat nanti. Semoga.

Ah, rasanya aku bisa jika bersama mereka. Sebuah keluarga yang tak pernah kujumpa.

https://www.youtube.com/watch?v=NxUxPK2hhSU
*
Sekitar bulan Juli 2019. Perjalanan menuju panggung megah.

Ini pertama kalinya aku mengikuti tantangan menulis.

Menulis?

Iya. Dunia baru yang semakin kusukai, sejak mengenal seorang teman saat kelas delapan. Perlahan, aku mulai jatuh cinta dengan sederhana.

Hingga, harapan tertinggi itu mulai melambungkan anganku. Menutup mata akan pengetahuan yang masih fakir. Tak ada apa-apanya.

Dan di bulan tantangan itu pula, sedikit perlahan membuka mata yang tertutup. Bahwa, benar-benar diri masih tak tahu apa-apa. Masih jauh, jika beradu dengan yang lain. Receh!

Meski berujung terhenti saat menjelang akhir. Bolehkan bangga dengan pencapaianku saat itu? 

Aku benar-benar tak ingin menyerah!

Maka dari itu, aku kembali lagi di sini, yang bermula di bulan Oktober. Hingga menjelang bulan terakhir, dipenghujung tahun kembar. Tinggal beberapa hari lagi.

Apa kamu puas, dengan menyelesaikan satu tantangan ini?

Bagaimana aku bisa puas? Jika setelah ini aku bisa melakukannya setiap saat. Rasanya aku akan merindu, saat-saat seperti ini. Terus menulis, dengan waktu yang menghimpit.

Aku lebih suka bebas. Menjelajah waktu lewat kata-kata, atau mungkin berselancar ke masa depan. Sepertinya itu menarik. Tapi yang jelas, bukan sebuah kode.

Membebaskan imaji-imaji, yang baru-baru ini menyukai rasa mistis. Bukan berarti, aku tak akan menulis kisah romantis. Sesekali mungkin jenaka, mungkin juga serius. Atau sebuah pengharapan?

Hanya seperti saat ini, saat kutuliskan sebuah pinta.

Hai NuBar, aku titip satu mimpi kecilku ya ….

Jombang, 28 Desember 2020
Salam Hangat, Unyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *