Entah mengapa setiap kali saya mengikuti tes, ujian, ulangan atau semacamnya seringkali merasa tegang berlebih. Orang psikologi menyebutnya sebagai bentuk keabnormalan dan disebut psikosomatis. Psikosomatis ini biasanya muncul salah satunya karena ketidaksiapan menghadapi suatu kondisi tertentu.

Saya menyadari sejak duduk di sekolah dasar (SD) bahwa potensi saya cenderung ke hal yang berbau sosial dan lemah dalam bidang sain, baca matematika dasar/konsep. Banyak hal yang membuat saya lemah dalam hal matematika, kemungkinan karena faktor gen, lemahnya konsep dasar yang saya miliki tentang berhitung, kurang berlatih, residu ketika berinteraksi dengan guru matematika yang berkarakter unik tak jarang membuat tegang serta stigma yang diwariskan dari orang-orang sekitar yaitu bahwa matematika itu sulit.

Terkait pemilihan jurusan untuk kuliahpun sebetulnya saya memilih jurusan yang benar-benar sangat jauh dari matematika. Ternyata ketika menerima panduan kurikulum perkuliahannya disana tertera beberapa mata kuliah yang berbau matematika. Saya bertekad bisa melewati beberapa mata kuliah tersebut dengan sukses.

Pada pelaksanaannya ada hambatan yang dihadapi. Tepatnya dipertengahan masa kuliah tibalah saat menegangkan, yaitu mengontrak mata kuliah statistika penelitian. Masa perkuliahan dan pengumpulan tugas perkuliahan statistika penelitian berhasil dilalui berkat bimbingan dan bantuan dari teman-teman seangkatan yang demikian faham dengan kelemahanku ini. Namun di akhir perkuliahan ada Ujian Akhir Semester (UAS) yang harus dilalui sendiri, tentunya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas proses belajar yang telah dijalani.

Ketika itu UAS mata kuliah statistika penelitian terjadwal jumat pukul 13.00 wib. Stigma bahwa Posisi duduk menentukan IP (Indeks Prestasi) masih sangat kental. Dalam rangka finishing persiapan UAS dan berburu posisi duduk, agar dapat posisi yang nyaman maka saya datang lebih awal dari jadwal yang ditentukan, pukul 09.00 wib, benar-benar lebih awal bukan?

Saya memutuskan untuk ke mesjid kampus. Ketika memasuki area mesjid, pada bagian selasarnya suasana terasa lengang,tak seperti biasanya sangat meriah dengan berbagai aktivitas mahasiswa. Mulai dari kerja kelompok, kajian, atau sekedar beristirahat melepas penat setelah kuliah, atau bahkan menghabiskan waktu luang di sela menunggu jadwal kuliah berikutnya dan lain sebagainya.

Saya berfikir posisi yang bagus untuk bertapa sebagai bentuk finishing persiapan UAS saudaranya matematika alias mata kuliah statistika penelitian ini adalah di tempat shalat perempuan. Setelah pertapaan dijalani cukup lama, akhirnya sekitar pukul 11.15 wib saya memenuhi panggilan alam untuk ke toilet juga persiapan wudhu untuk shalat dzuhur, karena beberapa menit lagi memasuki waktu dzuhur dan biasanya toilet sangat penuh.

Alangkah kagetnya saya ketika masuk ke toilet perempuan disana terdapat laki-laki. Kemudian saya buru-buru keluar dari toilet dan bertanya-tanya dalam hati “mengapa ada laki-laki di toilet perempuan?” Saya baru tersadar bahwa saya salah waktu berada di masjid pada pukul 11.30 wib di hari ini. Setelah melihat sekeliling mesjid hampir seluruh masjid penghuninya laki-laki dan terdengar dari pengeras suara pihak DKM menyeru jamaah untuk melaksanakan shalat jumat.

Saya sangat kaget dan secara otomatis tanpa lirik kiri dan kanan langsung mengambil langkah seribu menuju fakultas sambil menertawakan diri sendiri sambil beristigfar betapa tidak fokusnya diri ini. Semoga kekonyolan seperti ini tidak terulang lagi. Aamiin Ya Rabbal’alamiin.

https://pijarpsikologi-org.cdn.ampproject.org/v/s/pijarpsikologi.org/psikosomatis-pikiranmu-memengaruhi-tubuhmu/amp/?amp_js_v=a6&amp_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=16046782927679&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fpijarpsikologi.org%2Fpsikosomatis-pikiranmu-memengaruhi-tubuhmu%2F
0Shares

Tinggalkan Balasan