Obrolan Kala Senja.

Senja memang waktu yang menenangkan, untuk sekedar bincang ringan. Entah bersama sahabat, keluarga atau mungkin orang yang baru dikenal di tempat tongkrongan.

Tentu saja, bersama camilan gorengan tersayang dan secangkir kopi atau teh hangat.

“Mbak, emang nikah itu enak ya?” tanya Gadis.

“Uhuk! Kenapa tiba-tiba tanya nikah sih? Mau nikah lu? Sama siapa?!” perempuan yang memakai gamis warna biru tua itu tersedak, mendengar pertanyaan Gadis. Ketika obrolan ringan mereka hening sesaat.

“Yaa … enggak juga sih mbak. Cuma rasanya kok … emm …. ”

“Kenapa?” tanya Memey, perempuan berambut sebahu yang duduk di samping Gadis. Ia sibuk memamah roti bakar, yang kini tinggal setengah porsi.

Sejenak Gadis terdiam. “Hmm … kan aku udah umur segini mbak. Tapi, nggak tahu kenapa, arah untuk kesana semakin nggak ada. Mungkin karena terlalu banyak pernyataan kapan nikah …. ” ujarnya sambil mengangkat kedua bahu.

“Temen-temenku juga, kebanyakan udah nikah. Udah pada gendong anak, ada yang udah dua malah,” lanjutnya. Tampak mendung menghiasi raut wajah Gadis.

“Udah, lu nggak usah nikah …. ”

Lha?

“Gini lho, lu kalau mau nikah, kalau niatnya cuma biar samaan kayak temen-temen lu itu. Mending nggak usah deh, ojo kesusu. Pertama, udah berapa tahun sih temen-temen lu nikah? Lima tahun? Sepuluh tahun? Dua puluh lima tahun?”

Baru setahun dua tahun sih ….

“Baru seumur jagung kan? Kebanyakan masih manis-manisnya, masih ‘ada bantuan’. Nih, gue udah tujuh tahun nikah, enak terus? manis terus gitu?

Enggak … gue juga kadang bertengkar sama doi. Bahkan kadang cuma karena hal sepele.

Kedua, lu udah siap dengan segala kebiasaan yang, mungkin lu belum tahu dan nggak lu suka, dari pasangan lu?

Contoh simpelnya aja deh, abis mandi handuk main lempar ke atas kasur. Kalau tidur suka ngorok.

Ketiga, kalau abis nikah, langsung dikasih momongan. Yaa alhamdulillah. Nah, kalau belum? Pertanyaan kapan nikah, bakal ganti jadi kapan punya anak? Udah siap lu, direntetin kek gitu?

Belum lagi, kalau anak udah gede dikit. Lu bakal ditanyain, kapan Si Kakak punya Adek?

Keempat, lu sama pasangan udah siap punya anak?

Belum lagi soal orang ketiga. Terus … aduh! Siapa sih yang getok pala gue?!”

Uhuk!

“Kamu kebiasaan deh. Bukannya ngasih tahu yang bener, malah nakutin Gadis. Kasihan tuh, mukanya makin kelipet-lipet,” ujar perempuan yang mengenakan blazer warna biru langit.

“Bundaaa … ” Gadis segera memeluk perempuan yang baru saja tiba itu. Bunda, perempuan yang selalu menjadi penengah diantara teman rumpinya. Selain karena ia yang tertua, Bunda menganggap bahwa mereka adalah anak-anaknya.

“Tuh Bun, nasehatin si Tian,” ujar Memey, yang sedari tadi hanya manggut-manggut, membenarkan ucapan Tian, perempuan bergamis biru tua.

“Gadis sayang … ucapan Tian emang ada benernya. Tapi jangan telan mentah-mentah yaa ….

Menikah itu, bukan hanya persoalan dua orang manusia. Tapi juga keluarga besarnya.

Menikah itu bukan ajang perlombaan, yang siapa cepat dia nikah, dia yang menang. Siapa yang punya ada duluan, dia yang menang.

Menikah itu, bukan hanya soal menghabiskan waktu, menua bersama pasangan. Tapi juga mendidik generasi penerus. Titipan dari-Nya, yang jangan sampai kita lalai untuk mendidiknya.

Menikah itu bukan cuma soal membimbing dan dibimbing. Tapi juga sama-sama mau belajar dan koreksi diri. Kita ada untuk melengkapi kurangnya pasangan.

Menikah itu bukan untuk sekedar mencari status di KTP, mungkin ada beberapa. Tapi itu nggak bener. Menikah itu untuk seluruh perjalanan hidupmu, sampai takdir menjemput.

Apa yang ada di masa lalu pasanganmu, itu menjadi miliknya. Pun dengan masa lalumu. Tapi masa depan, adalah milik kalian berdua.

Jadi, saran Bunda, menikah lah saat kamu benar-benar udah siap untuk menikah. Oke sayang?” tanyanya pada Gadis.

“Makasih Bun … udah nggak galau lagi aku.”

“Tapi, kok tumben sih kamu tanya ginian? Biasanya juga paling ogah, kalau bahas soal nikah?”

“Aaada deh Bun …. ” kerling Gadis sambil tertawa.

Obrolan kala senja menyapa itu masih terus berlanjut. Beralih dari satu topik ke yang lainnya. Entah, rasanya tak pernah ada habisnya obrolan bersama sahabat. Apalagi saat rintik turut menemani.

Mojokerto, 13 Oktober 2020.

Salam hangat.

0Shares

Tinggalkan Balasan