OPU DAENG RISADJU: KARTINI DARI TIMUR YANG TERLUPAKAN – Kangen banget rasanya baru bisa menyapa kalian… Maafkan ketidakhadiran saya beberapa waktu lalu ya? Saya sedang pura-pura sibuk .. 😊

Sobat curhat,

Masih dalam suasana bulan kemerdekaan, Kali ini saya akan membahas mengenai Opu Daeng Risadju, seorang kartini dari timur, yang dalam sejarah Indonesia seperti terlupakan. Jujur, saya juga tidak pernah mendengar namma beliau sebelumnya, karena dalam buku-buku  sejarah perjuangan Indonesia tidak banyak  tersebut nama beliau.  Saya baru mengetahui tentang beliau  pada tahun 2018, saat mmembantu teman membuat riset sejarah untuk keperluan Doktornya.

Sulawesi Selatan memiliki tokoh perempuan  yang cukup berperan dalam perjuangan bangsa Indonesia speerti Emmy Saehan, Sulawati Daud dan Opu Daeng Risadju. Bahan Opu Daeng Risadju dikenal sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan kedudukan perempuan pada masa Belanda. Opu Daeng mendirikan sekolah ketrampilan khusus perempuan di Luwu.

Opu Daeng Risadju lahir pada tahun 1880 di Palopo dengan nama Famajjah. Famajjah  adalah anak dari Muhammad Abdullah To Baresseng dan Oppu Daeng Mawellu. Ibunya adalah cicit dari Raja Bone  ke 22 . Meskipun terlahir dari keluarga bangsawan, Farmajjah buta huruf dan hanya belajar Al Quran dan belajar aksara bugis tanpa sekolah formal.  Sekalipu demikian, Famajjah memiliki pemikiran yang luas dan gigih berjuang. Mendirikan sekolah ketrampilan perempuan dan pelopor PSII di Luwu. Farmajjah menikah dengan Haji Muhammad Daud dan kemudian lebih dikenal dengan nama Opu Daeng Risadju.

Sobat curhat,

Kegiatan Opu Daeng Risadju melalui sekolah ketrampilan perempuan dan PSII mendapat perhatian dari pihak Belanda. Mereka memenjara Opu selama 12 bulan dan berharap Opu tunduk setelahnya. Namun yang terjadi Op uterus gigih melawan kepada Belanda dan rela kehilangan gelar bangsawannya, bahkan lebih memilih bercerai dari suaminya, karena yang menghalangi kegiatannya, bukan saja Pemerintah Belanda tapi juga keluarganya.  Kiprah di PSII cabang  Sulawesi ,membawa Opu ke Kongres PSII di Batavia dan Surabaya. Opu kemudian mendirikan PANDU SIAP sebagai wadah Gerakan pemuda dan WAPSII yaitu perkumpukan untuk Perempuan.

Pemerintahan Belanda merasa  gerah dengan kiprah Opu kembali menciduk dan memenjarakannya selama 14 bulan di Masamba dengan tuduhakn menghasut rakyat.

Pada masa pendudukan Jepang, situasi politik dan kondisi organisasi keagamaan di Sulawesi Selatan menjadi suram, bahkan Jepang melarang seluruh aktivitas PSII. Namun itu semua tidak menyurutkan semangat Opu Daeng Risaju untuk tetap melakukan perlawanan di daerahnya. Sampai akhirnya ketika ia berada di Belopa, tersebar berita bahwa Jepang menyerah kepada Sekutu. Kekalahan Jepang bukan menjadi akhir dari perjuangan Opu Daeng Risaju. Kedatangan tantara NICA yang ikut memanfaatkan kedatangan Sekutu kembali mengusik Luwu. Tentu saja Opu Daeng Risaju tidak tinggal diam, ia bersama dengan pemuda Sulawesi Selatan berjuang melawan NICA yang ingin kembali berkuasa. Melakukan mobilisasi dan menanamkan doktrin perjuangan kepada para pemuda membuat Opu Daeng Risaju menjadi target sasaran NICA.  Ia berpindah pindah tempat sampai akhirnya  tertangkap di Lantoro dan dipaksa berjalan kaki selama 40 Km menuju penjara  Sengkang. Lalu ke Bajo. Selama di Bajo, Opu mengalami siksaan yang luar biasa hingga tuli dan ditempatkan di penjara bawah kolam rumah. Selama lebih dari 11 bulan, Opu di Penjara tampa peradilan hingga akhirnya Opu dilbebaskan dan pada tahun 1964, Opu Daeng Risadju wafat pada usi 84 Tahun. Belua di makamkan di pemakaman raja-raja Lokoe di Palopo dan diberikan gelar Pahlawan Nasionall pada tahun 2006.

Sobat curhat,

Kisah perjuangan Kartini dari Timur ini, memperlihatkan kepada kita bahwa betapa banyaknya para pejuang perempuan yang tidak kalah gigihnya dengan pejuang laki-laki. Seorang Opu Daeng Risadju yang buta huruf mampu mendirikan sekolah ketrampilan khusus perempuan dan aktif dalam Gerakan PSII.

 Sekalipun ada sejarahwan mengatakan bahwa Opu Daeng Risadju adalah penghubung antara Kahar Muzakar dengan Kartosuwiryo, namun Opu Daeng Risadju adalah seorang patriotik yang pantas mendapat gelar Pahlawan Nasional karena kegigihannya dalam berjuang membela rakyat terutana perempuan. Sebagai bangsa yang tidak pernah melupakan jasa para Pahlawannya, sudah semestinya kita sebagai generasi penerus bangsa Indonesia mengenal, menghargai perjuangan pendahulunya dan meneruskan perjuangannya dengan terus berkarya secara positif di bidang masing-masing.

Baca juga yuk:

Menulis adalah salah satu bentuk perjuangan pada masa kini. Teruslah menulis. Menebar kebaikan dan manfaat bagi sesama.

Sumber : Fatimah Purwoko, Sejarah Nusantara yang disembunyikan, Yogyakarta: Penerbit Sosiality, 2019.

0Shares

1 thought on “OPU DAENG RISADJU: KARTINI DARI TIMUR YANG TERLUPAKAN

Tinggalkan Balasan