Pelangi Persahabatan -Part 1

Suatu hari di Medio  1981

Wajah Zia menatap ke arah Zas. Tak mengerti. Banyak tanya mengendap dalam dada, namun tak mampu berkata satu kata apapun. Zas menatap sejenak lalu memalingkan wajahnya. Sibuk dengan kotak pensilnya.  Zia diam memperhatikan Zas, lalu menatap lembaran buku di depannya.

Zia tak pernah mengerti apa yang tengah terjadi antara dirinya dan Zas. Ia hanya tahu sejak hari itu, Zas tak pernah bicara lagi dengannya. Tertawa dan bercanda seperti biasanya, mereka lakukan bersama Raffa atau Andri. Diam tak sepatah kata, meski mereka tetap duduk bersama di dalam kelas. Diam membisu.Hingga suatu malam di bulan Ramadhan, ia mendengar seseorang memanggil namanya dengan lembut.  Jantungnya tersekat. Ia sangat mengenali suara itu. Suara yang tak pernah ia lupakan. Suara yang selalu ia rindui. Zas

“hai…apa kabar?” Zas berdiri tak jauh darinya, dengan senyum khasnya. Zia hanya mampu tersenyum karena kerongkongannya terasa tersekat. Malam itu adalah malam yang membahagiakannya. Sahabatnya kembali

Rinai hujan di penghujung 1987

“Aku gak ngerti kenapa mama selalu  tidak adil. Selalu winda..winda saja. Kapan mama mau mengerti aku?” Pias wajah Zas menatap hujan lewat jendela.

Zia menghela nafas. Ingin ia mengatakan bahwa iapun tak mengerti tentang hidup yang ia jalani. Berkali-kali ia mencoba memahami kenapa ayahnya jarang berkumpul di rumah. Selalu di luar Kota. Betapa ia merindukannya, ingin memeluknya.

“Zi…” Suara Zas memaksa Zia menatap wajah sahabatnya. Zia tersenyum. Ya ia memang sama tak mengertinya dengan Zas. Tentang orang orang dewasa yang teramat dekat dan sangat mereka sayangi.

Tapi Zia mengerti bahwa ia masih punya Zas.  Zas yang kocak yang selalu membuatnya tertawa. Zas yang selalu menemani hari-harinya yang sepi.  Zas yang berbeda dari teman-teman lainnya. Zas satu-satunya orang yang ingin ia temui saat pertengkaran dan pertengkaran terjadi di rumah.  

Ia ingat bagaimana pertengkarannya dengan Bunda beberapa hari sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia tak mampu menahan amarah dan melakukan hal yang mungkin,tak pernah perempuan setengah baya itu bayangkan.

“ Apa yang salah dengan Zas bunda ? kenapa Zia tak boleh bertemu dengannya lagi?”.

“Zaskia bukan anak yang baik. Kamu tak boleh bergaul dengannya”

“Tapi Zas sahabat Zia, bunda. Sahabat Zia sejak SD”

“Sahabat yang baik tidak akan memberi pengaruh buruk “

“pengaruh buruk apa yang telah Zas berikan kepada Zia? Selama ini, Zia tak pernah merasa

dipengaruhi oleh siapapun, termasuk Zas”

Kamu masih kecil. Tak tau apa-apa. Sudah turuti saja perintah bunda”

Wajah Zia merah menahan amarah. Iapun berlari ke kamar. Membanting Pintu kamar dan tak memperdulikan bundanya lagi. “Kezia….apaan kamu ini…bunda belum selesai bicara”

Zia tak perduli. Ia membanting semua barang-barang di kamar. Zia merasa marah sekali karena Bundanya tak memperbolehkannya berteman dengan Zas, bahkan menuduh Zas bukan anak yang baik. Tahu apa bunda tentang Zas? Tahu apa?….Zia mengepalkan tangannya.

Tidak!! Zia tidak akan memperdulikan kata-kata bunda. Tidak. Zia tak mungkin tak bertemu dengan Zas lagi. Tak mungkin. Walau harus berbohong atau dengan sembunyi-sembunyi, Zia akan tetap bertemu dengan Zas. Karena Zas sahabat terbaik yang ia punyai. Zia akan menepati janjinya pada Zas, bahwa mereka akan bersama sama merengkuh duka, akibat orang orang dewasa yang tak pernah bisa mereka mengerti.

Mentari di akhir tahun 1993

Zas tertegun melihat wajah dari balik pintu.  “Zi?”

Wajah milik Zia tampak lesu. “Boleh aku masuk?” Zia duduk sementara Zas masih menatapinya dengan sejuta kata tanya.  “Mengapa Mas Luigi tak pernah berubah? Selalu saja mengamuk bila keinginannya tak tercapai?”

Zas menarik nafas. Disapunya wajah sahabatnya dengan lembut “ Sabar ya?” diusapnya bahu sahabatnya.

Zia mengangguk “Aku boleh tidur di kamar mu? Aku belum tidur dari semalam”  Zas mengangguk dan tersenyum lembut,menghantarkan sahabatnya ke kamar.

“Zi….aku pinjam buku Gandhi ya? Kamu kan mau pinjami aku tempo hari”

Zia tertawa “aku lupa”

“Aku ambil ya ke rumah mu” Zia menggeleng. “Jangan. Biar aku yang antar ke rumahmu”

Zas mengangguk meski Ia tak mengerti tapi tak akan bertanya pada Zia, kenapa Zia selalu menolak kedatangannya ke rumah Zia, walau sekedar mampir. Zas berusaha memahami, karena ia tahu Zia tak bermaksud buruk.

Melihat Zia enjoy berada di rumahnya sudah cukup buat Zas.  Tak perlu dipertanyakan, seperti juga ketika Zia mulai sibuk dengan kegiatan kuliahnya dan mulai jarang datang ke rumah. Zas tak pernah mempersoalkannya karena Zas tahu Zia pasti akan datang menemuinya. Entah kapan. Walau ada rentang waktu yang memisahkannya dengan Zia tapi selalu saja Zia datang kembali padanya.

Malam yang pekat di medio tahun 2004

Zia menghentikan jarinya yang tengah menari di tuts-tuts keyboard.  Ia tertegun. Zas!. Berapa lama ia tak berjumpa dengannya? Mendadak ia merasa rindu yang luar biasa. Segera diambilnya Hp di lemari buku dan segera mengirimkan sms.

Tak lama kemudian smsnya dibalas. Zia tersenyum. Malam itu menjadi malam yang indah. Setelah hari-hari berat yang ia jalani. Setelah air mata dan amarah menjadi satu, akibat sikap Rafli dan keluarganya, semua kegundahan itu hilang. Hilang bersama kehadiran zas lagi.

Ditempat lain, Zas tersenyum. Amazing!. Saat ia membutuhkan kekuatan, karena harus menghadapi konsekuensi yang cukup berat dari keputusan yang ia ambil, saat ia lelah dengan ketidakseriusan Imam dan tantangan berat dari keluarganya, tanpa disangka sms Zia datang. Seperti tanda bahwa Zia sahabat kecilnya akan kembali menemani hari-harinya lagi.

Baca juga yuk:

Seperti  yang sudah-sudah … sejak malam itu begitu banyak kejadian yang datang dan pergi dalam kehidupan Zia dan Zas. Kehidupan yang berjalan tak selalu indah, tapi tak demikian bagi Zia dan Zas. Semua tetap menjadi indah, karena air mata dan tawa tetaplah sebuah bagian dari perjalanan hidup yang harus dilalui.

Kezia menatapi dinding kamar. Masih segar dalam benaknya peristiwa demi peristiwa. Begitu banyak peristiwa yang terjadi antara dirinya dan Zas, sepanjang tiga puluh tahun terakhir ini. Zia menggelengkan kepala. Tiga puluh tahun bukan waktu yang pendek untuk sebuah kebersamaan. Sudah tak terhitung jam-jam kebersamaan, yang diisi dengan kepedihan, canda tawa juga pertengkaran. Ya Zia masih ingat betapa sering Zas terluka, akibat sikapnya yang keras kepala dan childish karena sering marah-marah tanpa sebab dan tak terduga. Tapi Zas selalu menghadapinya dengan senyum khasnya dan canda kocaknya. Pernah juga, Zas yang merasa lelah, akibat tekanan dari seseorang, yang menganggap dirinya tak pantas menjadi sahabat Zia, meminta Zia untuk tidak menjadi sahabatnya lagi. Saat itu Zia harus berusaha keras untuk menyakinkan bahwa hal itu tida benar. Makin Zas menolaknya makin Zia tertantang untuk meyakinkannya. Karena dalam bersahabat tak ada kata putus. Karena bersahabat untuk selamanya

Benarkah?

Apa yang sebenarnya terjadi antara Zia dan Zas? Nantikan kelanjutannya pada edisi berikutnya

0Shares

4 thoughts on “Pelangi Persahabatan -Part 1

Tinggalkan Balasan