Pelangi Persahabatan Part 2

Pelangi persahabatan begitu indah diceritakan pada Part 1. Pelangi Persahabatan-Part 1 klik di sini bila belum baca ya.

Zia menghela nafas. Benarkah bersahabat untuk selamanya?. Akankah persahabatannya dengan Zas tetap ada  tidak lekang oleh waktu? Apakah peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu, akan menjadi pertanda bahwa Zas dan dirinya tetap bersama atau akan berpisah untuk selamanya?.

Zia tak mengerti, mengapa setelah perjalanan panjang kebersamaan diantara mereka, tiga puluh tahun, Zas bisa melakukan hal, yang tak pernah dibayangkan olehnya terjadi dan dilakukan oleh Zas. Zia tak habis pikir kenapa hal ini bisa terjadi. Zia menyadari itu hak Zas. Karena itu hidup Zas. Tapi kenapa bisa, Zas tidak memberitahukan jauh sebelumnya? Kenapa Zas tidak melibatkannya dalam persiapan moment penting dalam hidup Zas? Bahkan mengenalkan lelaki itupun, tak pernah Zas lakukan.

Apa yang salah dengan kebersamaan mereka selama ini? Zas memberitahukan setelah semua selesai dipersiapkan.  Setelah semua tinggal menunggu saatnya tiba. Bukan sebelumnya. Padahal saat itu Zia khawatir, dengan keadaan Zas paska resign dari pekerjaannya, tanpa ia tahu Zas justru sedang sibuk merencanakan pernikahannya. Kenapa Zas tak memberitahukannya? Apakah memang hanya seperti itu arti dirinya, untuk Zas selama ini? How could she do it to me?? berkali-kali Zia bertanya dalam hati.

Zia mengusap butiran bening yang menggenang di wajahnya. Ia sadar ia telah berkata kasar pada Zas, meski lewat sms, beberapa hari lalu. Zia sadar, ia telah melakukan hal yang tak pernah ingin ia lakukan untuk Zas. Berulangkali, Zia mengucapkan kata maaf meski Zas takkan pernah tau. Berulangkali ia memaki dirinya, karena tak mampu berpikir jernih, dalam dilema yang cukup berat baginya. Pertentangan antara hati dan rasionalitas seorang Kezia Azzahra, pertentangan antara konsistensi prinsip dan relationship yang telah ia bina selama ini dengan Zaskia Wulandari. Pertentangan antara amarah dengan rasa sayang.  Ya amarah dan sayang ibarat gelombang yang bergemuruh dalam dada. Entah yang mana yang akan memenanginya.

Zia sadar ia bukan sahabat yang baik untuk Zas. Dimana ia, saat Zas sakit dan membutuhkan supportnya setelah mengambil keputusan resign dari kantornya? Tentu untuk seorang Zas yang sangat berdedikasi dalam pekerjaan, hal itu sangatlah berat. Ada dimana ia? . Ada dimana ia, saat ayah tercinta Zas terbaring di rumah sakit? Sebagai seorang sahabat seharusnya ia ada disamping Zas.

Zia menarik nafas panjang. Ya benar ia bukanlah sahabat yang baik untuk Zas. Pada saat Zas melewati hari hari berat, ia tak ada didekatnya. Jadi haruskah ia sekarang meradang marah pada Zas, hanya karena Zas tidak berterus terang tentang hubungannya dengan Jayhan dan terlambat memberitahukan rencana pernikahannya ? haruskah Zia merasa sakit hati? Kenapa ia harus merasa sakit hati, sementara saat Zas membutuhkannya ia tak ada?

Kata kata Rizal  tadi siang masih segar terngiang di telinganya. Masalah yang terjadi antara dirinya dan Zas adalah how to value a friendship. Everybody have a value about friendship. Wajar saja ada perbedaan di tiap orang, karena setiap orang tumbuh dengan  konsep dan prinsip hidup yang berbeda.  Kenapa harus marah, saat sahabat tercinta kita, tidak melibatkan diri kita secara total dalam moment-moment bahagianya? Selama sahabat kita bahagia, dengan atau tanpa kita terlibat, it’s enough.

Justru, bila saat sahabat kita lagi susah, lagi jatuh, lagi sengsara, kita tak ada disisinya, hal itu justru sangat menyesakkan dada.  Ya Rizal benar. Karena seorang sahabat adalah orang yang tetap bertahan, disamping kita pada saat –saat tergelap dalam hidup kita. Orang yang tetap bertahan waktu kita usir pergi. Orang yang tetap menunggu kita, waktu kita bilang jangan menunggu. Orang yang secara fisik, mungkin tidak selalu eksis disisi kita, tapi spirit dan kasihnya bisa kita rasakan sepanjang hidup kita. Orang yang saat semua orang pergi, meninggalkan kita, dia tetap ada buat kita.

Zia menghela nafas. Benar. Menjadi sahabat sejat, jauh lebih penting ketimbang menuntut orang untuk jadi sahabat seperti yang kita mau. Karena dalam persahabatan tidak ada standar, tidak ada kriteria, Tidak ada level. Tidak ada itung-itungan, kalau kita sudah lakukan ini, itu buat dia, kenapa dia begini begitu pada kita. Yang seperti itu, apa kita bisa menyebut diri kita sahabat? Persahabatan tidak bisa dipaksa. Biarkan mengalir apa adanya. Waktu yang akan menguji kualitas persahabatan itu sendiri.

Zia mengusap keringat yang membasahi wajahnya. Benar. Apa dirinya bisa disebut sahabat? Selama ini ia masih saja menuntut dan menuntut. Ia marah karena Zas seperti menyembunyikan keberadaan Jayhan, tapi…..selama inipun ada satu ruang, yang belum pernah ia ceritakan pada Zas. Apakah ia sudah jujur selama ini pada Zas? Sudahkah? Apakah itu namanya sahabat?. Bahkan memeluk dan mengucapkan selamat untuk sahabatnyapun tidak ia lakukan……Ya Allah….ampunkan hambaMu ini yang khilaf! ……Zas..maafkan aku……..

Ditempat lain, Zas pun tengah termenung. Ia tak menyangka Zia sanggup menuduh dirinya telah menikam dari belakang, istilah Zia ,yang sejak beberapa hari lalu, cukup menganggu hatinya.Tak pernah terpikir olehnya, untuk melakukan hal itu kepada Zia, sahabat kecilnya. Tiga puluh tahun bukan waktu yang pendek untuk mengenal pribadi Zia, yang bisa meledak bagai bom atom di Hiroshima – Nagasakhi, namun bisa semanja anak kucing, dalam waktu yang tak berjarak lama. Zas memahami dan bisa menerima hal itu, sebagai bagian dari diri Zia yang harus ia terima. karena Zia adalah bagian dari hidupnya. Zia-nya yang selalu memberikan kekuatan yang tak kan tergantikan, meskipun dalam ruang hatinya ada Jayhan.

Sesungguhnya Zas butuh Zia lebih dari sebelumnya, karena kehidupan  yang berjalan bersama Jayhan. mungkin tidaklah semudah dan seindah tampaknya. Zas sadar begitu banyak yang ingin ia ceritakan pada Zia. Begitu banyak ,hingga tak tahu harus memulai dari mana. Sementara semua terjadi begitu cepat. Keputusan itu harus segera diambil. Sesungguhnya Zas memahami apa yang Zia rasakan.

Zas memahami kemarahan Zia. Walau sebenarnya ia tak mengerti, mengapa bisa semarah itu Zia padanya. Apakah tiga puluh tahun bersahabat,  tidak membuat Zia mengerti tentang dirinya?. Andai saja Zia tahu kalau  Zas tak pernah bermaksud mengesampingkan arti dan kehadiran Zia dalam hidupnya. Zas ingin, Zia tahu betapa ia menginginkan kehadiran Zia di hari bahagianya.  Zas ingin, Zia mendampinginya. Karena tak ada sahabat  seunik Zia.  Zia yang Allah hadirkan dalam hari harinya untuk saling menguatkan.

”Tapi … kau masih diam membisu” bisik Zas lirih.

 Zas sadar, saat ini apapun yang akan ia katakan. pasti tak bisa diterima oleh Zia. Yang bisa Zas lakukan hanyalah berdoa dan membiarkan waktu yang akan membawa Zia, sahabat kecilnya, kembali padanya. Seperti yang sudah-sudah.

Zas tersenyum optimis. Zas yakin akan itu. Zia pasti kembali. Seperti Pelangi yang selalu hadir menghiasi bumi.

“Friendship is sharing every single step in your life with your best friend. Your life isn’t complete when your best friend uninvolved in your every moment”

Sobat Curhat,

apa yang bisa kita petik dari cerita fiksi di atas?

Dalam sebuah relasi apapun labelnya tetap membutuhkan komunikasi. Waktu tidak menjamin kita dapat memahami orang-orang terdekat kita. Namun yang pasti Persahabatan selalu memberi warna dalam hidup kita seperti pelangi yang penuh warna warni indah dalam kanvas kehidupan kita.

Jika saat ini dirimu dan sahabatmu sedang mengalami badai yang menghantam persahabatan kalian, ingatlah selalu hal baik dari sahabatmu. Jangan biarkan sahabatmu pergi karena sahabatmu adalah bagian dari kehidupanmu. Selalu ada ruang di hati dan hidupnu untuk mereja, sahabat-sahabatmu.

Pertahankan persahabatan kalian ….

Baca Yuk artikel bertema Laundry, klik di sini

0Shares

1 thought on “Pelangi Persahabatan

Tinggalkan Balasan