cover KDRT 2
BUKU

Peraih naskah terbaik Melepas KDRT 2

Setelah menyimak latar belakang antologi Melepas KDRT, yuk kita tengok Peraih naskah terbaik Melepas KDRT 2. Beberapa naskah dalam buku ini cukup menarik perhatian Dewi. Para penulis buku ini dari berbagai latar belakang, dan beberapa dari mereka adalah para Psikolog.

Pemilihan naskah terbaik tentu membutuhkan diskusi panjang dari pihak penerbit. Seperti tulisan salah satu penulis yang membuat Dewi merana saat membacanya:

…. Lolos dari lubang buaya masuk pada lubang singa, mungkin ini pribahasa yang paling tepat menggambarkan keadaanku saat ini. Aku menikah diusia yang tergolong muda. Aku berpikir bahwa ketika aku menikah aku akan terbebas dari belenggu dan siksaan ayahku. Sedari kecil aku menjadi sasaran kemarahan ayahku, semua kesalahan selalu ditimpakan padaku. Berbeda dengan adik-adikku. Mereka dapat hidup tenang tanpa siksaan ayah. ….. (Melepas KDRT 2).

Sebuah kisah oleh Fuji astutik, seorang dosen dan juga Psikolog.

Ada juga cerita dari salah satu penulis yang berkontribusi 2 kisah, ini adalah salah satu kisahnya:

…. “Maaf mbak, kalau posisi jatuh, lukanya berbeda. Lebam dan luka ibu, lebih mirip seperti seorang yang baru saja berkelahi.” Ujar suster tersebut pelan. “Jika memang ada yang melukai ibu, atau terjadi kekerasan, kami dapat memberikan rujukan lembaga yang bisa mendampingi hal seperti ini mbak. Barangkali suatu saat memerlukan.” Suster meneruskan informasinya sambil menyelipkan sebuah brosur. Tertera nama sebuah lembaga crisis center di kota tempat tinggal Tiara. Nama itu tidak asing bagi Tiara. Beberapa kali ia mendengar nama WCC tersebut. Salah seorag temannya pernah konseling ke tempat itu saat ia mendapat kekerasan dari pacarnya berupa hantaman setrika oleh sang pacar. Namun, hingga saat ini, ia belum memiliki keberanian untuk melangkahkan kakinya menuju ke sana …. (Melepas KDRT 2)

Sebuah kisah oleh Ekandari Sulistyaningsih atau biasa dipanggil Ekan. Seorang pemerhati isu perempuan dan anak yang tinggal di Jogja. Lulusan Psikologi UGM ini aktif menjadi konselor perempuan korban kekerasan di RAWCC sejak tahun 1999.

Naskah Terbaik membebaskan KDRT

Masih banyak tulisan inspiratif lainnya pada buku ini. Selain mendapatkan berbagai wacana dan pembelajaran pada buku antologi ini, kita pun bisa melihat tulisan-tulisan luar biasa pemilik naskah terbaik Melepas KDRT jilid 1 dan jilid 2.

Buku antologi ini dengan kata “Melepas” dengan tujuan agar kisah-kisah ini mampu menjadi inspirasi bagi para pembaca untuk benar-benar Melepas Kekerasan dalam Rumah Tangga, baik secara konkret atau mendamaikan pernikahannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Untuk memiliki bukunya, bisa menghubungi Dewi atau langsung kepada penulisnya dengan nama pena berikut ini di Media sosial:

  • Dewi Adikara
  • Fuji Astutik
  • Re Reynilda
  • Sabiqis Edogawa
  • Nia Yusuf
  • Amira
  • Nyit2
  • Ekan NS
  • Rinaksih Widiarsanti
  • Arlin Indriani
  • Ismii Mommiss
  • Hendriyani OK
  • Elgur Khodijah
  • Nila Mahya
  • Neni Nuraeni
  • Sukma
  • Rizki Dawanti

Melepas KDRT jilid 1 dan 2 adalah sebuah buku antologi yang ingin mengajak para pembacanya untuk Melepaskan Kekerasan dalam Rumah Tangga, baik diri atau pun orang-orang terdekat. Selayaknya sebuah rumah tangga penuh dengan rasa Cinta.

Cinta adalah sebuah anugerah yang terindah dari Yang Maha Kuasa: Allah SWT. Secara ideal, kita menikmati cinta dengan deru aliran darah yang membuat debaran hati berdetak kencang. Bahkan terkadang cinta itu bisa mengalahkan logika. Siapa kira perasaan cinta yang sangat besar itu menimbulkan rasa posesif atau bahkan menjadi agresif?

Dewi spoiler sedikit ya, pemilik naskah terbaik pada buku Melepas KDRT 2 memaparkankisah yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Rasa cinta yang biasanya bisa menimbulkan posesif atau agresif, justru tidak dengan kisah dalam tulisannya. Siapakah pemilik naskah terbaik itu?

Melepas KDRT 2

Selamat mbak Rinaksih, telah menjadi pemegang naskah terbaik pada buku antologi Melepas KDRT jilid 2….!!!

Sahabat, ingin mengetahui bagaimana kisah yang dituliskan? Segera miliki bukunya:)

Salam persahabatan,

Dewi Adikara.