Pertemuan Kedua, Takdirkah?

Rintik hujan sudah sejak pagi mengguyur rumah-rumah penduduk. Sesekali reda, hingga siang tadi berganti deras.

Malam datang menjemput, tiga jam yang lalu. Hujan masih saja turun, seolah meluapkan bebannya.

Tak sempat lagi, matahari bersinar. Menebar hangat sinarnya, kala hawa dingin menyergap saat subuh. Tertutup awan mendung kelabu, dengan sempurnanya.

Mungkin mereka cemburu, karena akhir-akhir ini cuaca semakin panas. Tak memberi kesempatan untuk menaungi para pencari nafkah, teriknya matahari.

Kunyalakan kompor untuk menjerang air, sekedar menghangatkan badan. Terlalu dingin jika haru mandi tanpa air panas. Segar memang, tapi tidak untuk pagi ini. Mungkin karena sudah memasuki musim penghujan.

Hawa dingin masih setia menemani pagi, saat aku keluar dari kamar mandi. Hmm, ingin rasanya aku bolos kerja saja. Dan melanjutkan tidur pagi. Atau, sekedar menghabiskan pagi di atas tempat tidur, menonton drama dari Negeri Gingseng seharian.

Ide yang bagus kan?
*
Aku … tak pernah menyangka hari ini akan tiba juga. Hari dimana aku berjumpa lagi dengannya, sosok yang dulu cukup menyita hati. Saat masa putih abu-abu.

Dan kini, sosok itu ada di depanku. Tengah menatap lembar demi lembar, yang tadi kusodorkan padanya. Lembar pengajuan penambahan kuantitas beberapa produk, untuk minimarket tempatku bekerja.

Eko namanya, dia adalah kakak kelasku.

Sekilas, aku tak menyadarinya. Tapi setelah kuperhatikan, ia adalah sosok yang sangat netraku kenal. Dan suara beratnya saat berbicara, bagiku seperti suara serak-serak basah milik Judika, jebolan ajang pencarian bakat yang terkenal itu.

“Oke. Karena penjualan di toko ini positif, besok bakal diproses penambahannya,” ujar Eko selesai membaca.

“Baik, Pak. Terima kasih atas penambahannya,” kuulurkan tanganku yang langsung Pak Eko sambut.

“Ini Rita yang alumni SMA S bukan?”

“Iya, Pak. Kebetulan saya adek tingkat, dua tingkat di bawah bapak.”

Eko melirik jam tangan yang ada dipergelangan kirinya.

“Sudah jam segini, mau makan siang bareng?”

“Kalau bapak nggak keberatan.”

“Panggil Mas atau nama aja. Bapak kok rasanya tua banget aku,” ujarnya.

Sebenernya, sewaktu SMA aku tak begitu dekat dengannya. Obrolan kita hanya sekilas pandang, lewat tatapan mata yang saling bertemu.

Tapi, entah kenapa obrolan siang itu mengalir begitu saja. Seolah kita adalah teman dekat yang lama tak bertemu.

Tentu saja, bagiku ini adalah kesempatan yang nggak akan datang lagi bukan? Bagai pucuk dicinta, ulam pun tiba.

Karena sejak saat itu pula, Mas Eko sering menghubungiku. Dan sesekali, ia mengajakku keluar untuk sekedar makan siang atau ngopi, sepulang kerja.
*
Sudah tiga bulan, sejak pertemuan kedua itu. Rasanya semakin dekat saja hubunganku dengan Mas Eko. Tapi, tak jelas juga, hubungan apa yang ada diantara kita.

Karena, baik aku atau pun Mas Eko, tak pernah menyatakan perasaan lebih. Aku pun, tak pernah menanyakan mengenai hubungan ini. Membiarkannya berjalan begitu saja, tak apa kan?

Tapi, tak salahkan, jika aku berharap lebih? Berharap, semoga bersama Mas Eko lah, kuakhiri masa lajang diusia yang hampir menginjak seperempat abad.

Tamat(?)

Jombang, 08 Desember 2020
Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan