“Maka, bagiku, mencintaimu adalah berhenti mengandaikan semua hal baik yang tak ada dalam dirimu sekaligus memaafkan semua hal buruk yang ada dalam dirimu” – Fahd Pahdepie

Sebuah quote yang membuat jantung saya seketika berdegup tak beraturan saat membacanya. Seketika mengingat betapa seringnya saya, dalam menjalani 10 tahun pernikahan kami, berandai-andai untuk banyak hal yang saya harap ada dalam diri suami saya. Astaghfirullah hal adzim..

Tidak bisa dipungkiri, perkawinan adalah sebuah momen sakral yang harus dilalui oleh setiap individu untuk memenuhi tugas perkembangannya. Hanya untuk itu saja kah? Tentu saja tidak sahabat curhat. Kita harus mengimani ketika agama mewajibkan sesuatu hal, pasti akan ada kebermanfaatan yang besar didalamnya. Namun mengapa cukup banyak pasangan gagal mempertahankan rumah tangga mereka? Konflik yang terus terjadi bahkan berujung KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), Ketidakpuasan dengan pasangan, Perselingkuhan, dll. Isu-isu yang hingga saat ini seringkali saya temui di ruang praktik.

Dalam beberapa pekan kedepan saya akan coba untuk memberikan sudut pandang psikologi dalam memahami makna pernikahan. Sekaligus sebagai pengingat untuk saya pribadi sebagai istri untuk terus berbenah diri agar terus mengingat hal-hal apa saja yang perlu kita pahami tentang pernikahan itu sendiri. Semoga tulisan ini juga bermanfaat untuk sahabat curhat yang sedang mempersiapkan diri untuk memasuki gerbang pernikahan ya..

Esensi Perkawinan

Dalam UU Perkawinan no.1/ Bab 1 pasal 1 UUD RI dijelaskan bahwa perkawinan merupakan ikatan batin antara seorang wanita dan seorang pria sebagai suami dan sebagai istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, kedua pasangan saling memahami eksistensi perkawinannya dan saling memelihara pertukaran instrumental dan ekspresi emosinya secara berkelanjutan (Lestari, 2013).

Ada beberapa poin menarik dalam definisi tersebut. Yang pertama bahwasannya perkawinan digambarkan sebagai sebuah ikatan batin. Seseorang yang bukan darah daging kita kok bisa ya membangun sebuah ikatan batin. Bagaimana bisa? Salah satunya adalah dengan pemeliharaan pertukaran instrumental yaitu kepemilikan masing-masing. Baik itu barang/ uang dll. Pernikahan membuat dua insan manusia menjadi satu dan merasa milikku juga milikmu. Perasaan menjadi satu inilah yang akan memperkuat ikatan batin satu sama lainnya.

Poin kedua adalah pemeliharaan ekspresi emosional secara berkelanjutan. Artinya, pasangan perlu untuk mengekspresikan emosinya secara bebas dalam pernikahan. Secara bebas disini artinya semakin besar kesempatan seorang suami/istri untuk mengekspresikan emosinya dalam pernikahan dan mendapatkan penerimaan serta respon dari pasangannya, akan membuatnya semakin dipahami secara pribadi. Kondisi ini secara terus-menerus akan semakin menumbuhkan ikatan batin diantara mereka.

Manfaat Perkawinan

Selain untuk memenuhi tugas perkembangan, melaksanakan syariat agama dan mencari kebahagiaan, Olson & Olson (2000) menyebutkan beberapa manfaat perkawinan sebagai berikut:

  1. Orang yang menikah memiliki gaya hidup yang lebih sehat. Dengan menikah, seseorang akan bisa terhindar dari seks pranikah serta memiliki partner untuk saling memotivasi untuk habit yang positif.
  2. Orang yg menikah hidup lebih lama. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pernikahan bahagia menurunkan hormon kortisol (yang dihasilkan ketika stres) sehingga minim mengalami gangguan fisik.
  3. Orang yg menikah memiliki kepuasan relasi seksual yg lebih baik. Adanya pasangan halal membuat seseorang lebih merasa puas dalam pernikahan.
  4. Orang yg menikah lebih sejahtera secara ekonomi. Pernikahan membuat seseorang lebih bersemangat dalam mencari rejeki untuk keluarga. Adanya pasangan (istri) yang membantu pengelolaan keuangan menjadi lebih teratur.
  5. Anak-anak pada umumnya tumbuh lebih baik apabila diasuh oleh orangtua lengkap.

Tantangan dalam Perkawinan

Kalau baca manfaat perkawinan diatas kayaknya indaah banget kalau kita bisa capai semuanya ya sahabat curhat. Hanya saja, seberat makna Mitsaqan Ghalidza dalam akad nikah dimana janji antara suami istri digambarkan sebagai sesuatu yang agung dan sangat berat, maka tentu saja akan ada tantangan dan ujian yang menyertai perjalanan perkawinan itu sendiri.

Secara umum, tantangan yang wajib dilalui oleh para pasangan yang masuk dalam jenjang perkawinan adalah penyesuaian antar pasangan. Perbedaan latar belakang keluarga, pendidikan, kebiasaan, adat istiadat serta banyak hal lain yang berbeda antara kita dengan pasangan adalah tantangan awal yang harus kita lalui. Faktanya, proses pacaran sama sekali tidak menjamin mulusnya penyesuaian dalam pernikahan dan juga tidak menjamin kelanggengan dalam rumah tangga. Padangan suami istri adalah dua orang yang secara esensial berbeda. Pola pikir, pengalaman pengasuhan, kebutuhan-kebutuhan, dan nilai-nilai yang di anut tentu saja berbeda. Belum lagi ditambah dengan tantangan penyesuaian ini bukan hanya dengan pasangan kita saja, tapi juga dengan keluarga besarnya.

Baca juga yuk:

Empat Pilar Perkawinan

Untuk itulah kita perlu tau, apa saja pilar-pilar perkawinan yang harus kita pegang untuk keutuhan dan kelanggengan rumah tangga:

Pilar I : Cinta kasih tulus dan rasa hormat antar pasangan. Dengan memiliki toleransi yang besar kepada pasangan (tidak cemburu berlebihan kepada pasangan), serta komunikasi penuh kehangatan, maka cinta kasih akan dapat terus terjaga dalam rumah tangga. Unconditional positive regard (penerimaan tanpa syarat) dapat menjadi gambaran bagaimana seseorang mencintai dengan tulus tanpa ada syarat apapun. Kita mencintai pasangan bukan karena dia memiliki sesuatu yang kita angan-angankan, namun sebagaimana mereka apa adanya.

Pilar II: Keterbukaan berdasar kesepakatan yang dibicarakan pada saat awal pernikahan, dalam pengelolaan penghasilan keluarga. Penting bagi pasangan yang akan menikah untuk berdiskusi bahkan membuat kesepakatan mengenai pengelolaan keuangan dalam keluarga nantinya. Jangan sampai setelah menikah istri protes karena suami tidak memberikan seluruh penghasilannya, atau suami yang merasa kecewa karena uang hasil kerja istri habis digunakan untuk keperluannya.

Pilar III: Penyesuaian dalam kehidupan seksual dengan upaya untuk memperoleh kondisi “wellbeing” (kenyamanan psikoseksual) antar pasangan. Pasangan harus memahami kebutuhan seksual masing-masing. Membicarakan permasalahan seks dengan pasangan bukan hal yang tabu ya sahabat curhat. Dengan komunikasi yang terbuka, kondisi wellbeing itu akan menjadikan hubungan seksual menjadi sesuatu hal yang fun dan menyenangkan bagi kedua belah pihak. Well being juga bisa kita raih dengan meletakkan masalah seksual sejajar dengan masalah fisik dan emosi.

Pilar IV: Kebersamaan dalam aktivitas spiritual. Meliputi kebersamaan dalam merayakan hari raya, menjalankan ibadah bersama-sama, datang kajian bersama, dll. Bahwasannya datangnya cinta kasih sejati adalah dari Allah, maka sudah selayaknya kita selalu menengadahkan tangan kita (bersama dengan pasangan) untuk senantiasa berdoa agar cinta kita dengan pasangan semakin dikuatkan setiap harinya.

Semoga ulasan ini membuat kita senantiasa mengingat esensi dari perkawinan dan lebih semangat lagi untuk membangun pilar-pilar perkawinan dalam rumah tangga kita agar semakin kokoh setiap harinya ya sahabat curhat..

Special note: Tulisan ini saya dedikasikan untuk pasangan hidup saya, yang genap 10 tahun bersedia berbagi bahagia, tawa, syukur, bahkan airmata dalam mengarungi ujian dalam pernikahan. Terimakasih untuk tetap bertahan dan mempertahankan saya. I love you.

Referensi:

  • Lestari, Sri., (2013). Psikologi Keluarga. Cetakan ke.2. Kharisma Putra Utama.Jakarta.
  • Handout Workshop Family Therapy oleh Prof. Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, Psi. Klin.

Iklan
0Shares

1 thought on “Pilar-Pilar dalam Perkawinan

Tinggalkan Balasan