Rumah Literasi Pertamaku.

Sejak mengenyam bangku madrasah dasar, aku paling suka dengan mata pelajaran bahasa. Baik bahasa Indonesia atau pun bahasa Inggris, kecuali bahasa Arab. Rada-rada pusing saat ada tugas bahasa Arab.

Menginjak tingkatan menengah pertama, kenal dengan seorang kawan yang suka menulis fanfic, alias fan fiction dari suatu band yang saat itu lumayan disukai.

Berkat itu pula, aku juga mulai suka menulis. Lebih tepatnya, menulis ulang naskah drama yang pernah aku baca. Lanjut coba nulis puisi ala kadarnya dan kisah teman yang waktu itu meminta untuk dijadikan sebuah cerita.

Bahkan, waktu itu pernah berjanji dengan seorang teman, untuk membuat buku bersama. Aku sebagai tukang nulis ceritanya, dan dia sebagai tukang gambar. Yup! Sebuah komik. Tapi itu hanya berujung janji yang belum terwujud sampai sekarang.

Ke jenjang menengah atas, aku masih suka corat-coret di halaman belakang buku pelajaran. Iseng-iseng nulis juga di buku Lembar Kerja Siswa (LKS), saat jam pelajaran kosong atau jenuh dengan penjelasan dari guru (maafkan siswimu satu ini bapak ibu guru … hiks).

Masa putih abu-abu, aku semakin aktif menulis. Meski cuma corat-coret. Pencapaian tertinggi saat itu, aku memberanikan untuk ikut lomba menulis cerita pendek.

Menang? Enggak dong. Hahaha ….

Setidaknya, aku sudah pernah mencoba untuk ikut lomba. Pikirku saat itu.

Lanjut ke masa-masa kuliah, mencoba tetap aktif menulis. Meski cuma sekedar menulis diari kegiatan di kampus. Lebih tepatnya curhat sih.

Apa pernah ikut lomba menulis lagi? Enggak, sudah terlanjur tenggelam dengan tugas-tugas kuliah.

Yah, lambat laun, aktifitas menulis cerita mulai berkurang. Hanya sekedar menulis kata-kata yang lagi kurasakan saja. Alias curhat. Hihihi ….

Oke, kita lompat ke waktu setelah lulus kuliah. Saat aku kenal dengan mbak Dewi Adikara di grup kelas menulis. Nggak banyak pesertanya, tapi itu lebih baik dan semua aktif tanya jawab dengan pemateri.

Apa hasil dari kelas menulis? Ilmu kepenulisan, teman sesama penulis. Buku? Nggak jadi, karena kontributornya nggat terpenuhi.

Jujur, waktu itu kecewa. Banget! Karena, entah sejak kapan, aku sangat ingin punya buku yang ada namaku (bukan skripsi ya, itu tugas wajib seorang mahasiswa).

Dan tahu apa? Setelah kelas berakhir, bubar. Nggak lama setelahnya, aku lihat status dari mbak Dewi, entah status dari aplikasi warna hijau atau kotak warna-warni atau mungkin huruf f. Coba menanyakan, apa masih bisa ikutan eventnya?

Jawabnya apa? Tentu aja boleh dong. Tapi, berhubung waktu itu temanya agak berat, menurutku, jadi ragu buat lanjut. Alhasil, nyemplunglah daku di sebuah grup yang nantinya penuh dengan para gadis. Sekaligus rumah literasi pertamaku.

Bersama Penerbit Rumah Media, atau yang lebih dikenal dengan Rumedia, melalui proses yang panjang, akhirnya lahirlah Cerita Si Gadis.

Event pertama yang kuikuti, berbuah tiga eksemplar buku! Yeey ….

Berat nggak sih nulis buku? Hmm … enggak dong! Kan di Rumedia nulisnya bareng-bareng. So, nggak ada tuh yang namanya berat.

“NuBar, Nulis Bareng – Menulis Buku Terasa Lebih Ringan.”

penerbit rumedia

Aah … tapi aku nggak pandai nulis, gimana dong?

Tenang …. kini ada channel NuBar Pro di youtube! Klik aja link berikut ini.

https://www.youtube.com/channel/UCnFVZAeu4LtjTEOgU9KuXFA

Channel NuBar Pro, selain mengunggah puisi-puisi karya Pak Ilham, selaku founder Rumedia. Ada juga tips-tips tentang kepenulisan, jadi teman-teman juga bisa belajar di sana.

Nah, biar nggak ketinggalan info mengenai kepenulisan, jangan lupa untuk subscribe channelnya yaa.

So, masih ragu buat nerbitin buku? NuBar-in aja yuk!

Jombang, 18 Nopember 2020

Salam Literasi

0Shares

Tinggalkan Balasan