Saat Musim Gugur Menyapa

Rasanya, aku salah menerima tawaran kunjungan ke Negeri Matahari. Apalagi bulan Maret, yang bertepatan dengan musim semi. Disepanjang jalan, pohon sakura bermekaran.

Banyak pasangan muda-mudi, sekumpulan remaja ataupun teman-teman se-kantor, yang menikmati saat-saat sakura mekar. Menggelar tikar dibawah pohon sakura, bercengkrama ria.

Hanya saja, aku benci bunga sakura. Bukan karena aku masih sendiri. Bisa saja aku datang bersama kenalanku, yang asli penduduk Jepang.

Bukan pula karena aku laki-laki, lantas membencinya. Tapi karena kenangan yang benar-benar ingin kuhapus dari ruang memori.

**

28 Maret 2019, tahun lalu saat bunga sakura mekar sempurna.

Sudah tiga hari aku menyiapkan ini semua. Tentu saja dengan bantuan Kenji dan yang lainnya.

Hari ini aku akan melamar Hana, gadis jepang yang sejak pertama kali bertemu, telah menyita separuh hatiku. Gadis berlesung pipit itu cukup membantuku beradaptasi, saat awal kedatanganku.

Meski awalnya ragu untuk sekedar meminta saran, karena Kenji dan Hana cukup dekat.

Tapi Kenji bilang, kalau dia dan Hana hanya sahabat warisan. Karena kedua orang tua mereka sahabat karib, yang otomatis membuat keduanya dekat.

Kenji menyarankan untuk melamar Hana saat musim semi, tepat saat bunga sakura mekar sempurna. Karena Hana sangat menyukai bunga sakura yang bermekaran.

Guys, aku mau beli cemilan lagi, do you want something?” tanya Kenji.

Sweet bun, bro.

“Hana?”

Same with Tama, ucap Hana.

Kenji mengajak yang lainnya untuk ke minimarket di seberang taman. Tentu saja, karena ini adalah rencananya. Memberikan waktu untuk berduaan dengan Hana.

Good luck, my bro!” Kenji menepuk pundak kananku sebelum beranjak.

Sesaat suasananya jadi sedikit canggung, Hana dan aku jarang berduaan seperti ini. Karena dimana ada Hana, pasti ada Kenji. Pun sebaliknya.

Hana duduk berselonjor, dengan kedua tangan yang menyangganya. Ia menatap ke atas, menikmati perpaduan langit biru yang cerah dengan warna merah jambu bunga sakura.

Dipejamkan matanya saat angin membelai lembut rambut sebahunya yang ia urai. Tanpa ia tahu, ada kelopak bunga sakura yang menempel di ujung kepalanya.

Kupandangi wajah berlesung pipit itu.

“Hana, boleh aku tanya sesuatu?”

“Hmm?”

What do you think about me? As a man.

Shit! Kenapa malah nanya beginian sih! teriak batinku.

Hana memandang Tama heran, kedua manik mata mereka saling bertemu.

You’re good man, Tama. And I like you ….

Rasanya ada kembang api raksasa yang meledak dalam hati Tama, mendengar jawaban Hana. Terang  dan meriah.

Tama hendak mengeluarkan kotak kecil, yang sedari tadi ia simpan di saku celananya.

“… as a friend. You know, like Kenji with me,” imbuhnya.

But, I like you, in different way,” Tama mengeluarkan kotak kecil itu, lantas menyodorkannya pada Hana.

Hana tak tampak terkejut, ia seperti sudah menduga ini akan terjadi. Ia hanya menatap kotak itu lamat-lamat.

I’am so sorry, Tama. I’ve ready to love someone.

Hey! We’re back,” teriak Kenji, diangkatnya dua kantong belanjaannya tinggi-tinggi.

Baru kali ini Tama sadari, Hana memandang Kenji berbeda. Caranya memandang Kenji dan dirinya beran-benar berbeda. Tampak jelas, ada binar-binar cinta, saat ia memandang Kenji.

Ugh! Sial! Kenapa selalu seperti ini? Baru juga suka sama orang, tapi kenapa sudah harus berhenti?! Apa Kenji tahu soal ini? Apa dia diam-diam tahu, tapi pura-pura tak tahu? Tama mengepalkan jemarinya.

Sorry, I’ve to go,” ujar Tama berlalu, meninggalkan teman-temannya.

“Tama ….”

Kenji yang hendak mengejar Tama, mengurungkan niatnya. Memberikan Tama waktu untuk menyendiri.

**

“Tama!”

Tama terlalu fokus menatap cerahnya langit, tanpa awan sedikitpun, sampai ia tak menyadari kalau sedari tadi ada yang memanggilnya.

Pemilik suara yang memanggilnya tadi, tengah menggenggam tangan perempuan yang sangat dikenalnya. Mereka tersenyum melihat Tama.

“Sudah setahun sejak itu, tapi kalian makin lengket aja. Mau pamer nih?” tanya Tama.

Sorry bro. I don’t have a choice. Cause, I love her too,” Kenji mencolek ujung hidung Hana.

“Oh ya, we’ve something for you,” Hana menyerahkan sepucuk surat, yang nampaknya seperti kartu undangan.

Tama menerima dan membuka kartu undangan itu. “Kalian akan menikah?” tanyanya terkejut.

Keduanya menjawab pertanyaan Tama dengan tawa bahagia.

“Oh maan … semoga kalian langgeng yaa.”

Mereka bertiga melanjutkan obrolan di kafe, sekedar membahas kenangan saat mereka masih bekerja ditempat yang sama.

Sekarang pun masih, hanya saja, Tama sudah kembali ke kantor cabang yang ada di Indonesia. Ia hanya sesekali ke Jepang.

*

Akhir bulan November, mulai memasuki musim gugur. Disepanjang jalan pepohonan berubah warnanya, dengan dominasi warna merah atau kuning keemasan.

Suhu di jalanan terasa cukup dingin bagi Tama. Ia sering bolak-balik ke Jepang, tapi itu tak membuatnya kebal dengan suhu dingin.

Tama mampir sebentar ke kafe, memesan secangkir kopi panas untuk sekedar menghangatkan tenggorokannya. Hari ini suhu undaranya benar-benar dingin, mengenakan jaket tebal pun tak cukup membuatnya merasa hangat.

Sesampai di ruangannya, sudah ada yang duduk di depan mejanya.

Perempuan berwajah oriental, khas jawa, memutar kursinya saat mendengar pintu terbuka. Ia pun berdiri dari duduknya dan membungkuk memberi salam.

Hello Sir, I’am Rona, your new assistant.

Tama terdiam. Ia membeku melihat senyum manis Rona. Dirasakannya ada sensasi hangat yang mulai menyelimuti.

Bukan hanya menghangatkan ruangan, Rona pun sepertinya menghangatkan hati Tama yang dulu sempat membeku.

Jika di musim semi lalu, membekukan hatinya. Akankah, musim gugur yang dingin ini dapat mencairkannya?

Jombang, 20 Nopember 2020

Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan