“Ma, besok pagi aku mau gowes bareng teman-teman asrama”, begitu kata Fawaz saat menjelang tidur.

Aku yang berada disampingnya langsung mendongak seraya tak percaya dengan kalimat Fawaz. Esok adalah puasa pertama, itu artinya sebelum shubuh harus sahur. Kalau gowes setelah shubuh mana mungkin Fawaz akan kuat berpuasa sehari penuh.

“Sudah, tunda dulu gowesnya. Nunggu puasa kedua atau ketiga saja. Puasa pertama kan masih melatih tubuh agar kuat menahan haus dan lapar sehari penuh!”

Melihat tubuh Fawaz yang gemuk, aku sangsi dia akan kuat menahan haus dan lapar setelah tubuhnya diforsir untuk gowes berkilo-kilo jaraknya. Lebih baik mencegahnya daripada membiarkannya batal puasa gara-gara gowes. Namun begitulah Fawaz, anak yang paling susah dicegah kalau sudah mempunyai kemauan. Fawaz tetap ingin gowes meski dalam keadaan puasa.

gowes

Lalu, aku buru-buru mencari  ide menu sahur  yang harus kusiapkan agar seisi rumah bersemangat untuk makan sahur. Tahu sendiri kan di hari pertama sahur, masih ada rasa malas untuk beranjak dari tempat tidur. Kalau menu sahur yang kusediakan tidak menarik, pasti Fawaz dan papanya cuma minta dibuatin susu atau teh hangat saja.

Membayangkan tahun lalu, dimana masih ada beberapa warung yang buka 24 jam, rasanya tidak terlalu sulit untuk memilih menu sahur. Bila malas masak, tinggal keluar rumah membeli lauk sesuai selera. Kadang membeli rendang, nasi kuning atau ayam kecap kesukaan.

Namun, semenjak wabah Corona menghantui dunia, bahkan Indonesia juga terdampak, akhirnya kita diharuskan di rumah saja. Adanya anjuran physical distancing membuat fasilitas umum termasuk warung makan memberlakukan pembatasan jam operasional. Mereka tidak lagi buka selama 24 jam, namun hanya di jam-jam tertentu saja mereka buka dengan syarat tidak ada pembeli yang makan ditempat alias pesan makanan untuk dibawa pulang.

Bahkan dengan terus bertambahnya masyarakat yang terdampak virus covid-19, akupun jadi takut untuk jajan sembarangan. Takut yang punya warung tidak sehat  atau makanan yang dimasaknya menjadi pemicu penyakit. Jadilah malam itu aku merencakan menu masakan yang harus kusiapkan untuk sahur perdana.

Pandemi ini memang luar biasa, dampaknya lebih dahsyat dari krisis yang pernah terjadi di tahun 1998. Kondisi ekonomi negara menjadi semakin sulit seiring banyaknya ketakutan masyarakat akan kehabisan stok bahan makanan di rumah. Belanja berlebih mengakibatkan stok di pasaran langka. Bila sudah langka harganya mahal. Sudah pasti semakin mahalnya harga kebutuhan pokok berimbas pengeluaran akan bertambah. Inilah yang kualami. Namun aku masih bersyukur, setidaknya suamiku adalah pegawai yang gajinya ditanggung negara. Meski pengeluaran makin besar nominalnya, tetapi masih ada yang bisa diharapkan setiap bulannya.

Lantas bagaimana dengan pegawai swasta, atau wirausaha yang bergantung dari usahanya sendiri? Kalau pasar ditutup, jam operasional bidang usaha seperti warung, toko harus dibatasi? Bagaimana makan mereka sehari-hari? Siapa yang naggung? Belum lagi mereka yang harus di PHK gara-gara tempatnya bekerja terdampak pandemi, tidak bisa menggaji karyawan karena tidak ada lagi sumber pemasukan. Membayangkan mereka, akhirnya timbul dalam benakku untuk lebih hemat dan tidak mudah menghambur-hamburkan uang.

Kalaupun saat ini masih ada warung yang buka, namun harga yang ditawarkan jauh lebih mahal. Bisa jadi akan membuat pengeluaran kita bertambah banyak bila terus menerus jajan diluar. Meski jarang jajan diluar, akupun merasakan pengeluaran bulananku bertambah banyak. Apalagi menjelang puasa pertama adalah tanggal 23 April. Kalau dulu aku masih bisa bertahan selama sebulan dengan mengandalkan gaji suami, sekarang harus benar-benar tutup mata demi berhemat.

Lalu aku iseng buka kulkas, mencari bahan makanan yang bisa diolah untuk menu sahur. Dari situ muncullah ide untuk memasak nasi kuning lengkap dengan lauknya. Kebetulan beberapa hari sebelumnya ada pengelola panti asuhan didaerahku yang menjual telur asin demi menghidupi anak-anak panti. Akupun membeli sebagian telur asinnya untuk lauk di rumah. Dengan telur asin ditambah lauk seperti mie goreng, serundeng, nugget, telur ceplok dan sambal goreng, pastinya nasi kuning bakal menjadi hidangan santap sahur yang memuaskan.

Dan malam itu dengan secangkir kopi buatanku, aku berniat membuat serundeng sebagai pelengkap nasi kuning. Apalagi ada kelapa yang baru kubeli, pastinya masih segar bila diparut dan dibuat serundeng. Mata sudah terganjal kopi hitam, semangat memarut kelapa dengan parutan manual makin menyala. Sampai suami kaget mendengat suara parutan kelapa di dapur. Dia sempat menghampiriku dan berniat membantu. Namun aku sudah terbiasa memasak sendiri tanpa bantuan siapapun. Selesai memarut kelapa, kubuka tutorial di youtube. Kusiapkan bumbunya, setelahnya aku berkutat di dapur demi semangkuk serundeng.

Jujur baru malam itu aku memasak serundeng. Kata suamiku seperti masakan nenek. Dan alangkah pegelnya tanganku karena harus menyelesaikan masakan hingga berjam-jam lamanya.

“Makanya, hargailah masakan nenek. Jadi tahu kan betapa sengsaranya orang tua kita dulu saat bikin serundeng terenak. Sudah butuh waktu lama, masaknya pakai tungku lagi, kalau apinya mati harus mengipasinya dengan kipas baru api nyala lagi!”, begitulah celoteh suami melihatku bersusah payah menyelesaikan serundeng hingga benar-benar matang.

Rasanya cukup tertantang di sahur hari pertama. Harus masak spesial demi anak yang mau gowes setelah shubuh. Jam 11 malam aku tidur, dan esoknya aku sudah bangun jam 2 pagi. Pertama kali yang kulakukan adalah masak nasi kuning. Kalau jaman sekarang orang suka masak nasi kuning memakai rice cooker supaya cepat matang, namun aku masih memakai cara tradisional seperti ibuku.

Meski memasaknya memakai kompor gas, setidaknya untuk membuat nasi kuning yang pulen dan awet serta tidak mudah basi harus di karu dulu. Caranya dengan membersihkan beras dengan air mengalir sampai bersih, lalu tambahkan air kunyit (kunyit yang dihaluskan ditambah sedikit air lalu disaring), garam, santan kelapa, sereh geprek, daun jeruk dan air. Masak beras diatas api sedang, aduk-aduk hingga beras mengembang dan air dalam panci habis. Setelah itu siapkan kukusan, lalu kukus nasi kuning hingga matang. Begitulah caraku membuat nasi kuning.

Setelah nasi kuning matang, lalu aku membuat lauk pelengkapnya. Ada telur dadar yang kurajang-rajang, mie goreng, nungget ayam, tahu goreng, bakwan sayur dan mendol tempe. Tak lupa telur asin dan serundeng juga kusiapkan. Tepat jam 4 pagi, saat petugas masjid mengumumkan lewat toa masjid saatnya sahur bagi daerah Denpasar dan sekitarnya, menu sahur pun siap kuhidangkan. Saatnya membangunkan Fawaz dan papanya.

Tanpa pikir panjang, aroma masakan dari dapur tercium juga sampai ke kamar. Bahkan demi aroma khas nasi kuning, mereka semangat untuk makan sahur di puasa Ramadhan pertama. Apalagi saat melihat ada serundeng dan mencicipinya, Fawaz pun langsung manggut-manggut.

“Ma, enak sekali serundengnya, nanti kalau habis buatkan lagi ya!”

Alamak…..harus bikin serundeng lagi??????

Sumpah ini pengalaman pertama membuat serundeng yang bikin tangan pegel. Tapi kalau melihat Fawaz suka ingin rasanya memarut kelapa lagi dan membuatkannya serundeng. Suami pun yang tadinya meremehkan serundeng buatanku, akhirnya ikut memujinya. Padahal beberapa hari sebelumnya, aku sempat membahas serundeng bersama kakak ipar. Katanya mereka yang di Jawa sudah bosan makan serundeng, bahkan anak-anak tidak doyan.

Tapi Fawaz? Maklumlah kami tinggal di Denpasar. Jarang makan serundeng khas Jawa Timur yang sering dijadikan lauk bersama empal daging sapi. Dan bagi Fawaz, serundeng adalah lauk yang baru pertama kali dirasakannya. Berkat serundeng, sahur di hari pertama terasa menyenangkan. Suami bilang, menu sahurnya mirip menu ulang tahun atau selamatan saat lebaran.

Sudah hampir 8 tahun kami tinggal di Denpasar – Bali. Kerinduan akan kampung halaman seringkali membuncah manakala puasa Ramadhan tiba. Rindu akan masakan orang tua, atau bahkan rindu akan tradisi tukar makanan di masjid. Namun saat pandemi ini mewabah, agaknya kami harus menyimpan rapat-rapat rasa rindu itu. Anjuran tidak boleh mudik, membuatku mencari cara mengobati kerinduan itu. Salah satunya membuatkan menu makan sahur yang mirip masakan khas Jawa Timur, meski aku harus bersusah payah mencari resepnya lewat internet atau tutorial di Youtube.

Bersyukurnya lagi, setelah adzan shubuh berkumandang, sekitar jam 5.00 wita, niat untuk gowes bareng teman asrama terlaksana. Fawaz dan beberapa teman muslimnya gowes di pagi hari keliling kota Denpasar dengan memakai masker dan membawa hand sanitizer. Hampir tiga jam lamanya, akhirnya Fawaz pun kembali ke rumah dengan tubuh lemas. Meski begitu puasanya tidak batal. Berkat sahur perdana yang puas dan mengenyangkan, membuatnya tahan berpuasa sehari penuh. Sementara rasa hausnya bisa diatasi dengan tidur setelah mandi pagi. Alangkah senang hatiku, drama sahur pertama sukses mengantarkan Fawaz memenuhi keinginannya untuk gowes dalam kondisi puasa dan pandemi corona.

0Shares

Tinggalkan Balasan