Oleh Ratih Paskie

Sore ini Si Umi pulang membawa berbagai kue enak. Sudah dijatahin, masing-masing anak mendapat satu kue lapeh bugih khas Padang buatan Mimi Rani, setengah potong bolu pisang dan boleh pilih satu antara martabak kentang atau pempek adaan.

Berhubung yang lain masih main di luar, Kakak Aisa dan Dedek Fiya duluan menyantap kue-kue tersebut.

Awalnya si Dedek ragu karena belum pernah makan lapeh bugih, akhirnya setelah disuapi si Umi, dia minta kuenya dipegang sendiri, nggak mau lagi di suapin. Lalu, si Umi masuk ke kamar membiarkan dua beradik tersebut menikmati kue dengan tenang di meja makan.

Tak berapa lama, Kakak Aisa menyusul si Umi ke kamar.

“Umiiii.. Dedek nih ngambil kue lapeh bugihnya satu lagi. Padahal sudah Aisa larang. Tapi dia nggak mau dengerin.” Si kakak mengadu.

“Adek makan jatahnya siapa yang satu lagi? Kan udah dibagi satu-satu kuenya.” Tanyaku pada si Dedek yang menyusul di belakang Kakaknya.

“Masih ada satu lagi koq, Umi. Tapi nanti kalo yang ini habis, Adek mau lagi boleh yaaa,” sahutnya sambil terus menikmati kue di tangan.”

“Ya jangan donk, jadinya dua orang kakak-kakak adek yang nggak kebagian kue lapis bugihnya.” Kata si Umi.

“Tapi adek suka kue ini, enak.” Sahutnya.

“Iya, tapi, apa Adek sendiri yang mau? Yang lain juga mau lho Dek. Kecuali Adek minta izin dulu sama mereka, dan mereka kasi ke Adek dengan ikhlas, baru deh boleh dimakan kuenya.” Jelas si Umi.

Susah-susah gampang mengajarkan kepedulian, tenggang rasa dan jangan jadi pribadi yang egois sama si bungsu yang kadung terbiasa dimanja dan di’iya’in semua maunya.

Tapi, susah bukan berarti tak mungkin. Harus semangat, agar si Dedek nggak jadi anak yang egois. Peduli sama sekitarnya, nggak boleh semaunya.
Sama suka sama rasa kepada sesama terlebih pada saudara.

Si Umi nggak suka istilah “siapa cepat dia dapat” dipakai di rumah (atau dimana saja sih) anak-anak harus diajarkan berbagi, ada sedikit berbagi, ada banyak, ya bisa berbagi lebih banyak.

Jangan mentang-mentang makan duluan lalu semua dihabiskan. Tidak memikirkan anggota keluarga yang lain sama sekali. Sudah makan atau belum, mau atau enggak, nggak peduli, yang penting dia suka, dia kenyang. Kan egois namanya

Si Umi nggak mau anak-anaknya jadi pribadi yang egois. Hanya memikirkan diri sendiri. Makanya, begitu ada kesempatan, si Umi terus menanamkan rasa peduli, tenggang rasa dan mau berbagi. Ke orang lain saja sudah selayaknya kita peduli kan, apalagi sama saudara.

Semoga nggak sia-sia si Umi menanamkan hal-hal baik ke mereka. Semoga mereka ingat dan tertanam di relung-relung jiwanya. Supaya menjadikan mereka pribadi yang menyenangkan, disayangi dan diterima di mana saja kelak mereka berada.

Umi 5R

0Shares

Tinggalkan Balasan