Sandal Sabut Kelapa.

Aku merasa sedikit terusik, saat menjenguk kedua orang tuaku. Bukan apa-apa, hanya saja setiap kali aku pulang ke rumah, aku selalu mendapati sandal japit yang terbuat dari sabut kelapa itu, tergantung di ruangan kosong sebelah kamar mandi.

“Jangan sembarangan menyentuh atau memindahkan sandal japit itu!” tegas bapak.

Setiap aku menanyakan, kenapa masih menyimpan sandal yang nggak jelas itu? Bukankah usaha bapak jauh dari kata tidak stabil? Penghasilan setiap harinya, cukup untuk membeli ribuan pasang sandal atau sepatu.

Kalaupun bapak tak sempat membeli sandal baru, bukankah tinggal bilang pada Pak Man, supir pribadinya.

Atau mungkin … aku belikan saja kali ya? Kan sebentar lagi bapak ulang tahun.

*

Pagi hari, 30 Februari.

Rencana hari ini, ibu dan aku akan menyambut bapak sepulang kerja. Sudah kusiapkan sejak petang tadi, kue ulang tahun dan makan malam dengan menu kesukaan bapak. Tentu saja, ibu yang memasak. Karena bapak kurang cocok jika orang lain yang memasakkannya.

Terdengar deru suara mobil dari arah garasi.

Sejenak kulirik jam dinding yang ada di ruang makan, masih jam setengah tiga sore. Tumben bapak sudah pulang?

“NARSIH!” teriak bapak.

Tak lama disusul suara pintu rumah yang dibuka dengan kasar.

Sesaat aku dan ibu bertukar pandang, lantas beliau buru-buru menghampiri bapak.

“Mana sandalku! Kamu apakan?! Kan sudah tak bilangin, jangan sembarang nyentuh sandal sabut kelapa itu!”

“Aku nggak pernah nyentuh sandal itu, Mas … ” jawab ibu lirih.

“HALAH!”

Bapak buru-buru meninggalkan ibu, menuju tempat ia menyimpan sandal favoritnya itu.

Dengan langkah kecil, kuikuti bapak dari belakang. Kubawa pula kotak yang belum sempat kubungkus kertas kado. Hadiah untuk bapak.

“DIMANA SANDAL SABUT KELAPAKU!!” teriak bapak sesat setelah mengetahui bahwa sandal yang biasa tergantung itu, tak lagi ada ditempatnya.

Mendengar teriakan bapak, membuatku terdiam sesaat. Ragu, apakah harus kuberikan sekarang. Meski demikian, tanganku seolah bergerak sendiri. Menyerahkan kotak yang sedari kusembunyikan di belakang tubuhku.

Bapak menyambar kasar kotak yang kusodorkan, dan segera dibukanya dengan kasar. Netranya membelalak, tak mendapati apa yang tengah ia cari.

Wajah bapak memerah, ia membanting sandal kulit yang kuberikan tadi. “Ini bukan sandalku! Kau kemanakan sandal itu, hah!?” teriaknya. “Dasar anak setan!” Bapak menggenggam kedua lenganku erat, diguncangkannya tubuhku.

Deg!

“Pak, ini sandal bapak … ” ibu buru-buru mengangsurkan sandal yang tadinya ingin kubuang, dan menggantinya dengan yang baru kubeli kemarin.

Aku tak pernah memperhatikan jelas, sandal dari sabut kelapa itu. Baru kutahu, kalau sandal itu sedikit bengkok ke atas. Kulit kelapa di bagian bawah dan sabut sebagai alasnya, dengan japit hitam terpasang rapi.

Sekilas memang tampak seperti sandal japit umumnya. Hanya saja, aku merasakan ada aura yang berbeda. Hitam, kelam dan mistis.

Bapak mengambil sandal sabut kelapa dari tangan ibu, membawanya ke dalam ruangan tempat biasa ia menggantungkannya. Sesaat kemudian, bapak keluar dengan sandal yang sudah terbungkus kain hitam.

Lantas buru-buru pergi, entah kemana, tak mempedulikan ibu dan aku. Meninggalkan seribu tanya dalam benakku.

Kenapa bapak sepertinya lebih “menyanyangi” sandal nggak jelas itu? Saat kutanyakan satu tanyaku pada ibu, beliau hanya diam membisu. Seolah tahu, apa yang dilakukan suaminya itu.

Atau … ibu memang tahu?
*
Sebuah mobil mewah berhenti di pinggir jalan, dekat dengan hutan, yang konon katanya sering digunakan sebagai tempat pesugihan.

Seorang pria paruh baya, turun dari mobil mewah tadi. Dengan tergesa-gesa, ia bergegas memasuki hutan dengan membawa sesuatu yang terbungkus dalam kain hitam.

Langkah pria itu terhenti di depan pondok lusuh, yang terbuat dari kayu.

Tok tok tok.

“Mbah … Mbah Jar, tolong saya Mbah,” ucap pria itu memelas.

Tak berselang lama, pintu pondok terbuka. Pria berambut gondrong, lengkap dengan kumis dan jenggot putihnya, keluar.

“Mbah, tolong saya Mbah. Saya nggak mau bangkrut, miskin lagi Mbah,” Pria itu menyodorkan bungkusan kain hitam yang dibawanya, lantas membukanya.

Pria yang dipanggil Mbah itu, mengambil bungkusan dan membukanya. Tampak sepasang sandal japit yang terbuat dari sabut kelapa, mengeluarkan asap hitam. Meski tak ada api di sana.

“Nggak bisa, Yo. Kamu sudah melanggar persyaratannya,” ucap si Mbah. Ia membuang sandal itu ke tanah.

Yoyo, pria itu mengambil sandal dan mendekapnya erat. Semakin lama, asap hitam semakin mengepul dari sandal itu.

Tak lama, muncul sesosok dari kumpulan asap hitam. Sosok hitam itu memiliki tubuh setinggi rumah dua tingkat, dengan perut buncit dan rambut yang gondrong. Ia memiliki gigi taring yang besar, dan matanya merah menyala.

Yoyo yang masih belum menyadari adanya sosok di depannya, masih memeluk sandal itu. Hingga sosok itu membuka mulutnya lebar-lebar, hendak memangsanya.

“Hah?! Siapa kamu? Jangan … jangan makan saya. Mbah! Tolong saya Mbah! Saya masih pengen menikmati uang-uang saya. Mbaah … tidaaak …. “

Suara teriakan Yoyo teredam, pun jasadnya menghilangkan. Bersamaan dengan hilangnya sosok hitam itu.

Sementara sandal sabut kelapa itu, tergeletak begitu saja di atas tanah.

Jombang, 05 Desember 2020
Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan