Secuil Cerita Tentang Guru.

Guru, satu profesi yang, mungkin, banyak memandang rendah. Bahkan mungkin, dari rekan sejawat. Entah olokan langsung, atau sekedar sindiran berbalut pujian.

Kenapa harus demikian? Bukankah dari gurulah, banyak lahir orang-orang besar. Seperti dokter ahli, pilot, masinis, guru besar dan berbagai profesi lainnya. Bahkan seorang presiden.

Tak menutup kemungkinan, ada pula guru yang justru menjerumuskan.

Ada? Ada, hanya tak banyak yang tahu dan terpublikasi.

Banyak yang beranggapan, jadi guru itu mudah. Hanya sekedar menjelaskan materi pelajaran di kelas. Menilai tugas-tugas sekolah, maka tugas selesai.

Nyatanya?

Berat! Belum lagi bagi guru yang mengajar murid-murid istimewa, yang membutuhkan perhatian khusus dan lebih saat mengajar.

Meski saya bukan seorang guru, tapi pernah sekali mengajar murid istimewa dalam suatu bimbingan.

Dia mengalami keterlambatan dalam menangkap materi pelajaran, mudah terdistraksi, dan belum lancar dalam menulis dan membaca. Bahkan saat didikte satu kalimat yang terhitung mudah(?)

Pelajaran berhitung? Apalagi yang satu itu, cukup memeras otak agar murid dapat menerima apa yang saya jelaskan.

Sumpah! Ini adalah hal yang berat. Bagi saya, waktu itu. Sekarang pun, juga masih jika harus menghadapi hal serupa.

Tak banyak yang sanggup dan telaten, dalam menghadapi murid-murid istimewa.

Satu hal itu adalah salah satu dari rintangan saat seseorang menyandang gelar guru. Lainnya? Seperti di tempat kerja lainnya, sindiran dan gosip dari rekan sejawat.

Mengingatkanku pada cerita seseorang, tentu saja orang tersebut bergelar guru. Sebenarnya, ini cerita yang baru kudengar kemarin malam.

Setiap orang, saat mengetahui orang-orang yang dalam satu lingkupnya, memiliki anak lebih dari dua, dengan jarak kelahiran yang berdekatan. Selalu berpikir, “Duh, kasihan anak-anaknya. Pasti nggak terawat.”

Atau mungkin, “Eh, si itu barusan lahiran lagi. Padahal anaknya kan masih umur dua tahun, masih kecil. Kasihan yaa ….”

Atau mungkin bahkan, “Aah … nanti kalau sudah nikah, aku maunya cukup dua anak aja, yang jaraknya jauhan. Biar kakaknya terawat, dan ngerawat si adik.” sambil bisik-bisik di dekat orang yang tengah dibicarakan.

Bikin tepok jidat rasanya. (Padahal dulu juga sempet mikir gitu. Hahaha.)

Dan itu terjadi pada Bu Bunga, sebut saja seseorang itu begitu.

Memiliki anak dengan jarak yang berdekatan, saya rasa itu bukanlah suatu aib atau keburukan. Bagaaimanapun, anak adalah titipan dari-Nya, dan merupakan salah satu rezeki yang, bagi sebagian orang tak mudah mendapatkannya.

Jadi, ketika Bu Bunga disindir perihal anaknya yang banyak dengan umur yang berdekatan. Bukan mengambil pusing obrolan dibelakangnya, meski sedikit kepikiran.

Melainkan dengan menghasilkan karya, dalam dunia literasi seperti lomba yang baru diikutinya kemarin.

Persatuan Guru Republik Indonesia, dalam lingkup kabupaten, dalam rangka menyambut hari ulang tahunnya yang ke 75. Sekaligus menyambut Hari Guru, mengadakan lomba menulis esai mengenai covid-19 dalam lingkup pendidikan.

Bu Bunga, yang sepertinya jengah dengan orbolan miring tentangnya, melampiaskan ‘penatnya’ dengan mengirimkan tulisan esainya.

Terpilih sebagai salah satu kandidat finalis bersama enam peserta lainnya. Meski dengan kondisi tengah hamil tua, saat mempresentasikan tulisannya. Hasil yang beliau raih, cukup memuaskan dengan menyabet juara ketiga.

Berita mengenai beliau yang mendapat juara ketiga pun sampai, pada orang-orang tadi. Dan itu cukup untuk membungkam mulutnya.

Bukankah itu hebat? Saat seseorang tengah membicarakan ‘kekurangan’ kita, dan berhasil dengan membalasnya dengan sebuah karya?

Ada yang pernah mengalaminya juga?

Dan lagi, bukankah seharusnya merayakan Hari Guru dengan kebaikan, bukan dengan membicarakan orang lain?

Apalagi jika bagi seorang guru, bukankah seharusnya bisa memberikan teladan yang baik bagi murid-muridnya?

Jadi, bagaimana dan harus seperti apa kita merayakan Hari Guru?

Jombang, 27 Nopember 2020
Salam Unyu

Sumber gambar: webtoon Pak Guru Inyong ep. 35

0Shares

Tinggalkan Balasan