SELFIE DAN GANGGUAN JIWA

Siapa tak pernah berfoto dan upload foto ke media sosial?

Siapa yang tidak punya akun sosmed seperti instagram, facebook, line dan sejenisnya?

Hampir semua orang terutama “remaja jaman now” mempunyai satu bahkan lebih bentuk sosial media. Dalih yang sering dipakai adalah agar kekinian, tidak kudet, dan selalu update informasi.

Beberapa orang rajin menggunakan social media tertentu untuk update informasi tentang diri. Beberapa cara yang dilakukan adalah upload status yang bisa berupa curhatan, kata hikmah, pengalaman pribadi, bahkan hingga foto-foto diri dan kegiatan-kegiatan yang diikuti.

Ada latar belakang di balik upload yang dilakukan, mulai dari sekedar eksis, pelampiasan perasaan marah, kesal, kecewa, sedih, gembira. Beberapa juga dilakukan karena ingin bisa bermanfaat untuk yang lain hingga ajang promosi. Foto diri yang diunggah inilah yang terkenal dengan sebutan selfie (sendiri) dan wefie (berkelompok).

Fenomena selfie sejak 2013. Kian canggihnya perangkat teknologi ditambah dengan aplikasi-aplikasi di HP yang semakin canggih mendorong orang-orang di belahan dunia manapun memamerkan foto-foto selfie mereka. Seiring dengan penggunaan facebook yang mendunia, yang lalu diikuti dengan media social lainnya selfie meledak bak jamur di musim hujan.

Selfie adalah foto diri sendiri yang biasanya diambil lewat HP lalu diunggah ke media sosial yang dimiliki. Dunia social media dibanjiri oleh foto-foto selfie dengan 1001 pose dan gaya penggunanya. Kenekatan dan gaya para selfier inilah yang menggelitik dan memunculkan pertanyaan “Apakah jiwa mereka yang suka selfie itu terganggu?”

Selfie menjadi sebuah trend tersendiri. Ia juga menjadi kebanggaan dan ajang pamer apalagi saat apresiasi like menghujani. Diperberat dengan adanya nomopobia (ketakutan jauh dari ponsel), selfie menjadi semakin berat sebagai sebuah kebiasaan yang ditengarai dapat mengarah pada gangguan jiwa.

Studi kecil yang saya lakukan di kalangan mahasiswa, didapatkan data bahwa beberapa mahasiswa mengatakan lebih baik tidak punya uang daripada tidak pegang HP. Bahkan ada yang ke kamar mandipun HP tetap dibawa dengan alasan tidak ingin ketinggaln “moment”, atau sembari membalas pesan sembari melakukan selfie. Padahal, bila kita logika, HP dibawa ke kamar mandi itu, seolah memasukkan kuman ke dalam wadah (baca; HP) yang memang sudah penuh kuman.

Seorang pengamat kesehatan bahkan mengomentari bahwa HP lebih jorok dari WC. Apa pasal? Karena HP selalu kita pegang bahkan saat dan setelah “ngapain”-pun. Sebegitu depend-kah hidup kita pada makhluk bernama robot mesin HP ini?

Banyak kasus terjadi sebagai dampak dari selfie yang berlebihan. Kenapa selfie rentan untuk dilakukan dengan cara yang berlebihan? Jawabnya adalah karena orang cenderung merasa tidak puas dengan hanya mengambil 1-2 kali foto saja, orang akan cenderung berulangkali melakukan mengambil gambar diri dengan berbagai gaya, tanpa merasa malu di hadapan orang lain.

Sir Simon Wessely, seorang Guru Besar Psikologi Kedokteran dari King’s College London meneliti bahwa orang yang sering melakukan selfie bertujuan untuk memperbaiki mood, menarik perhatian, meningkatkan kepercayaan diri, dan berhubungan dengan lingkungan.

Selfie bisa mengancam nyawa seseorang.

Kenekatan mengambil foto di sebuah tempat berbahaya, atau kecemasan saat setiap hari merasa wajib mengambil gambar untuk kepuasan diri yang semakin tak terpuaskan, ketakutan ditinggalkan oleh likers di social media ketika pose tak lagi menarik, menjadi sebab seseorang bersikap emosional dapat melakukan bunuh diri hingga celaka karena sebab tertentu. Salah satu Negara yang memiliki jumlah kematian terbanyak karena melakukan di lokasi di lokasi berbahaya.

Tiga tingkatan selfitis

Penemuan yang sudah dipublikasikan di International Journal of Mental Health and Addiction menemukan ada tiga tingkatan selfitis. Pertama; tingkatan borderline (wajar) adalah orang yang mengambil foto selfie sebanyak tiga kali sehari tapi tidak mengunggah foto tersebut ke media sosial. Kedua; tingkat akut, di mana foto diunggah ke sosial media dengan jumlah yang sama. Terakhir adalah tingkat kronis, di mana orang merasakan dorongan yang tak terkendali untuk berselfie sepanjang waktu dan mengunggahnya ke media sosial lebih dari enam kali sehari.

Tidak hanya selfitis, gangguan mental yang diidentifikasi muncul karena pengaruh teknologi adalah nomopobia. Ini adalah kondisi yang muncul saat seseorang merasa takut tidak berada di dekat ponsel. Ada juga technoference, gangguan sehari-hari karena perangkat teknologi. Terakhir adalah gangguan cyberchondria, yakni merasa sakit setelah melakukan pencarian gejala penyakit secara online.

Jadi, bagaimanakah solusinya?

Berfoto tentu saja boleh. Selama dilakukan sewajarnya tanpa adanya obsesi tertentu dan kenekatan setiap harinya. Banyak hal memang harus dilakukan agar kita terhindar dari gangguan jiwa karena Selfitis. Meskipun ini masih menjadi perdebatan, akan tetapi membatasi diri untuk kesehatan akan jauh lebih baik. Kalau bukan kita sendiri yang menjaganya, siapa lagi?

selfi dan gangguan jiwa

Baca juga yuk”

Salam,

Ratna Yunita Setiyani Subardjo, MPsi., Psikolog

0Shares

2 thoughts on “SELFIE DAN GANGGUAN JIWA

Tinggalkan Balasan