Sepeda … Motor 1 (Sebuah Awal)

Keluarga merupakan lingkaran terdalam yang berpengaruh terhadap perkembangan seseorang. Didalamnya terdiri dari beberapa elemen yang masing-masing saling mempengaruhi satu sama lain, karena memiliki fungsi-fungsi tersendiri. Salah satu fungsinya ialah pendidikan dan pembinaan terhadap semua warganya sehingga siap untuk hidup bermasyarakat. Dengan kata lain keluarga menjadi salah satu lembaga yang menanamkan nilai-nilai (values) kehidupan, sehingga nilai-nilai (values) itu menginternal dalam diri.

Menjadi pengendara motor,bikers, merupakan hal tak terbayangkan sebelumnya,karena terus terang itu sedikit bertentangan dengan nilai-nilai keluarga. Dimana keluargaku berpandangan bahwa perempuan itu harus bersikap dan berpenampilan seperti layaknya perempuan, salah banyaknya adalah anggun lahir dan bathin, maka erilaku yang harus muncul: “nrimo”, memakai rok, berambut panjang,no kelayapan, no cekikan, menginap di rumah orang, dan lain-lain. intinya jangan berpenampilan dan berprilaku seperti laki-laki. itulah beberapa nilai gender kefeminiman di keluargaku.

Terkait dengan keterampilan mengendarai motor yang kini saya miliki, berawal dari keterpesonaan terhadap pengendara sepeda perempuan yang terkesan kuat dan mandiri. Hal itu terjadi ketika saya masih duduk di kelas 6 SD.

Saat itu saya memiliki teman sekaligus saudara sepermainan yang usianya tak terpaut jauh, sebut saja nama panggilannya Onong, dia duduk di kelas 5 SD. Di sekolah maupun di luar sekolah saya dan Onong sering menghabiskan waktu bersama, sehingga tak jarang temanku adalah teman Onong juga, pun sebaliknya.

Tersebutlah seorang anak perempuan pindahan dari kota, namanya Nur. Nur duduk di kelas 5 dan secara kebetulan menjadi teman sebangkunya Onong, yang otomatis menjadi temanku juga.betapa bahagianya saat itu memiliki teman baru yang memiliki kemampuan bersepeda.

Jarak rumah Nur dengan sekolah lumayan jauh sehingga orangtuanya mengizinkannya untuk mengendarai sepeda untuk menyiasatinya agar tak kesiangan. Sudah bisa menebakkah, kami terpesona oleh siapa? Ya betul, kami terpesona oleh Nur dan sepedanya. Maklum saat itu motor maupun sepeda masih barang yang langka karena masih relatif mahal dan yang bisa mengendarainya hanya kaum laki-laki dan itupun sangat jarang di tempat kami.

Pendek cerita saya dan Onong sama-sama tertarik untuk belajar bersepeda.Sehingga kami bersepakat untuk belajar sepeda, yang kemudian mendorong kami untuk meminjam sepeda kepada orangtua Nur.Pucuk dicinta ulampun tiba kami diizinkan untuk menggunakan sepeda milik Nur untuk belajar, beruntung orangtuanya Nur tak mempertanyakan izin dari orangtua, karena dapat dipastikan kami pasti tidak akan mendapatkan izin untuk memiliki keahlian bersepeda, mengingat hal itu bertentang dengan nilai gender kefeminiman dalam keluarga kami. Kelanjutannya seperti apa, kami belajar bersepeda secara sembunyi-sembunyi.

Belajar bersepeda untuk pemula idealnya dilakukan di tempat yang savety, semacam lapangan berumput. Tapi mengingat kami berdua tak memiliki banyak waktu untuk belajar bersepeda, dengan hasil analisa kami ketika itu bahwa belajar di arena sesungguhnya akan lebih menantang dan menjadikan kita lebih cepat .

Adapun tempat yang kami pilih untuk belajar sepeda, ialah dengan kriteria tempat yang jauh dari perhatian keluarga kami yaitu sebuah turunan yang juga agak menikung. Cukup bisa membuat sepeda menggelinding tanpa digowes, karena ada sensasi tersendiri mengendarai sepeda di Medan seperti itu. Kami sebut tempat itu “Tikungan Pak Mantri Omon” karena berlokasi dekat dengan rumah Kepala Sekolah SD kami.

Sebetulnya panggilan “Pak Mantri” ditujukan kepada seorang “Kepala Sekolah” itu sedikit membingungan, dan hal itu belum terjawab sampai sekarang. Mungkin karena tampilannya yang selalu rapih bak seorang Mentri? Atau karena berpenampilan bak seorang “Mantri kesehatan”? Entahlah hal itu masih menjadi misteri sampai saat ini.

Pernah suatu saat ketika kami mulai bisa mengendalikan keseimbangan dalam bersepeda, adapun sesi yang sedang dijalani adalah belajar berboncengan. Nahas ketika itu kami mengalami kecelakaan kecil, jatuh terjerembab di tengah jalan beraspal. Beruntung tak ada mobil yang lewat, hal ini menyebabkan kami tidak mengalami luka serius, hanya sedikit lecet.

Kami tak dapat menjaga keseimbangan gegara kami sedikit panik karena ada salah satu paman melihat kami belajar bersepeda dan kami khawatir melaporkannya kepada orangtua masing-masing,terutama Bapak, karena pasti akan dievaluasi habis-habisan dan bisa-bisa dihukum.

Kamipun sibuk menyusun strategi, berbagai plan A, B, C dan seterusnya, kalau-kalau nanti ditanya perihal luka lecet akibat dari belajar bersepeda.

(Bersambung)

0Shares

Tinggalkan Balasan