Sepeda … Motor 2 (Rencana)

Setelah mencium aspal alias terjatuh di tikungan dekat rumah “Pak Mantri”, kemudian kami menepi tak jauh dari situ, untuk sekedar meredakan kepanikan, melakukan p3k alami dan berdiskusi hal yang akan dilakukan jika Emang memberitakan kepada keluarga Saya dan Onong tentang peristiwa yang baru saja terjadi.Belajar menjadi best planner.

For your information…Emang/Mamang/Mang adalah panggilan dalam bahasa sunda untuk adik dari Bapak/Ibu. Emang kami ini berkarakter sangat cool, tak banyak berbicara jika tidak penting,atau dia akan berbicara jika ditanya. Tapi hal inilah yang membuat kami gusar.

Onong :”Teteh, kira-kira Emang bakal bilang ke orangtua kita nggak ya?dengan wajah gusar yang tak dapat disembunyikan lagi.

Saya :”Kalau dia kasian sama kita, seperti ya tidak akan bercerita,karena tahu pasti akan seperti apa nasib kita” sambil harap-harap cemas.

Onong :”Coba dari awal kita jujur kepada orangtua kita ya Teh” sesalnya.

Saya :”Iya… berdoa saja, mudah-mudahan Emang sayang kita dan tidak menceritakan ke orangtua kita” sambil berusaha menyembunyikan kegusaran yang padahal tak lebih gusar dari Onong.

Sepertinya perkataan saya tak dapat sedikit meredam kegusaran Onong, hingga akhirnya dia bisa tersenyum walau sedikit dipaksakan. Kemudian Saya beranjak dari tempat duduk kami berdua.

Onong:”Teteh mau kemana? tanyanya kaget.

Saya :”Pulang atuh, masa duduk lama-lama disini. Nanti dicari Mama tahu sendiri beliau kalau sudah marah pasti dahsyat” jawabku.

Onong :”Yakin, mau pulang sekarang?” tanyanya meyakinkan bahwa keputusan saya tidak salah.

Saya :”Iya, kenapa gitu?” sambil kembali duduk ke tempat semula.

Onong :”Kayaknya harus menyamakan strategi dan jawaban nih, kalau-kalau Mamang ngasih tahu ke orangtua kita terus nanti mereka saling croscek gimana? Lagian kita belum mengembalikan sepedanya Nur” kerlingnya

Saya :”Oiyaya, baiklah. Mari kita berdiskusi” sambil tepok jidat diiringi dengan senyum.

Onong :”Nanti kalau diintrogasi sama orangtua gimana jawabannya” Kembali berwajah gusar

Saya :”Pertama, pas nanti pulang ke rumah jangan mencurigakan!”

Onong :”Maksudnya?”

Saya :”Jangan memperlihatkan ada yang aneh pada diri kita” terangku.

Onong :”Ooo…aneh gimana nih maksudnya?kejarnya dengan pertanyaan

Saya :”Coba cek bekas tadi jatoh, ada yang luka? Terasa sakit nggak?” tanyaku.

Onong :”Ada luka kecil, lecet sedikit”

Saya :”Mana lihat!” Pintaku.

Onong :”Ini, lihat deh” Menunjukkan luka lecet di lututnya.

Saya :”Sakit?” Tanyaku.

Onong :” Sakit, sedikit” jawabnya sambil meringis.

Saya :Itu saja kan? tanyaku lagi.

Onong :”Sama ini” sambil menunjukkan tangannya yang juga lecet.

Saya :”Sudah P3K alami?” sambil mengeryitkan mata.

Onong :”Sudah dong…” sambil mengedipkan mata.

Saya :”Goodjob” sambil mengacungkan jempol ke arahnya.

Onong :”Kalau Teteh gimana?” dia balik bertanya.

Saya :”Sama di area situ juga” jawabku sambil meringis sedikit menahan sakit.

Onong :”Hahaha…” tertawa riang mengingat kekonyolan kami berdua hari ini.

Saya :”Jika orangtua kita bertanya apakah kita belajar bersepeda apa yang akan kita jawab? Mau jujur saja, atau berbohong atau bahkan tak mengatakan apapun tentang kejadian hari ini” mengajak Onong untuk berfikir.

Onong :”Jujur saja? Pasti kita dimarahi habis-habisan dan bahkan mungkin dihukum” kedua telunjuknya sambil memijit pelipisnya, pertanda sedang berfikir.

Saya :”Iya, jujur saja. Karena setelah saya pikirkan dosa berbohong kepada orangtua. Saya fikir wajar juga jika kita dimarahi, karena kita tidak terbuka kepada mereka”

Onong :”Bagaimana kalau kita bilang saja terjatuh dari pohon jambu di sekolah”

Saya :”Bagaimana kalau orangtua kita datang ke sekolah dan melaporkan perbuatan kita,padahal kan tidak ada kejadian itu di sekolah”

Onong :”Oiyaya, kasian juga wali kelas kita kalau nanti dimarahi oleh orangtua kita, lagian kejadiannya sudah di luar jam sekolah dan diluar tanggungjawab pihak sekolah, nanti kita berdua juga yang kena”

Saya dan Onong semakin ragu untuk pulang ke rumah.

(Bersambung)

0Shares

Tinggalkan Balasan