Sepeda … Motor 3 (Ketika Tak Ada Dusta Diantara Kita)

Sambil menghalau kegusaran, akhirnya kami berdua melanjutkan diskusi guna mendapatkan solusi.

Saya :”Kalau kita berbohong dosa kita berlipat-lipat, karena pasti harus diikuti oleh kebohongan yang lain” gusarku.

Onong :”Bagaimana kalau kita tak usah berkata apapun tentang kejadian hari ini, jika orangtua kita tak bertanya? Saya yakin akan ada saatnya kita mengatakan tentang hari ini, Insya Allah ” meyakinkanku.

Saya :”Maksudmu kita rahasiakan kejadian hari ini jika kedua orangtua kita tak bertanya, dan mengatakannya suatu hari nanti? selidikku meyakinkan pernyataan Onong.

Onong :”Iya, kita tak berdosa kan, tidak berbohong, hanya menunda sampai saatnya tiba” kerlingnya.

Saya :”Baiklah untuk sementara begitu saja dulu.” potongku.

Onong :”Ok!Yuk, anterin sepeda ke rumah Nur, bisi keburu sore” pintanya bersemangat.

Saya :”Sebentar, sepedanya baik-baik saja, kan?” Sambil melihat sepeda yang terparkir tak jauh dari tempat kami duduk.

Onong :”Sepertinya begitu, kamu cek deh, biar yakin” pintanya.

Saya :”Iya, masih enak dipake” sambil mencoba menjalankan sepedanya.

Onong :”Nanti kita ceritakan ke Nur tentang kejadian hari ini dan minta dia untuk tidak menceritakan kepada siapapun termasuk orangtuanya” paparnya panjang lebar.

Saya :”Ok!” sambil mengerlingkan mata pertanda setuju.

Setelah diskusi, akhirnya kami berdua mengantarkan sepeda ke rumah Nur dan sedikit bercerita tentang kejadian hari ini. Kami bersyukur karena kami masih diberikan keselamatan.

Setelah selesai mengantarkan sepeda dari rumah Nur kami segera pulang mengingat hari semakin sore. Tibalah saat-saat yang menegangkan di depan mata. Kami pulang ke rumah masing-masing.

Sesuai kesepakatan Kami bersikap seperti biasanya. Mandi sore, makan kemudian ketika magrib pergi mengaji ke masjid dekat rumah, kami pulang bada isya ke rumah dan belajar untuk besok pagi, menonton tv, bercengkrama dengan keluarga dan terakhir tidur. Begitulah aktivitas senja hingga malam kami.

Disela aktivitas itu secara terpisah di rumah masing-masing Saya maupun Onong menunggu pertanyaan dari orangtua kami.
Saya ingin malam segera berlalu,pun demikian yang dirasakan oleh Onong.

Pagi yang ditunggu telah tiba, saya bersemangat untuk bertemu dengan Onong untuk saling bercerita tentang malam yang telah dilalui. Seperti biasa kami berangkat ke sekolah bersama dan saling bercerita aktivitas yang dilalui sepulang dari mengaji.

Onong :”Gimana Teh, dapat pertanyaan dari Mamah dan Bapak?

Saya :”Hmmm…bilang nggak yaa? timpalku.

Onong :”Teteh mah…” gemasnya sambil mencubitku.

Saya :”Alhamdulillah…nggak ada pertanyaan dari mereka” jawabku sambil melirik ke arahnya.

Onong :”Yess, sepertinya Emang Cool tak memceritakannya kepada orangtua kita” sambil mengepalkan tangan ke udara

Saya :”Iya, sepertinya begitu, da dia mah Emang coolest banget yaa” sambil menahan tawa

Kami berpikir harus berterimakasih kepada Emang Cool ini, karena dengan ke’cool’annya ini kami jadi bisa terus melanjutkan belajar bersepeda dengan mencari tempat yang lebih savety hingga akhirnya lancar bersepeda tanpa diketahui oleh kedua orangtua masing-masing. Keterampilan bersepeda ini membuat kami memiliki dasar untuk lebih mudah memiliki keterampilan mengendarai motor pada masa yang akan datang.

Selepas lulus SD saya tak lagi bersepeda karena saya sudah memasuki SMP, tepatnya karena tak ada sepeda yang hendak dipinjam,karena Onong dan Nur masih di SD. Mengingat ketika itu masih jarang yang memiliki sepeda.

Hal itu berlangsung hingga saya lulus kuliah. Saya baru melirik sepeda dengan niatan ingin bisa mengendarai motor. Mengingat betapa tersiksanya menggunakan angkutan umum, sementara dari kontrakan ke tempat kerja melalui titik kemacetan yang tak terduga,hal ini menyebabkan saya sering terlambat.

Belajar sepeda lagi merupakan pergolakan batin yang cukup panjang,mengingat kultur keluarga tentang konsep perempuan yang sangat melekat dengan keanggunan sementara kebutuhan untuk bisa mengendarai motor sangat tinggi terutama terkait dengan pekerjaan.

Tidak ada yang abadi di dunia ini, semuanya berubah. Pun demikian dengan Saya dan kultur keluarga kami, sedikit demi sedikit mulai menerima bahwa perempuan harus dan bisa mandiri serta memiliki kedudukan yang sejajar dan bermitra dengan laki-laki dalam berkarya. Perempuan tidak lagi harus berada di “second line” tapi juga bisa menjadi “setara” sehingga pandangan ini yang akhirnya memberikan ruang kepada kami untuk berkarya, bekerja sebagai bentuk aktualisasi diri sesuai dengan bidang yang diminati.

Ketika awal kami bekerja kemudian pulang dengan menggunakan motor, merupakan hal yang mengejutkan bagi orangtua kami masing-masing, sehingga membuat mereka bertanya-tanya “Kok bisa mengendarai motor? kapan belajarnya” Akhirnya kesempatan yang sangat kami nantikan untuk mengubah status ” The untold story’ ketika SD dulu untuk menjadi “Told Story” tersampaikan juga, sehingga tak ada dusta diantara kita.

Begitulah arti sepeda … motor bagi saya, Onong dan keluarga kami. Benar-benar merupakan cermin sebuah proses dinamis dan penuh dengan pergolakan batin.

Allahummagfirlii wali walidaya warhamhuma kamaa rabbayani shagira. Alhamdulillah ‘alaa kulli hal. Alhamdulillahirabbil’alamiin. Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’mannashir.

0Shares

Tinggalkan Balasan