Setangkai Bunga yang Mekar

Hai Bung, apa kabar? Semoga baik-baik saja ya di sana.

Aku … entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa tak enak. Rasanya tak bersemangat seperti biasanya. Bahkan ide yang biasanya bermunculan saat perjalanan, tak pernah datang lagi.

Mereka memilih untuk tak datang lagi padaku. Atau, lebih tepatnya aku yang melupakan mereka(?)

Hei Bung, kamu masih saja sama yaa. Pancaran sinarmu benar-benar cantik. Tak ada yang bisa menandinginya.

Aku … masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah. Masih menyukai gelap malam, dan sendirian.

Kamu tahu?

Itu adalah saat-saat terbaik aku bisa bercengkrama dengan aksara. Mereka tak pernah mengecewakanku.

Bersama mereka, aku lebih bisa menjadi diriku sendiri. Itu sangat menghiburku, sungguh!

Hei Bung, kenapa kamu bisa tampak begitu segar dan tegar?

Aku … rasanya aku lelah. Penat dengan semua yang ada. Aku benar-benar ingin pergi. Andai aku bisa ….

Aku ingin berlari ke tengah hutan saja. Mengasingkan diri. Barang sejenak saja. Tapi itu tak mungkin, kan(?)

Hei Bung, jadi kamu enak ya?

Tak perlu bersusah payah. Semua sudah tersedia.

Aku … banyak sekali perhitungan, bahkan untuk sekedar ‘sebungkus permen’.

Rasanya sesekali untuk egois, tak apa kan? Apa aku salah?  Apa aku durhaka?

Ya, kau benar Bung. Aku pun bisa meminta pada-Nya.

Tapi … hei Bung, apa kau benar-benar tahu?

Banyak yang menganggapku bisa dan mampu. Banyak pula yang berharap tinggi akan ekspektasi mereka padaku. Tapi itu semua benar-benar mengganggu!

Aku tak suka.

Rasanya seolah, aku ada hanya untuk memenuhi ekspektasi semua orang. Menjadi sosok yang mereka mau.

Padahal, aku punya ekspektasiku sendiri, yang mereka bilang itu nggak guna, percuma, sampah!

Kau tahu? Ingin sekali ‘kuacungkan jari tengah’ pada mereka. Berpendidikan tapi kok merendahkan. Cuih!

Bung, itu sangat menyebalkan bukan?!

Hei Bung, kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?

Mereka bilang aku terlalu sensitif, tak bisa diajak bercanda. Tak tahu kapan saat bercanda dan serius.

Bukankah yang namanya bercanda itu, saat kedua pihak tertawa? Jika hanya salah satu yang tertawa, bukankah itu sama saja dengan menolok-olok?

Kenapa seolah jadi mereka yang sebal? Kan aku yang mereka usik.

Hei Bung, andai saja aku bisa. Aku ingin jadi kamu saja!

Menjadi setangkai bunga yang indah di taman, bersama yang lain dalam satu rumpun. Menebar aroma wangi disepanjang taman.

Tak perlu risau dengan manusia-manusia pengolok. Setidaknya, jika aku menjadi bunga, tak akan ada lagi yang mengoloku.

Akan selalu ada tangan-tangan yang merawatku. Jika pun harus terpetik, aku tahu, mereka mengagumi pesonaku sebelum layu dan mengering.

Ya! Aku ingin menjadi setangkai bunga yang mekar sepertimu, Bung!

Jombang, 14 Nopember 2020
Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan