Aku sedang menunggu Si Dia di dalam mobil, saat SMS banking dari salah satu bank masuk. Isinya pemberitahuan salah memasukkan PIN ATM. Aku kaget dan berpikir siapa yang memakai atm-ku?

Kartu ATM itu kalau tidak di aku ya di Si Dia. Sekarang aku ada di dalam mobil, sedangkan si Dia, itu, di luar mengobrol dengan temannya. Terus ini siapa donk yang memakai ATM-ku dan salah memasukkan PIN??

Jantungku berdegup kencang. Duh! Jangan-jangan kartu ATMnya jatuh ketika tadi mengeluarkan uang untuk isi bensin. Aku segera memberi tahu Si Dia dan mengkonfirmasi SMS banking tersebut.

Seperti dugaanku, Si Dia pun kaget bukan kepalang. Segera diperiksanya dompet di saku belakang celana. Nihil. Dicarinya di mobil. Tidak ada juga!

Astaghfirullah, bukan hanya ATM nya saja yang jatuh, melainkan se-dompet-dompetnya juga. Si Dia tampak mengingat-ingat di mana terakhir mengeluarkan dompet.

Benar dugaanku, kemungkinan besar dompetnya jatuh di pom bensin ketika mengisi bensin tadi. Mungkin ketika hendak menutup pintu, dompetnya yang memang sering diletakkan di selipan pintu mobil, terjatuh.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama Si Dia kehilangan dompet. Sepanjang aku mengenalnya, sudah beberapa kali berganti dompet. Entah karena terjatuh, hilang, keselip bahkan dicopet.

Pernah suatu malam, ketika tertidur dalam perjalanan menggunakan kereta api, dompetnya hilang, entah diambil orang atau terjatuh. Yang jelas, ketika bangun, dompetnya sudah raib. Aku sedih sekali, karena dompet yang hilang itu hadiah dariku, masih baru. Si Dia sih santai saja dompetnya raib, belum rejeki, katanya.

Iya, memang barang yang hilang itu belum rejeki kita. Sudah selayaknya diikhlaskan saja. Tapi kan, tetap saja terasa menyesakkan dada. Merepotkan juga. Bukan gampang mengurus segala kartu-kartu penting yang terdapat di dalam dompet yang hilang itu.

Ibaratnya, jika bisa tawar-menawar sama yang mengambil atau yang menemukan dompet tersebut, ambillah uang dan dompetnya, tapi tolong kembalikan kartu-kartu penting di dalamnya.

Membayangkan harus repot mengurus kartu identitas, kartu ATM dan kartu-kartu lain. Tidak mungkin dibiarkan saja, kan. Mau tidak mau memang harus diurus. Kartu ATM di blokir terlebih dahulu. Mengurus surat keterangan kehilangan di Polsek terdekat. Melapor ke RT, kelurahan, ahh, panjang rentetannya.

Makanya, aku gemeeeezz kalau Si Dia, lagi-lagi, kehilangan dompetnya. Eeh, sekarang, Si Dia malah ‘ngambeg’, tidak mau memakai dompet lagi. Katanya, nanti hilang lagi, aku marah lagi. Jadi biarlah tidak usah memakai dompet. OMG!!!

0Shares

Tinggalkan Balasan