Siapa?

Tik tok tik tok.

Tengah malam, jelang dini hari. Detik jarum jam masih setia berputar. Perlahan hawa dingin mulai menyelimuti kamarku.

Tik tik tik.

Netra mengerjap, mencoba memfokuskan pandangan. Samar terdengar rintik air mengenai atap rumah tetangga. Hujan sore tadi masih belum reda juga.

Pagelaran musik katak turut meramaikan musik alam. Hmm … sungguh perpaduan alam yang tiada duanya.

Kruyuuuk.

Ah, sial. Kenapa harus berbunyi di saat seperti ini?

Kutarik ke atas selimut tebal, hingga menutupi seluruh tubuh. Mencoba mengabaikan gemuruh perut.

Kruyuuk kruyuuuk.

Ah, kenapa makin menjadi saja bunyinya.

Baiklah, kalian dapat apa yang kalian mau. Sepiring mi goreng dini hari.

Kusingkirkan selimut dan segera turun dari tempat tidur. Dingin seketika, saat kedua kakiku menyentuh lantai. Ouch!

Mi instan tergolek tak berdaya didalam lemari penyimpanan. Hanya dia satu-satunya yang tersisa. Yah, terpaksa pakai cara itu, agar perut kenyang dan tidur pulas.

Untung kompor masih bisa menyala, jadi aku tak perlu ngegadoin mi. Kubiarkan sedikit lebih lama, mi terebus. Tentu saja, biar mi mengembang. Jadi porsinya lebih banyak!

Ah, masih ada sedikit nasi. Karena sudah terlanjur, kenapa nggak sekalian aja disantap. Yummy!

Tak butuh waktu lama, untuk sepiring nasi dan mi goreng ke dalam perut. Aromanya sungguh menggugah selera, apalagi ditengah hujan dini hari.

Gendut? Biarin aja.
*
Sinar matahari menerobos jendela, masuk ke dalam kamar. Hangat.

Hujan sudah reda, menyisakan hawa dingin pagi hari. Membuatku malas beranjak dari tempat tidur. Kubiarkan badan mengulat, sekedar peregangan bangun tidur.

Tok tok tok.

“Meeel … gue pulang dulu yaa. Ati-ati di kosan sendirian. Bye bye seyeng … ” teriak Arin, teman sejurusan yang satu atap, dari balik pintu.

“Ati-ati juga seyeng. Awas diculik si Andra,” balasku, masih memejamkan mata.

“Sialan lu, Mel.”

Andra adalah tukang ojek online langganan Arin. Entah kenapa, setiap kali memesan via aplikasi ojol, selalu si Andra yang dapet orderannya.

Mungkin, mereka jodoh kali yak. Atau … ah, sudahlah. Jangan mudah berprasangka buruk pada orang. Toh, kelihatannya dia orang baik. Mudah-mudahan aja iya.

Ah, bodo amat. Mending lanjut tidur.

Belum sempat mata terlelap, terdengar lagi suara pintu diketuk.

Aiih, siapa sih namu pagi-pagi gini? Ganggu orang tidur aja!

Sekilas kulirik jam di dinding, pukul 09.27. Hah?!

Tok tok tok.

“Sebentar … “

Kubuka pintu setelah merapikan rambut singaku. “Lho, bang Andra? Ngapain pagi-pagi ke sini?”

“Ini, nganterin pesenan ojol foodnya Arin.”

“Lha, si Arin pagi-pagi udah berangkat ke terminal Bang.”

“Iya, tadi gue yang anter. Ini emang pesenannya, tapi buat elu. Kasian, anak ayam ditinggal induknya pulang, katanya.”

“Weuw, beneran nih. Gue udah laper. Thanks ya Bang!”

Kuambil gawai yang tergeletak di atas meja, dan segera menyambungkan telepon ke Arin.

“Seyeng, makasih yak kiriman sarapannya.”

“Hah? Kiriman apaan?” tanyanya heran.

“Ini tadi si Andra ngirimin makanan, katanya lu yang beliin gue.”

“Hah? Enggak kok. Gue nggak pesen apa-apa. Demen kali si Andra sama lu,” goda Arin.

“Ah, rese lu. Udah ye, gue mau sarapan dulu. Bye seyeng … “

Klik. Sambungan telpon terputus.

Terus ini dari siapa dong? Tunggu, kalau nggak salah … Wajah si Andra tadi agak pucat. Hmm, mungkin lagi sakit kali ya?

Ah, bodo amat lah, yang penting kenyang!

Ngomong-ngomong, kaki si Andra tadi nampak kan??

Jombang, 06 Desember 2020
Salam Unyu


sumber gambar: freepik. com

0Shares

Tinggalkan Balasan