TEMA CHALLENGE IDE SEGAR WCR

Surat Dari Diriku, Sepuluh Tahun Lalu

Surat Dari Diriku, Sepuluh Tahun Lalu.

Lani menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, dan memejamkan matanya sejenak. Dia menghela nafas cukup panjang, membuat Mela, rekan semejanya meliriknya.

“Kenapa, Non? Kok kayaknya berat banget idup lu?”

It’s okay. Cuman yah, lu tau sendirikan kerjaan akhir tahun kayak gimana?” ucap Lani masih dalam posisi bersandarnya.

Mela tersenyum tipis mendengar jawaban Lani. Dia benar, kerjaan akhir tahun selalu menumpuk. Rasanya lebih menumpuk dari ghibahan yang mereka lakukan, selama setahun. Dan itu cukup untuk membuat anak magang, hengkang saat bulan pertama tahun baru berjalan. Meski baru beberapa bulan masuk kerja.

“Apa gue pamit undur diri aja ya, abis merit?” ucap Mela lirih. Disandarkan kepalanya pada pembatas meja, antara mejanya dan Lani.

“Hah? Lu mau merit Mel? Sama si Dito?” Lani menegakkan sandaran dan mencondongkan tubuhnya, mendekat pada Mela.

“Ya kali, masak merit sama kucing kantor.” Mela memutar bola matanya ke atas.

“Bu Lani, ada kiriman surat untuk ibu.” Pak Parto, satpam senior kantor, mengulurkan sepucuk amplop coklat.

“Dari siapa, Pak?” Lani heran, karena ia nggak pernah berkirim surat dengan siapa pun. Jaman secanggih ini, sudah ada gawai pintar. Jadi, kenapa harus berkirim surat, jika ada yang lebih cepat untuk berkomunikasi?

Lani memperhatikan dengan seksama amplop coklat itu. Di sana tertera sebuah alamat, di mana ia pernah tinggal 10 tahun yang lalu. Pengirim surat pun, menggunakan nama “Nila”. Sebuah nama samaran yang Lani buat, saat masih kecil dulu.

“Dari siapa, Lan?” Tanya Mela penasaran.

Lani mengangkat kedua bahunya, sembari membuka perlahan amplop itu. Amplop putih keluar, saat amplop pertama dibuka. Tak ada tanda apa-apa di amplop putih, hanya tertulis “Untuk diriku, 10 tahun dari sekarang.”

Sementara di bawahnya, tertera sebuah tanggal. Tepat sepuluh tahun lalu ditanggal yang sama, 27 Desember 2020.

Mela memperhatikan apa yang dilakukan oleh rekannya itu.

Ada beberapa lembar kertas keluar dari amplop putih. Kertas putih bergaris hitam, dengan motif love berwarna merah, bertabur ditepinya. Hanya saja, warna kertas sudah agak menguning. Mungkin karena terlalu lama tersimpan di jasa pengiriman.

“Ini kan …. “

Perlahan, Lani membacanya dengan seksama.

Dear My Self In Future,

Hai, apa kabar? Semoga kamu menerima surat ini. Karena kalau tidak, aku yang saat ini, akan sangat sangat menyesal.

Apa kamu masih bekerja di tempat yang Mela sebut neraka saat akhir tahun? Kalau iya, kamu hebat! Sudah bertahan di sana beertahun-tahun. Kamu pasti menjadi senior yang disegani. Atau mungkin, kamu akrab dengan anak-anak magang?

Ah, tapi, rasanya itu nggak mungkin ya? 😀

Lani tersenyum simpul, membacanya.

Apa kamu jadi menikah dengan senior bermata tajam itu?

Semoga iya! Karena aku benar-benar merasakan debaran yang berbeda dengan senior.

Hei! Bagaimana senior, atau entah siapa pun itu, melamarmu? Apakah romantis? Atau b aja?

Perasaan hangat tiba-tiba menjalari hati Lani, hanya dengan mengingat momen manis itu.

‘Ah … senior itu, benar-benar tau bagaimana memperlakukanku. He’s know me well,’ batinnya.

Bagaimana kabar keluarga kecilmu? Semoga baik-baik saja yaa.

Oh ya! Apa aku sudah menjadi seorang ibu? Apakah anak laki-laki? Atau Perempuan?

‘Kembar sepasang!’

Anak laki-laki ataupun perempuan, itu sama saja sayang. Karena mereka adalah anugrah terindah yang dititipkan-Nya.

Hei … apa kamu sudah bisa menerima ‘itu’? Bagaimana dengan suamimu? Apa dia tau? Dia bisa menerimamu apa adanya?

Aku tau, nggak seharus itu dibicarakan. Tapi itu akan melegakan hatimu, kan?

‘….’

Hei! Maaf kalau mengingatnya, masih membuat dadamu sesak. Tapi, semoga sekarang sudah nggak apa-apa 🙂

Aku tau, kau pasti rajin minum obatnya kan? Dan sekarang, semoga sudah terlepas dari obat!

Hei ….

Terima kasih, sudah mencoba untuk menelan kepahitan.

Terima kasih, untuk tak memilih mengakhiri dan bertahan sampai sekarang.

Kamu hebat! Kamu hebat! Kamu hebat!

Jangan lupa untuk bahagia!

Sayangku,
Aku sepuluh tahun yang lalu

Tanpa disadari, Lina meneteskan air matanya. Ada rasa syukur, haru dan kekuatan baru dalam hatinya.

Jombang, 26 Desember 2020
Salam Hangat si Unyu 💕

Sumber gambar: dari admin RNB Batch 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *