TEMA CHALLENGE IDE SEGAR WCR

Teman Baru?

Setelah kesana kemari melamar kerja, akhirnya aku diterima di salah satu pabrik pembuat kasur. Dan beruntungnya, mereka menyediakan mes untuk karyawan. Lokasinya terpisah dari pabrik dan gudang, tapi tak jauh dari sana. Hanya lima menit jika jalan kaki.

Malam itu, adalah malam terakhirku di mes. Anak-anak yang lain sudah pulang, sejak kantor bubaran tadi sore. Maklumlah, persiapan lebaran di rumah.

Aku? Berhubung baru bisa dijemput kakak laki-lakiku besok pagi, jadi ya … mau gimana lagi. Daripada rebutan dan dempet-dempetan di bus.

Mbak Nindi, Elsa dan aku tengah duduk di bangku taman samping mes. Kebetulan sekali, kami bertiga sedang kedatangan tamu, jadi bisa bolos sholat terawih. Dan, dari pada bengong sendirian di kamar masing-masing, atau malah tiduran saat malam-malam sepuluh hari terakhir.

Kami memilih untuk sekedar ngobrol ringan, mengenai apa saja yang ada dalam benak.

Gemintang masih setia menemani langit malam, semilir angin berhembus mesra. Semerbak harum kembang melati sedikit menguar, samar-samar.

“Eh eh, diem dulu dong,” pinta Elsa, yang membuat kami berdua menghentikan obrolan.

Hening. Hanya terdengar suara hewan malam.

“Kenapa, Sa?” tanya Mbak Nindi.

“Mbak Nindi sama Mbak Arin ada cium bau melati nggak?”

Pertanyaan Elsa membuatku menutup mata dan mencoba mencium bau yang dimaksudnya. Samar-samar, memang tercium bau kembang melati. Tipis.

Sontak bulu-bulu halus di tubuh berdiri. Merinding.

“Iya sih. Biasanya kalau ada bau-bauan melati gini, ada sosok mbak pake daster putih lewat,” jelas Mbak Nindi.

“Iiih Mbak, jangan nyebutin doong,” Elsa merapatkan duduknya sembari mengaitkan kedua tangannya ke tangan kiri Mbak Nindi.

Aku dan Mbak Nindi tertawa melihat kelakuan Elsa. Maklum sih, dia anaknya memang penakut kalau soal beginian.

“Sa, cemilannya abis nih. Ambilin stoknya di dapur dong,” pintaku.

“Ogah, Mbak sendiri aja yang ngambil.”

“Dih, awas lu ya, kalau minta mi goreng spesialku,” ancamku. Kulangkahkan kaku menuju dapur.

“Mbak Ar … bareeeng. Aku mau ke kamar mandi,” Elsa membuntutiku dari belakang.

Mungkin karena sudah tidak tahan, Elsa buru-buru ke kamar mandi.

“AARGH!!”

Mendengar teriakan Elsa, aku segera berlari ke arah kamar mandi yang ada di sebelah dapur.

Kudapati Elsa jatuh terduduk, badannya bergetar. Matanya menatap ke arah dapur. Entah apa yang dilihatnya, hingga wajahnya tampak pucat.

Penasaran, kuarahkan pandanganku ke arah dapur. Tampak sesosok mengenakan pakaian putih lusuh, dengan rambut panjangnya yang sepertinya tak pernah tersentuh perawatan salon.

Bau anyir sekilas tercium, samar.

Sosok itu berdiri, menggenggam sebuah pisau di tangan kirinya. Tak ada senyum yang tampak dari bibirnya yang putih pucat.

Kakinya tak … eh? Sosok itu bersepatu?

“Ada apa, Sa?” tanya Mbak Nindi. “Lho? Doni, kan sudah mbak bilang. Jangan keluar kamar.”

Mbak Nindi menerobos masuk ke dapur, dan berbicara pada sosok itu.

Sorry gaes. Ini keponakanku yang lagi numpang bentar di sini. Jangan bilang siapa-siapa ya, please …. ”

“Duh, mbaak … bikin kaget aja. Bilang dong, kalau nyelundupin orang. Kasian Elsa, sampai ngompol gini,” ledekku.

Yah, aturan di mes adalah nggak boleh ada yang bawa lawan jenis, meski dengan alasan keluarga. Karena, memang sudah disediakan terpisah.

“Iya nih, Mbak Nindi. Bikin spot jantung aja,” Elsa mengelus dadanya.

“Lho, kok pada ngumpul di sini?” tanya sebuah suara dari belakangku.

Mata Mbak Nindi membelalak, wajahnya pucat seketika melihat si empunya suara. Elsa dan aku memutar badan pelan, ragu. Tapi rasa penasaran tetap membuat kami berputar.

Si empunya suara tadi adalah remaja laki-laki, yang mengenakan jubah putih menjuntai ke bawah dan rambut panjang pasangan. Di tangan kirinya menggenggam pisau panjang. Terpasang pula sepatu kulit warna coklat. Tapi wajahnya tak tampak pucat.

“Doni … ” sebut Mbak Nindi sebelum tubuhnya ambruk ke lantai.

Sementara sosok yang ada di sampingnya, terbang melayang ke arah kami. Sambil tertawa nyaring. Samar kudengar bisiknya, saat melewatiku.

Jangan kemana-mana yaa, nanti aku balik lagi. Hihihi.

Jombang, 12 Desember 2020

Salam Unyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *