Gelap, hujan, dan dingin. Terdengar guruh bersahutan. Kusembunyikan tubuh mungilku ke sudut kardus. Andai aku tak kabur mengejar kupu-kupu, pastilah aku masih berada di rumah bersama ibu dan saudara-saudaraku. Aku tak harus melalui malam gelap ini seorang diri. Malangnya, di sinilah keberadaanku sekarang. Di sudut kardus di balik tembok bak sampah, sendirian, kedinginan dan ketakutan.

Hujan telah reda, aku beranjak keluar kardus, hendak mencari rumah baru, karena kardus yang tadi kupakai sudah basah dan tak bisa lagi di huni. Aku melompat keluar kardus, Kuedarkan netraku di kegelapan malam. Satu-satunya cahaya yang menerangi adalah lampu jalan di dekat bak sampah ini. Bulan pun enggan muncul, sembunyi di balik awan mendung.

Dengan langkah gontai aku berjalan.
“Hmm.. sebaiknya aku mencari makan terlebih dulu, baru setelahnya aku mencari tempat berteduh,” pikirku.

Saat tengah mencari makanan, tiba-tiba ada sorot lampu mendekat. Tak lama nampak sebuah sepeda motor berhenti di dekat bak sampah, lalu seorang anak laki-laki turun meletakkan sekantong sampah. Sesaat, netra kami bertemu. Dia melihatku dengan iba. Setelah dia bertanya dengan lelaki yang lebih dewasa, dia menghampiriku.

Awalnya, aku ragu, ingin berlari saja. Aku takut tertangkap oleh orang jahat. Kata ibu, di luar banyak orang jahat yang suka menyiksa hewan. Tetapi, sorot mata anak itu begitu teduh dan bersahabat.

“Puuss.. puusss.. ckckck.. sini..” panggilnya.

Aku mendekat perlahan. Tangan anak lelaki itu mengelus kepalaku sebelum akhirnya dia mengangkat tubuhku. Aku merasa nyaman bersamanya.

“Ikut pulang denganku, ya? Mau?” tanyanya.

Aku menatapnya ragu. Ingin rasanya aku tetap berada di pelukannya malam ini, tapi, jika aku pergi dari sini, aku akan semakin jauh dari keluargaku. Siapa tahu, besok keluargaku mencari ke sekitar sini.

Kuusapkan kepalaku ke dadanya, tanda terima kasihku atas pelukannya malam ini. Lalu bergegas melompat turun.

“Eehh, mau kemana?” anak lelaki itu bertanya kaget.

“Ayoo ikut aku saja. Di luar gelap dan dingin pula.” bujuknya.

Aku hanya mengeong lalu berjalan menjauh.

“Bang, ayooo! Kalau nggak mau ikut jangan dipaksa,” suara lelaki dewasa memanggilnya.

“Iya, Yah. Sebentar.” jawab sang anak lelaki. Lalu dia merogoh sakunya. Mengeluarkan tempat makan kecil berisi makanan kucing yang biasa dia bawa. Ditinggalkannya sebagian makanan kucing itu di atas kertas, dekat aku melompat tadi.

“Makan yaa.” katanya.

“Meeooowww.” kataku berterima kasih yang dibalas lambaian tangannya.

“Besok aku ke sini lagi, kalau kamu mau ikut, besok juga tidak apa-apa.” Anak lelaki itu berjanji.

Lalu sepeda motor pun berlalu, meninggalkanku menikmati makanan yang tadi diberikan oleh anak lelaki itu.

“Akankah esok dia menepati janji?” tanyaku dalam hati

“Atau keluargaku sudah menemukanku terlebih dahulu?” entahlah, yang pasti malam ini aku tidak kelaparan. Esok, biarlah aku nantikan, sambil berharap segala kebaikan.

0Shares

Tinggalkan Balasan