Uang Itu Kubawa Mati!

Aku heran, dengan orang-orang yang bilang bahwa, uang itu tidak bisa dibawa mati. Jadi, buat apa menyimpan banyak uang, hasil kerja kerasku selama ini di brangkas. Toh, aku hidup sebatang kara di sini.

Lebih baik, menikmatinya selagi muda. Membeli rumah atau kendaraan mewah, atau dengan pergi berlibur. Atau mungkin investasi dengan membeli vila di puncak dan disewakan.

Atau … bersenang-senang dengan para gadis. Toh, aku masih muda, tampan dan tipe idealnya perempuan muda.  Mereka dengan senang hati, menemaniku sepanjang hari.

Begitu saran mereka.

Yah, dengan posisiku di perusahaan ini, gaji yang diberikan memang cukup fantastis. Karena pengalaman kerja yang mumpuni, juga kinerjaku selama ini dinilai bagus.

Banyak dari rekan-rekan sejawat, yang menyatakan ingin serius denganku. Bahkan beberapa klien mencoba untuk menjodohkanku dengan anak mereka.

Tapi keinginan untuk melepas status lajang itu belum ada. Tepatnya, belum ada lagi, sejak orang tuaku meninggal tiga tahun lalu.

Dunia benar-benar runtuh, saat itu.
*
Sore ini, kusempatkan untuk kumpul dengan teman-teman SMA dulu. Setelah kesekian kali aku menolak datang, kucoba untuk datang. Setidaknya sekali. Toh, sedang lowong juga.

“Bro! Sini,” teriak laki-laki yang tengah duduk melingkar dengan beberapa orang lainnya.

“Weii bro! Sibuk banget bos kita satu ini,” ucap laki-laki berkacamata berdiri dan menyodorkan tinjunya kearahku.

Kusambut dengan membalas tinjunya.

Nata, yang duduk di sebelah tempatku berdiri, memeluk sambil menepuk pundakku. “Long time to see you my bro!”

Sementara teman-teman yang lain menyambutku dengan tawa hangat, khas mereka yang dulu. Sepertinya aku terlalu khawatir.

“Akhirnya, geng kita kumpul lengkap. Gimana kalau kita ke klub? Sekalian ngerayain kedatangan big bro kita,” kata Nata. Ya, dialah pentolan geng sewaktu SMA. Berkat dia pula, aku terhindar dari bullying yang lebih parah.

“Eits, sorry Nat. Kalau ke klub, aku nggak bisa ikutan,” tolakku.

“Ya elah bro … idup cuma sekali, jangan disia-siain. Maen ke klub sesekali nggak papa kan? Toh, ini gue yang traktir. Oke?”

“Bro, jangan lurus-lurus amatlah jadi orang. Sesekali having fun lah. Jangan kerja mulu, toh uang segunung juga, nggak bakal lu bawa mati kan?” canda Andi.

“Uang itu aku bawa mati,” ucapku lirih.

“Hah? Buat apa bro? Mau nyuap malaikat?”

Kupandang sekeliling, semuanya tertawa. Dan hanya Nata yang tidak.

“Uang itu aku bawa mati!” kugebrak meja.

Seketika teman-teman terdiam. Mungkin ini baru pertama kali mereka melihatku marah. Orang-orang sekitar mulai melihat kearah kami.

“Gimana caranya?” tanya Nata.

Kuambil gawai yang ada di saku, lantas kubuka aplikasi mobile banking.

“Begini,” kutunjukkan layar gawai. Tertera notifikasi transfer berhasil ke satu yayasan panti asuhan, dengan angka satu yang diikuti angka nol sebanyak tujuh dibelakangnya.

Jombang, 20 Desember 2020
Salam Unyu

Sumber gambar: freepik.com

0Shares

Tinggalkan Balasan