Pertemuan Kedua.

Deburan ombak menyapu jemari kaki Nindi, menghapus jejak yang tertinggal di bibir pantai.

Andai menghapus sisa-sisa kenanganmu semudah ombak yang menghapus jejak kakiku.

Nindi menatap jauh laut yang membentang jauh, seolah tak berujung. Membuatnya berjalan pelan ke tengah, tanpa disadarinya. Sampai sebuah suara yang menyadarkannya, menghentikan langkahnya.

“Hei, bahaya! Jangan melamun!” Si pemilik suara itu menarik kasar tangan Nindi, sehingga mereka saling berhadapan.

Deg!

“Nindi?! Ngapain kamu? Sudah gila ya?!”

Nindi merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dadanya terasa sesak, napasnya mulai memburu. Pandangan matanya mulai kabur.

No! Jangan sekarang.

Jemari Nindi mengepal. Diatur napasnya perlahan.

“Ayaah …. “

Di kejauhan, seorang gadis kecil berlari ke arah Nindi dan laki-laki itu. Sementara dibelakangnya, seorang wanita berambut sebahu, berusaha menyusul gadis kecil itu.

“Apaan sih, orang cuma jalan-jalan doang.”

“Jalan-jalan ke tengah laut?!”

“Kamu masih sama kayak dulu ya. Suka ikut campur urusan orang lain,” ucap Nindi menekankan kalimat terakhir.

Di hempaskannya tangan laki-laki yang masih erat memegang tangannya. Lantas ia segera berlalu, meninggalkannya begitu saja.
*
Nindi istirahat sebentar di lobi hotel. Kedua kakinya masih gemetar setelah apa yang terjadi barusan.

Saat tengah mengistirahatkan kedua kakinya, gawai pintar Nindi bergetar. Tertera nama Martha di layar.

Nindi menghirup napas dalam-dalam, mengatur nada suaranya agar terdengar sedikit tenang. Baru setelah itu, diterimanya panggilan telepon Martha. Tepat sebelum panggilan berakhir.

“Akhirnya diangkat juga. Kemana aja Non, telepon dari tadi nggak diangkat-angkat,” cerocos dari seberang telpon.

“Hehe … sorry, tadi abis tenggelam di pantai,” gurau Nindi.

“Oh? Lagi di tempat biasa?”

“Yaa … gitu deh,” Nindi memejamkan mata dan merebahkan kepalanya di sandaran sofa. Denyut di kepalanya masih sedikit terasa. “Lagi pula, besok aku ada janji dengan klien. Jadi, kenapa nggak sekalian liburan aja.”

“Ooh … okay. Tapi Nin, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Niko.

“Nik, dimana-mana yang namanya orang liburan, ya nggak apa-apa lah. Orang lagi seneng-seneng juga,” diurutnya pelipis sebelah kiri, sekedar untuk meredakan denyut di kepalanya. “Lagian, kalian ini kan pengantin baru, kok malah telponin Mak Comblangnya sih?”

“Kita berdua kan khawatir, apalagi setelah tahu kamu pingsan setelah acara kemaren,” ujar Niko khawatir.

Wait, tahu dari mana kalian kalau …. “

“Jadi bener, kemarin kamu pingsan?” tanya Martha.

Guys, aku tahu kalian khawatir. Thanks, but i`m fine, Okay!?” jelas Nindi. “Udah sana, nikmatin honeyweeknya,” ditutupnya sambungan telepon.
*
Matahari sudah kembali ke peraduannya, saat Nindi terbangun.

Denyut di kepalanya sudah hilang, ia memutuskan untuk makan malam di luar setelah bersiap-siap.

Ia mengenakan celana jeans dan sweater berwarna biru muda kesayangannya. Tipis-tipis disapukannya bedak dan lipbalm warna nude. Sementara rambutnya, dihias dengan jepit rambut bunga yang terbuat dari manik-manik berwarna senada dengan sweaternya.

Nindi tak pernah mengenakan riasan, saat liburan seperti ini. Hanya saja, entah kenapa ia ingin berias tipis-tipis.

Di tempat makan, Nindi memilih spot favoritnya. Tempat yang selalu dipilihnya, saat datang ke pantai ini. Dan tentu saja, pegawai di sini hapal dengan kebiasaan pelanggan setia mereka.

Meja yang menghadap langsung ke pantai, yang menampilkan pesona lainnya saat malam tiba.

“Permisi cantik, boleh gabung nggak makan malamnya?” tanya sebuah suara.

Nindi mengacuhkan suara itu. Ia tetap asyik memainkan gawainya.

“Duuh, cantik-cantik tapi budek ya,” si pemilik suara bariton itu menarik kursi yang ada di sebelah Nindi.

“Maaf ya, saya sudah menikah. Jadi, silahkan pergi,” ucap Nindi ketus, ditunjukkannya cincin bermata biru yang menghiasi jari manisnya.

“Masak sih sudah nikah? Kata Niko kamu masih single tuh,” ucap laki-laki itu.

Nindi yang jengah, diletakkan gawainya. Ingin sekali ia memaki laki-laki yang tengah mengggodanya. Tapi diurungkannya, setelah tahu siapa laki-laki itu.

“Lho, kamu?”

Bersambung ….

Jombang, 07 Nopember 2020
Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan