Ujung Penantian (3)

Awal Rasa

“Lho, kamu?”

Laki-laki yang tengah tersenyum melihat tingkah Nindi, adalah laki-laki yang telah membawanya ke klinik saat ia pingsan di pertemuan pertama.

“Hai, gimana keadaannya?” tanyanya.

“Oh, eh, em … never feel better like this,” jawab Nindi sedikit ragu. “Oh ya, tadi Mas Andi sebut-sebut nama Niko. Niko Atmajaya maksudnya?”

“Betul. Dia kawan lama, sama seperti denganmu … “

“Permisi … ” ucap pelayan yang mengantarkan pesanan Nindi.

“Mbak, saya pesen seperti punya dia ya.”

“Baik pak, mohon ditunggu,” pelayan itu kembali ke bagian dapur.

“Nggak apa-apa kan, kalau aku gabung di sini? Atau … kamu mau menikmati pemandangan pantai saat malam hari sendirian?” tanya Andi.

“Kalau bisa sih, saya ingin sendiri … “ujar Nindi yang memberi sedikit penekanan saat mengucapkan kata sendiri.

“Oke. Aku temenin kamu,” potong Andi.

Mendengar ucapannya, Nindi hanya bisa terperangah. Membuat bola matanya melingkar ke atas.

Selama makan malam, Nindi tak terlalu menanggapi obrolan Andi. Terkesan dingin. Meski demikian, entah kenapa hati Nindi merasa menikmati obrolan tadi.

“Sayaang … ternyata kamu di sini. Dicariin dari tadi, telpon juga nggak diangkat,” ucap manja perempuan yang muncul entah dari mana. Tanpa alih-alih, melingkarkan tangannya di leher Andi dan mencium pipi kirinya.

Perempuan dengan rambut pendek itu, lebih tepatnya potongan rambut tomboy, mengenakan gaun malam warna hitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.

Sementara bibirnya tersapu lipstik warna merah. Perpaduan yang cukup berani, untuk perempuan yang usianya mendekati kepala tiga. Mungkin.

“Berhubung Mas Andi sudah ada pasangannya, jadi saya pamit undur diri,” Nindi bergegas bangkit dari tempat duduknya.

“Selamat beristirahat dan sampai jumpa besok pagi Nin,” ucap Andi.

Nindi berlalu begitu saja, tanpa membalas ucapan Andi.

Sesampainya di kamar, Nindi membanting tubuhnya ke atas kasur. Ditatapnya lamat-lamat lampu yang tergantung.

Arg! Hari ini kenapa sih?! Niatnya liburan, ngurangin stres. Kok malah tambah stres gini. Nindi memukuli kasurnya yang tak salah apa-apa, dengan posisi masih terlentang. Apa katanya? Sampai jumpa besok pagi? Cih! Ngarep banget.

Jelas-jelas udah punya pasangan, masih juga godain orang. Kok bisa sih, Niko punya temen kayak gitu. Suka tebar pesona!

Aargh!! teriak Nindi pada bantal, membuat teriakannya teredam.
*
Sinar matahari pagi perlahan merayap, menembus kaca jendela kamar. Sementara itu, gawai Nindi masih terus bergetar, tanda alarm belum dimatikan.

Nindi mengeliat, mencoba meraih gawainya yang ada di atas meja sebelah tempat tidurnya. Kedua matanya mengerjap, membiasakan sinar matahari yang tak lagi mengahatkan.

Samar-samar dilihatnya jam yang tertera di gawainya, pukul 07.30.

What?!!

Nindi melompat dari tempat tidurnya, lantas buru-buru masuk kamar mandi. Tak sampai lima menit, ia keluar dengan handuk terlilit di kepala. Sementara wajahnya, tampak basah dan terlihat sedikit lebih segar.

Tangan Nindi tampak lincah mengoleskan segala make-up di wajahnya. Tinggal mengenakan lipstik dan berganti pakaian, maka ia siap untuk meeting kali ini.

Nindi mengenakan kemeja lengan pendek warna biru muda, dipadu dengan blazer warna senada. Sementara celana yang dikenakannya berwarna hitam.

Sebelum berangkat, Nindi membawa setangkai mawar putih, yang terbuat dari kertas. Sebagai tanda, bahwa dia adalah utusan dari penerbit tempatnya bekerja.

Jika ditanya kenapa, tentu saja karena ini adalah permintaan si calon klien.

Ada-ada saja ….

Nindi memilih meja yang ada di ujung, tak terlalu ramai. Tapi, pemandangan tepi pantai masih bisa dijangkau kedua matanya.

“Hai cantik … sepertinya kita berjodoh ya. Lagi-lagi ketemu di sini,” sapa sebuah suara, yang intonasinya masih dengan jelas Nindi ingat.

“Maaf Mas, tapi pagi ini saya ada janji meeting dengan klien. Jadi, saya harap Mas tidak gabung di meja ini,” tolak Nindi.

“Klien? Apa maksudmu … `mawar putih tak semempesona mawar merah, tapi ia favoritku`?” ucap Andi.

“Lho? Kok Mas tahu kata-kata itu?” Nindi heran. Sebab, itu adalah kata sandi yang harus diucapkan si klien.

“Karena … akulah si klien,” Andi tertawa ringan.

Nindi yang mendengar jawaban Andi, hanya bisa melongo.

Sial!

Bersambung ….

Jombang, 09 Nopember 2020
Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan