Ujung Penantian (4)

Pertemuan.

Matahari bersinar dengan teriknya, meski hari masih pagi. Deburan ombak pun tak pernah lelah untuk kembali menepi, membawa butiran pasir dan buih-buih.

Tak ada sampah yang berserakan, karena di pantai ini, kebersihan sangat dijaga oleh pemerintah setempat. Menjadikan nyaman pengunjung yang datang. Andi salah satunya.

Pagi ini, setelah lari pagi di bibir pantai, ia memutuskan beristirahat sejenak dengan duduk santai. Menikmati matahari terbit.

Andi merasa sedikit terusik dengan sosok yang ditangkap matanya. Sosok itu, tengah berjalan ke arah pantai. Lebih tepatnya, ia hendak berjalan ke tengah laut.

Sadar akan sesuatu, Andi bangkit dari duduknya, berniat untuk mendekati sosok itu. Namun diurungkannya, karena ia melihat laki-laki yang tengah menyusulnya.

Laki-laki itu menarik lengan sang gadis, sosok yang berjalan ke tengah laut, agar tak berjalan lebih jauh. Meski gadis itu memberontak, ia masih kalah dalam pelukan laki-laki yang menariknya.

Huh, pasti masalah percintaan. Dasar manusia jaman sekarang.

Setelah sedikit tenang, keduanya kembali ke tepi. Di sana, mereka disambut gadis berambut kemerahan sebahu yang membawa dan menyerahkan handuk. Agar keduanya tak kedinginan terkena angin laut.

“Nik?”

Andi tahu persis siapa laki-laki yang menolong gadis tadi. Ia adalah kawannya saat di kampus dulu. Karena kesibukan masing-masing, mereka jarang bertemu.

Sejak saat itu, hampir setiap Andi berlibur di pantai ini, ia selalu bertemu dengan gadis yang tadi dipeluk kawan lamanya.
*
Fokus Andi sedikit teralihkan, karena sosok gadis yang lumayan familiar baginya, tampak tak seperti biasanya ia temui. Bukan wajah murung dan sendu, melainkan tampak cerah dan ceria. Dan harus Andi akui, ia selalu tampak cantik.

Yah, gadis yang dimaksud Andi adalah sosok gadis yang pernah ia temui di pantai beberapa waktu lalu. Dan ia adalah salah satu staf yang ditunjuk dalam proyek bersamanya kali ini.

“Baik, sampai di sini dulu rapatnya. Saya harap, batas deadline dan target tadi bisa kita capai. Silahkan bubar,” ucap Niko.

Para staf yang mengikuti rapat, segera keluar ruangan, termasuk si gadis. Berhubung ruangan sepi, Andi dan Niko merasa lebih leluasa ngobrol santai antar kawan lama.

“Eh Nik, cewek yang pakai kemeja biru, bando bintang, duduk sebelah lu tadi siapa namanya?” tanya Andi tanpa alih-alih.

Niko yang tengah meneguk air minum, langsung menyemburkannya. “Kenapa emang? Lu demen?” selidik Niko.

“Emm … sekedar tertarik?” jawab Andi sedikit ragu.

“Tumbenan amat sih lu, nanya-nanya soal cewek?” Niko tanya balik, heran. “Gue peringatin, kalau lu cuma sekedar main-main, lupain. Kalau nggak, gue tarik dia dari proyek ini.”

“Woo … tenang my bro, gue nggak bakal rebut cewek lu kok ….”

She’s not my girlfriend,” potong Niko dingin.

“Oke … oke … jangan sensi gitu dong. Kayak cewek lagi dapet aja lu,” canda Andi.

Sorry, gue emang agak sensi kalau ngomongin soal Nindi,” Niko menyibakkan rambutnya kebelakang. “Udahlah, bahas yang lain aja.”

“Oh ya, gimana lu sama cewek yang dulu itu? Udah jadian? Apa jangan-jangan lu udah merit?” ledek Andi.

“Ah, sialan lu. Masih kejebak sahabat zone gue. Nggak peka-peka dia,” Niko mengacak-acak rambutnya, yang baru saja dirapikannya.

Mendengarnya, Andi tertawa. “Ngenesan mana sama gue yang ditinggal kawin?”

Hening sesaat, lantas keduanya tertawa bersama. Menertawakan nasib percintaan keduanya yang sama-sama ngenes.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, dari balik pintu muncul Martha. Ia melambai pada Niko, mengisyaratkannya untuk mendekat.

“Nik, aku izin dulu ya, mau nemenin Nindi. Tadi dia jatuh dari tangga,” bisik Martha.

“Hah? kok bisa jatuh? Gimana ceritanya?” tanya Niko cemas.

“Aku juga nggak tahu, tadi dikasih tahu sama si Juli. Dia udah dibawa ke klinik sih. Ini mau nyusulin, takut serangan paniknya kambuh lagi.”

“Yaudah, pulang dari sini kusamperin. Sementara kerjaan Nindi biar aku yang handel,” Niko yang merasa Martha tengah cemas, menepuk kepala Martha untuk sekedar menenangkannya. “Dia nggak bakalan kenapa-napa kok, Tha.”

“Iya, aku tahu. Aku berangkat dulu ya,” disekanya air mata yang hendak jatuh.

“Ada apa Nik?” tanya Andi.

“Sorry Ndi, kayaknya proyek kita bakal mundur dari deadline. Tukang gambar andalan gue baru kena musibah,” jelas Niko. “Gue tahu, nggak seharusnya ini jadi alasan. Tapi, gue harap lu ada pengertian.”

“Nggak profesional banget sih lu Nik …. “

“NINDI itu udah kayak adek gue sendiri. Dan bukannya pilih kasih, tapi kasusnya Nindi itu beda …. ” tampak jelas raut frustasi di wajah Niko.

“Nik, setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri. Harusnya mereka juga bisa me-manage, masalah mereka. Bukan malah minta pengertian Nik.”

“Eh anying, kan lu sendiri yang minta tukang gambarnya si Nindi aja. Nggak mau yang lain. Kalau lu mau ganti, gue cariin. Tapi kau lu maunya tetep Nindi, lu musti nerima kalau molor. Titik! Nggak ada debat.”

Duh, gimana sih Niko? Kan harusnya terserah gue, kliennya.

Jombang, 16 Nopember 2020
Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan