Ujung Penantian.

Deting jarum jam masih terus berdetik, gelap malam pun semakin memuncak. Tapi mata yang sudah sayup menahan kantuk, tak juga terpejam.

Hati pun tak tenang, menanti datangnya sang mentari pagi, melakukan tugas rutinitasnya. Menyinari bumi dengan sinar hangatnya.

Ting! Satu pesan masuk dari aplikasi hijau.

Dek, sudah bisa tidur?

Melihat nama si pengirim pesan, cukup untuk membuat bibirku melengkung ke bawah. Segera kubalas singkat.

Belum Mas, kepikiran besok. Atiku dag dig dug terus. Nggak bisa tidur.

Sholat malam dulu Dek. Usahakan tidur, meski cuma sebentar. Besok acaranya bakal seharian, nanti nge-drop lho.

Iyaa Mas … ini mau siap-siap.

Kuletakkan gawai di atas meja di samping tempat tidur.

Tak sampai lima detik, kuambil kembali gawai dan segera mengetik satu pesan singkat.

Mas, terima kasih yaa….

***

6 bulan sebelumnya….

Ruangan yang bernuansa dan segala pernak-pernik berwarna putih itu, ramai dan penuh tamu. Bahkan tamu-tamu pun, mengenakan pakaian warna putih. Kecuali tamu laki-laki.

Di atas singggasana sehari itu, tampak kedua mempelai begitu bahagia. Bagaimana tidak, hari yang mereka nantikan akhirnya datang.

Dua orang yang sudah sejak kecil bersahabat, akhirnya melabuhkan hati bersama. Mengakhiri pencarian panjang sang kekasih hati. Dan sama-sama memulai babak baru dalam perjalanan panjang lainnya. Bersama.

“Akhirnyaaa … setelah drama panjang kalian, aku terbebas dari curhatan kalian yang nggak ada abisnya,” kupeluk kedua mempelai.

Yah, mereka berdua adalah sahabatku, sejak kecil. Aku pun tahu, kalau mereka punya rasa yang sama. Hanya saja, keduanya terlalu gengsi untuk mengakui.

Kuputuskan untuk mempertemukan kedua, bicara dari hati ke hati. Karena aku sudah nggak tahan mendengar curhatan mereka, terus mengeluh satu sama lain.

Dan kalian tahu? Hari ini adalah tepat sebulan setelah itu, mereka menikah!

Thanks ya, Nin … ” ucap Niko.

Yees, big thanks for you sistaaa … ” Martha memeluk erat Mak Comblangnya. “Cepet nyusul yak, lupain yang dulu-dulu itu. It’s just old stories dear ….

Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Goresan itu mulai memudar, hanya ingatan saja yang masih membekas. Membuat hati terasa beku.

“Eh, kalian udah nikah. Kalau ada apa-apa, bicarain berdua. Aku nggak mau ikut campur urusan rumah tangga kalian. Makan ati tahu nggak,” ucapku sebal.

Niko dan Martha tertawa mendengar protes Nindi. Yah, mereka memang tipe yang suka mencari orang ketiga, saat ada masalah. Dan Nindi adalah orangnya.

Karena tak bisa berlama-lama, Nindi putuskan untuk segera pulang, setelah menemui orang tua Niko dan Martha. Kepalanya mulai berdenyut, jika terlalu lama dikeramaian.

*

Nindi berjalan sedikit terhuyung, kepalanya tak pernah berdenyut seperti ini. Lebih tepatnya, sudah lama rasa sakitnya tak ia rasakan lagi. Sejak saat itu.

Ia jatuh terduduk, karena kakinya gemetar tak kuat menahan beban tubuhnya sendiri.

Rasa sesak di dada mulai menyerangnya. Telinga kanan Nindi berdenging, perlahan pandangannya mulai kabur. Sebelum akhirnya gelap.

Kenapa … harus … se … karang ….

*

Ruangan yang begitu terang, membuat Nindi membuka matanya perlahan. Samar-samar ia mendengar obrolan seseorang di sampingnya. Apa mereka membicarakanku?

“Sudah mendingan?” tanya suara laki-laki yang asing di telinganya. “Ini di klink S. Tadi aku menemukanmu pingsan.”

“Terima kasih … ” Nindi memejamkan matanya lagi, karena belum terbiasa dengan cahaya lampu.

“Ada kontak keluarga? Atau teman yang bisa dihubungi?” tanyanya lagi.

Nindi melirik ke arah jam dinding, yang terpasang tepat di depan ranjang ia terbaring. Pukul 20.35.

“Terima kasih. Biar nanti aku saja yang menghubungi. Maaf sudah merepotkan Mas … ?”

“Andi.”

“Sekali lagi, maaf sudah merepotkan dan terima kasih, Mas Andi,”

Karena tak tega membiarkan Nindi sendirian, Andi menunggui sebentar. Sebelum akhirnya ia pamit.

***

Pertemuan singkat itu, siapa yang tahu, jika ke depan keduanya akan dipertemukan lagi. Bahkan mungkin, berjodoh?

Sekali lagi, siapa yang tahu?

Bersambung ….

Catatan: sumber gambar dari pixabay.com

Mojokerto, 06 Nopember 2020

Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan