Walau Berbeda, Tetaplah Bermakna

Hening suasana malam di sepuluh terakhir Ramadan. Lamunan membara ke tahun-tahun sebelum badai covid merajalela. Suasana Ramadan penuh suka cita, pasar bedug yang ramai dikunjungi ibu-ibu yang mencari panganan berbuka, anak-anak yang riang berjalan menuju tempat ibadah untuk melaksanakan taraweh berjamaah, serunya acara buka puasa bersama alumni atau teman kantor, hingga macetnya arus mudik yang tetap dinikmati demi berkumpul melepas rindu dengan keluarga.

Ah, rindunya. Seharusnya, jika mengikuti tradisi tahun sebelumnya, dalam beberapa hari ke depan kami pun mudik sekeluarga. Tapi kali ini tidak. Rindu akan kampung halaman tidak lantas menjadikan kami egois dan nekad mudik. Kami tak ingin jadi lantaran terjangkitnya orang-orang tersayang karena ketidakpastian akan virus ini, iya kami merasa sehat, tapi, jika ternyata kami carrier dan menjangkiti orang-orang tersayang di kampung halaman, terutama para sepuh yang imunitasnya tak lagi prima, bagaimana?? Tidak. Jangan berspekulasi. Nyawa orang-orang tersayanglah yang jadi taruhannya. Tahan rindu.

Bahkan, beribadah pun kita dianjurkan di rumah saja. Tak ada salat jumat, atau taraweh digelar di musala dan masjid-masjid. Kalaupun ada, hanya pengurus masjid saja. Salat Ied pun dihimbau untuk tidak dilaksanakan di masjid-masjid serta lapangan seperti biasanya. Sedih pastinya. Tapi, mau bagaimana lagi. Tahun ini kita memang tengah di uji.

Baca juga:

Termasuk ujian beribadah juga. Tidak bisa ke masjid, jangan lantas salat jadi dikerjakan di ujung-ujung waktu. Tetap tepat waktu dan usahakan berjamaah dengan seluruh anggota keluarga. Tak ada pengajian atau majlis yang bisa dikunjungi, namun, tetaplah mengaji, tadarussan dan taklim di rumah. Mendengar ceramah ulama bersama-sama atau menyampaikan kembali isi ceramah tersebut di depan anak-anak tetaplah penuh makna.

Masjid memang tak bisa kita kunjungi, tapi membawa suasananya ke dalam rumah, InsyaaAllah bisa kita usahakan. Ayah dan anak lelaki, bisa bergantian menjadi imam dan bilal. Lantunan ayat suci dan asmaul husna dari mulut bocah pun serasa penyejuk hati kedua orang tua.

Tatap semangat beribadah, meskipun dari rumah. Semua memang butuh proses penyesuaian. Tidak langsung serta merta nyaman dengan kondisi ini. Dan orang tua tidak bisa jika hanya menyuruh tanpa memberi contoh. Jadi, kita dulu yang mencontohkan agar diduplikasi oleh anak-anak.

Selipkan doa, agar musibah segera berlalu. Ibadah juga tak lagi terbelenggu. Pastikan untuk tetap di rumah, agar rantai penyebaran virus bisa segera terputus.

Selamat menikmati hari-hari terakhir Ramadan. Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita. Aamiin.

0Shares

Tinggalkan Balasan