Yang Kedua-part 2

Dika menoleh. Menatap wajahku tajam “ Apa maksudmu?”

Baca dulu Part 1 yuk: Yang Kedua

“Kita akhiri saja semua ini Mas. Aku tidak bisa terus seperti ini.”

Dika menarikku menghadap kepadanya. “Kamu, kan tahu aku tidak bisa mendengar kata-kata itu.”

“Maafkan aku mas … Aku tidak bisa. Terlalu sakit rasa ini Mas.” Jawabku sambil memegang dadaku.

“Kamu meragukanku? Meragukan perasaanku? Kamu kan tahu kalau aku mencintaimu sepenuh hati. Aku juga tahu kamu mencintaiku. Hal Ini sudah berulang kali kita bahas. Apa lagi yang harus diragukan?” Dika bangkit dari duduknya dan berlutut di depanku. Menggengam jemariku dan menciuminya, lalu  dan menatapiku dengan binar bola mata penuh cinta. “Kamulah definisi bahagia aku. Aku sudah bahagia dengan apa yang kita jalani selama ini,Ve.”

“Tapi bahagiamu adalah derita Kei dan Zia. Juga Mbak Laras” sahutku perlahan tapi aku tahu Dika pasti mendengarnya. Terbukti rahangnya mengeras. Tak mempedulikan hal itu, akupun  melanjutkan kata-kataku“ Aku bersalah, mas. Sangat bersalah pada mereka. Kamu mungkin tidak tahu, bagaimana perasaan bersalah itu makin menguat ketika aku memelukmu di malam-malam di mana Kei dan Zia membutuhkanmu. Di saat Mbak Laras membutuhkanmu.”

“Ve … kamu hadir di saat hubunganku dengan Laras sudah tidak membaik. Kamu hadir bukan disaat kami baik-baik saja. Jadi ada kamu atau bukan, hubungan kami sudah memburuk. Kami bertahan sampai dengan hari ini, karena anak-anak. Mereka belum tahu bagaimana kedua orang tuanya sudah tidak bisa bersama. Mungkin ini keegoisanku, karena tidak bisa melihat karir istriku lebih menjulang tinggi dari pada aku. Aku kemudian merasa menjadi tidak ada apa-apanya. Tidak ada kebanggaan untuknya. Tapi aku benar-benar sangat mencintaimu, Ve.”

“Mbak Laras, perempuan yang sangat baik Ma s… Ia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai istri dan ibu bagi kedua anaknya, sekalipun jabatan di kantor sangat dihormati. Mbak Laras masih sempat mengantar Kei dan Zia ke sekolah atau menjemput mereka pulang.”

Butiran bening mulai berjatuhan di pipiku … Aku menghapusnya lembut. “Maafkan aku mas …. Aku tidak bisa melepaskan rasa bersalah ini. Hubungan kita ini salah. Sudah salah sejak awalnya. Kita akhiri saja semua ini mas. Kembalilah kepada Mbak Laras, Kei dan Zia. Mereka lebih membutuhkanmu”

Dika menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahku.

Baca juga: Pelangi Persahabatan

“Aku lebih membutuhkanmu Ve … Jangan tinggalkan aku ….”

Ditariknya aku ke dalam pelukan dada bidangnya. Memelukku erat seakan tidak ada hari esok.

Butiran bening di mataku  makin deras berjatuhan … Ada rasa bersalah yang tak mau pergi. “Maafkan aku Mas …” bisikku lirih.

Risalah asa yang terikat yang membawa sabda rindu

Kumatikan mesin mobil. Kuparkirkan Suzuki Swiftku di depan rumah berlantai dua berwarna hijau telur bebek. Kuambil kaca di tas dan sejenak merapikan penampilanku sebelum akhirnya membuka pintu dan keluar menuju rumah yang bernuasa teduh sejuk itu.

“Permisi …” sapaku sambil mengetuk.

Tak lama kemudian terdengar suara suara yang kurindukan.

“Iya ….”

Pintupun terbuka dan sebentuk wajah mungil milik Zia muncul dari balik pintu. Aku tersenyum lebar.

“Hai cantik.” Aku berjongkok membuka lebar tanganku. Dalam hitungan detik si mungil Zia tenggelam dalam pelukanku.

“Eh Tante ….” suara kencang milik Kei terdengar d itelingaku. Aku tersenyum ke arahnya. Kei tersenyum lebar dan kembali berteriak “Bunda … ada Tante Ve.”

Kei ikut memelukku dan kini dua bocah kesanyanganku berada dalam pelukanku. ”Eh Ve …” suara lembut membuatku mengangkat wajah.

Kulihat mbak Laras berdiri dengan senyum ramahnya. Segera kulepas pelukanku pada dua bocah kesayanganku dan berganti memeluk perempuan yang teramat baik yang telah aku sakiti selama ini.  Dalam pelukannya aku berulangkali membisikkan kata maaf .

Mbak Laras mengusap punggungku lembut. Aku tahu itu tanda, ia memahami apa yang sebenarnya telah terjadi dan hanya dengan hati yang ikhlas luar biasa perempuan cantik di penghujung 40 Tahun itu dapat menerima kehadiranku kembali dengan lapang dada.

Ya aku hadir untuk yang kedua kalinya dalam kehidupan mereka, setelah kulewati malam-malam panjang penuh perjuangan demi menuntaskan segala kegundahan dalam benak dan hati.

Mencoba melepaskan Dika dengan ikhlas bukanlah hal yang mudah. Seringkali butiran bening yang menyesakkan dada berjatuhan. Tak kuhiraukan bujuk rayu Dika  karena yang aku tahu setiap orang memiliki kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Melihat senyum mereka yang mencintai dan menyayangiku adalah sumber kebahagiaan tiada tara.

Setelah tiga bulan keputusanku untuk meninggalkan Dika, aku baru berani kembali bertemu dengan orang-orang tersayang, menuntaskan rasa rindu yang tiada tara, sebelum akhirnya aku pergi menjauh, menjalani kehidupanku. Aku percaya selalu ada kesempatan yang kedua.

Kan kutempuh semua perjalanan tuk pulang ke hatimu…….

)(SANUAZIE)(

Catatan kecil

Kisah dengan judul Yang kedua adalah salah satu kisah dalam buku Antologi  Nubar dengan judul Tegar meniti langkah yang telah diterbitkan oleh Rumedia.

Kisah ini adalah cerita fikis pertama yang ditulis oleh Sabiqis Edogawa dan diterbitkan,  yang ditulis dengan maksud melihat sisi lain dari perempuan kedua yang memiliki perasaan bersalah.

Bagaimana konflik bathin yang dialami oleh Ve sebagai perempuan kedua dalam pernikahan Dika dan Laras. Konflik bathin itu memuncak karena Ve memiliki kedekatan dengan Laras dan kedua anaknya yaitu Kei dan Zia. Bagaimana hubungan Ve dengan mereka sebenarnya? Apakah hubungan Ve dan Dika adalah seorang adik dengan Kakak ipar? Atau kisah antar sepupu? atau antar sahabat?😊 biar jadi rahasia penulis aja ya? hihihi

Yang jelas tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai kehidupan kembali.  Selalu ada kesempatan yang kedua.

0Shares

Tinggalkan Balasan