“Selami makna yang menyapa kalbu … Tuk selaksa relung tertawan rindu ….

Mataku mencari sebentuk wajah, di antara kerumunan remaja tanggung berseragam putih biru di lapangan depan sekolah. Siang itu waktunya pulang sekolah,  tak heran bila hiruk pikuk terjadi di depan sekolah.

Nah itu dia! Mataku terpaku pada satu wajah manis milik Kei.

“Tante …!” teriak remaja berusia 14 tahun yang berlari mendekat dengan tas ransel warna merah muda di punggungnya dan tumbler doraemon di tangan kanannya. Aku tersenyum,  membuka tanganku lebar dan membiarkan Kei masuk ke dalam pelukanku.

Kei memelukku erat. Aku mengelus rambutnya penuh sayang. Betapa rindunya aku pada bocah ini.

“Tante … jahat.” Tiba-tiba suara Kei menyeruak. Aku menatapi wajahnya yang selalu membuatku ingin mencium dan mencubiti dengan penuh rasa gemas.

“Kok Jahat Kei?”

Bola mata Kei berkabut, “Iya jahat. Kenapa Tante pergi dari rumah? Kost di Bogor. Jauh Tante.”

Aku tersenyum.

“Maafkan Tante, Kei. Tante kan pindah kerja, jadi lebih enak kost di dekat kantor Tante.” Aku mengandangnya menuju Suzuki Swift yang kuparkir di seberang Sekolahan.

“Tapi aku kan kangen Tante … di rumah juga sepi. Tante tidak ada.”

Aku tersenyum mengelus rambutnya. Kubantu ia membuka pintu mobil dan kupasangkan seat bealt-nya.

“Kita makan es krim seperti biasa?”

Kei mengangguk sambil berteriak penuh rasa senang. Bola matanya berbinar indah. Kubawa ia menuju restoran langganan kami yang akhir-akhir ini memang tidak kami kunjungi

“Tante,” panggil Kei. Saat itu kami sudah sampai di restoran My dreams Ice yang berada di bilangan Pejanten.

“Ya Kei?” jawabku sambil menatap wajahnya lekat.  Kei menyimpan sesuatu.

“Kei lagi marahan sama Ayah.”

“Lho kenapa Kei?”

“Kei benci sama Ayah, karena ayah sekarang sering pulang malam. Malah sering tidak pulang. Katanya dinas tapi masak hampir setiap minggu!”  Rahang Kei tampak menegang.  Melihat itu, tiba-tiba jantungku berdetak tidak teratur.

“Tante tahu tidak ? Ayah itu beda loh sekarang.”

“Be-beda gimana?” pancingku. Entah mengapa jantungku makin berdetak kencang.

“Ayah tuh, kalau dandan lama sekali. Ganti kemeja terus. Wangi.”

Jantungku tersekat.  Aku mengalihkan pandanganku pada cup es krim. “Kalau wangi dan rapih bukannya bagus Kei. Memangnya Kei mau punya ayah yang bau dan berantakan?”

Kei mendengus, “Menurut feeling Kei, Ayah punya pacar lagi deh. Punya WIL.”

Aku tersedak. Astaga! Kutatap wajah anak SMP di depanku. Dari mana ia dapat pembendaharaan kata itu?

Melihatku tersedak. Kei malah tertawa “Tuh kan Tante pasti tidak percaya ya? Kei tahu Tante …. Ayah pasti punya pacar baru makanya ganjen gitu.” bibir Kei mencibir.

“Jangan begitu Kei. Ayahmu bekerja keras untuk kamu dan adikmu sekolah. Supaya jadi anak pintar. Sudah tidak usah dipikirkan lagi. Kita habiskan es krim ini.  Kei mau nambah lagi ?”

Kei tersenyum “Siap.” sambil tangannya  di dahi menirukan salam hormat Polisi.  Aku tersenyum melihat gayanya yang lucu.

Kupalingkan wajahku sejenak.  Duh Gusti, dadaku terasa sakit!

“Ku rindu … Karna waktu tak kan mampu berpihak pada perasaan yang meragu ….”

Angin berhembus menerpa kulit tubuhku. Melalui jendela kamar, kutatap pekatnya malam. Malam ini bulan bertaburan dengan kerlip bintang-bintang. Menambah keindahan malam ini.

Kuhela napas panjang. Entah untuk yang sekian kalinya. Rasanya tidak mampu menghilangkan wajah-wajah yang silih berganti muncul di benakku menambah kegundahan di hati ini.

Tiba-tiba kurasakan sepasang tangan melingkari pinggangku. Memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Mataku terpejam menikmati hangat yang tercipta.

Baca juga yuk: Pelangi Persahabatan

“Kamu kenapa Ve? Kok diam saja dari tadi.” Dika menarik tubuhku ke dadanya yang bidang.

Aku tersenyum. Tempat ternyaman yang aku miliki.

“Ve?” Lembut suara Dika menyadarkanku.

Aku mengangkat wajahku dan mengelus rahang miliki Dika. Lelaki yang tadi mengejutkanku.

“Kamu kenapa sayang?” tanya Dika sambil mengacak-acak rambutku. Kebiasaan yang tidak aku sukai. Aku menjauhkan wajahku dan menatapnya tajam. Dika menyeringai.

“Ayolah, Sayang cerita sama Mas, kenapa kok, diam saja dari tadi? Kalau aku perhatikan, sudah beberapa hari terakhir, setiap aku ada di sini kau seperti sibuk dengan pikiranmu sendiri.”

“Aku lagi memikirkan Kei.”

“Kei?” Dika menatapku lekat, “Kamu bertemu dengannya?”

Aku mengangguk. “Ya. Aku kangen dia mas.”

Dika tersenyum, “tapi, kenapa kamu jadi diam begini?”

Aku berjalan menuju sofa. Duduk menyandar sambil memejamkan mata. Ada rasa ragu sekaligus ingin berteriak, tapi tidak bisa.

Kurasakan belaian lembut di wajahku. Kubuka kelopak mataku dan  kulihat wajah sabar milik Dika, laki-laki yang meski berusia 45 Tahun namun masih menyisakan ketampanannya. Laki-laki yang hadir menawarkan cinta dan kasih sayang yang tiada tara. Laki-laki yang seharusnya tidak kumiliki.

“Yang terasa sakit dimana?” tanya Dika lembut.

Aku mengambil tangannya dan meletakkannya di dadaku. “Di sini Mas. Sakit sekali.”

Dika menghela nafas panjang. Ia tahu apa yang kumaksud. Tapi tak satupun kata yang bisa keluar dari mulutnya saat ini.

“Kita akhiri saja semua ini Mas.”

Ada apa dengan Ve? bagaimana reaksi Dika? nantikan kisah selanjutnya di part 2 ya ….

Masih ada cerita fiksi menarik lainnya: Pelangi Persahabatan-Part 1

Iklan
0Shares

1 thought on “Yang Kedua

Tinggalkan Balasan