Ramadhan kali ini memang berjarak. Kita harus meminimalkan keluar rumah demi memperpendek jalur penyebaran virus covid-19. Namun, bagi sebagian anak, sanggupkah mereka berpuasa untuk tidak keluar rumah dalam waktu yang hampir dua bulan ini? Inilah yang menjadikan diriku dilematis saat ini.

Fawaz, meski anak semata wayang, namun jiwa sosialnya tinggi. Dia tidak cukup hanya diam di rumah sambil nonton tv, main play station atau main hp. Fawaz lebih sering keluar rumah untuk bersosialisasi dengan teman-temannya di asrama. Bersama teman-teman muslim dia tergabung dalam Forma (Forum Remaja Masjid). Dan bersama teman-teman di asrama dia membentuk grup kolong dan fun bike.

Pandemi yang terjadi saat ini memang membuat sebagian sektor lumpuh. Yang terlihat sangat menyolok adalah sektor ekonomi dan pariwisata. Terlebih Bali yang sudah terkenal sebagai surganya wisata di Indonesia. Ketika corona mewabah, nyaris perekonomian dan pariwisata di Bali mati total. Bali tak lagi seramai dulu. Jalanan di Kuta yang dulunya dipadati para turis kini menjadi sepi. Bahkan beberapa toko terpaksa tutup karena banyaknya karyawan yang di PHK. Hotel-hotel banyak yang dijual dengan harga murah karena minimnya pelanggan. Demikian juga dengan tempat wisata yang ditutup total. Barangkali inilah musibah yang dialami para pebisnis di Bali.

Sepinya jalanan di Bali dimanfaatkan oleh biker untuk bersepeda bersama. Jadi meski turis sudah tak lagi memadati jalanan di Bali, namun para biker itu kian hari makin memadati jalanan. Mungkin itulah cara mereka mengusir kejenuhan selama berdiam diri di rumah. Semoga saja cara mereka tidak menjadikan pasien terdampak covid-19 di Bali makin bertambah. Semoga pula niat mereka bisa membuat imun mereka tetap kuat dan stabil.

gowes

Bersepeda pun kini menjadi kebiasaan Fawaz dan teman-temannya. Kalau tidak sore ya pagi hari setelah shubuh mereka memulai bersepeda mengelilingi kota Denpasar. Tentunya masker adalah kewajiban yang harus mereka pakai sepanjang bersepeda. Karena meski Bali masih ramai oleh masyarakat yang sering keluar rumah, namun penerapan kewajiban memakai masker sudah berlangsung dimana-mana. Bahkan demi mengantisipasi warga yang bandel, beberapa wilayah dijaga ketat oleh pecalang. Jika kedapatan ada warga yang tidak memakai masker, maka yang bersangkutan diharuskan putar balik.

Kalau di kota lain menerapkan PSBB, di Bali menerapkan PKM alias Pembatasan Kegiatan Masyarakat. PKM ini skalanya masih berbasis desa atau keluaran tidak seluas PSBB. Di Bali sendiri penerapan PKM mulai dilaksanakan tanggal 15 Mei 2020, dengan membangun beberapa pos pantau di beberapa titik, khususnya di pintu masuk kota Denpasar pada daerah perbatasan. Dengan penerapan PKM ini, maka aka nada sanksi administratif dan adat berbasis desa atau keluarahan bagi warga yang kedapatan melanggar aturan pemerintah.

Bersyukurnya Fawaz dan teman-teman selalu mengikuti anjuran pemerintah, walau hasrat untuk keluar rumah masih susah dicegah. Bahkan, meski dalam keadaan puasa, sampai detik ini Fawaz masih mampu berpuasa sambil bersepeda dari shubuh hingga menjelang dhuhur.  Mungkin inilah yang menjadi hiburannya.

Saat menjelang sahur, dia membangunkan teman-temannya dengan bersepeda keliling asrama. Setelah selesai sahur dan sholat shubuh, maka ia berangkat bersepeda bersama teman-temannya. Rutenya berganti-ganti. Kadang ke Kuta, Seminyak, Benoa atau Denpasar. Kalau sore hari biasanya setelah adzar Fawaz baru berangkat bersepeda. Pulang menjelang Isya’. Namun sebagai ibu tak henti-hentinya aku mengingatkannya untuk melaksanakan sholat maghrib. Bersyukurnya dia selalu singgah di rumah temannya yang beragama muslim, untuk melaksanakan sholat maghrib. Lega rasanya bila melihat Fawaz selalu terbuka setiap melakukan aktivitasnya.

Demikian juga dengan kegiatan penggalangan dana ketika bulan Ramadhan. Biasanya ada jadwal mengirim takjil ke masjid secara bergiliran. Dengan ditutupnya masjid, otomatis tidak ada lagi jadwal mengirim takjil. Namun dialihkan dengan kegiatan berbagi di jalan. Caranya pihak masjid mengumpulkan sumbangan dari warga muslim di sekitar masjid. Dana yang terkumpul dibelikan paket takjil yang dibagikan sesuai jadwal yang sudah disusun.

Kebetulan Fawaz menjadi salah satu petugas yang membagikan takjil. Ia bertugas bersama beberapa temannya di sekitar Pesanggaran yang letaknya tak jauh dari asrama. Saat seorang teman mengabadikan momen itu dan mengirimkan foto Fawaz lewat whatsapp, ada rasa haru manakala melihat Fawaz yang antusias ikut berbagi. Dengan memakai masker dan sarung tangan, dia dengan telaten membagikan takjil kepada masyarakat yang kebetulan melewati jalan itu.

“Ma, kasihan banget orang-orang yang kulihat tadi. Terutama para sopir gojek. Mereka seneng banget menerima sepaket takjil sambil berkata gini, tak doakan rezeki adek lancar ya…terimakasih ya dek, Alhamdulillah saya bisa makan hari ini”

Kalimat demi kalimat Fawaz yang diucapkannya sepulang dari bagi-bagi takjil cukup menguras emosiku. Pandemi ini telah membuat sebagian orang menderita. Terlebih para ojol harus menelan pil pahit, karena sepi pelanggan. Kalau menjadi driver online ini adalah pekerjaan sampingannya, barangkali tidak menjadi soal karena masih ada pekerjaan lain yang membuatnya berpenghasilan. Namun jika ojol ini adalah pekerjaan utamanya, darimana mereka bisa memenuhi kebutuhannya kalau sepi pelanggan?

“Kapan-kapan kita berbagi kepada para ojol itu yuk ma!”

Demikian lanjut Fawaz.

Subhanallah rasanya bersyukur mempunyai anak yang jiwa sosialnya tinggi. Dari kecil aku memang mengajarkannya untuk berbagi. Meski anak semata wayang, namun aku tak menginginkannya menjadi pribadi yang egois atau pelit berbagi. Aku sering mengajaknya menabung dan menyisihkan uang sakunya untuk disumbangkan kepada yang membutuhkan. Aku juga meyakinkannya bahwa dari seluruh harga yang kita miliki, sekian persennya bukan milik kita, melainkan milik orang lain yang membutuhkannya. Jadi dengan berbagi, inilah cara tepat menyumbangkan sebagian harta di jalan Allah.

Dan aku tidak lagi ragu dengan Fawaz. Meski harus berpindah-pindah tempat demi mengikuti dinas papanya, namun aku yakin Fawaz akan mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dengan mengajarkan anak untuk menebar kebaikan, niscaya anak pun akan memahami bahwa hidup ini akan semakin indah bila kita mampu berbagi. Terlebih di bulan Ramadhan yang penuh rahmat ini. Dengan berbagi akan meringankan beban orang yang membutuhkan. Semoga berbagi ini akan menjadi amalan yang diridhoi Allah dan bernilai sedekah bagi yang ikhlas melakukannya.

0Shares

Tinggalkan Balasan